Memanfaatkan Seni dan Pengetahuan Adat sebagai Instrumen Pengurangan Risiko Bencana
Rumah Gadang di Sumatera Barat.| Foto: Zhilal Darma di Wikimedia Commons.
Kedekatan masyarakat adat dengan alam membuat mereka memahami pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana. Sebagian pengetahuan mereka terwujud dalam bentuk seni, yang mewariskan kearifan dan budaya secara turun temurun, dan juga kepada pihak lain. Lantas, apa yang dapat kita pelajari tentang ketahanan bencana dari seni dan pengetahuan adat?
Masyarakat Adat & Krisis Iklim
Masyarakat adat adalah penjaga alam yang paling utama. Mereka punya seperangkat kepercayaan dan praktik-praktik adat yang lekat dengan tanah, air, tumbuhan, dan hewan di sekitar mereka. Kearifan masyarakat adat membentuk identitas, budaya, spiritualitas, dan kesejahteraan mereka, yang diwariskan lintas generasi.
Pengetahuan ekologi mereka didasarkan pada hubungan timbal balik antara alam dan manusia, yang membentuk pandangan berkelanjutan tentang hubungan antara manusia dan lingkungan. Cara hidup ini menekankan peran vital masyarakat adat dalam pelestarian lingkungan.
Namun, sekitar 77% (370 juta) masyarakat adat terdampak negatif oleh perubahan iklim dan peristiwa cuaca ekstrem. Kedekatan mereka dengan alam menempatkan mereka di garda terdepan krisis, dan mereka menghadapi konsekuensi langsung dari bahaya iklim. Selain itu, masyarakat adat seringkali berada di daerah rawan bencana, dimana layanan darurat sulit dijangkau. Dalam situasi bencana, kerentanan masyarakat adat akan semakin bertambah, karena mereka sudah menghadapi kesulitan ekonomi, kurangnya perlindungan hukum, dan diskriminasi dalam berbagai bentuk.
Seni dan Pengetahuan Adat
Krisis iklim yang semakin meningkat menggarisbawahi urgensi untuk memperkuat dan memperluas upaya mitigasi dan adaptasi yang melibatkan peran masyarakat adat. Salah satu caranya adalah dengan menelaah pengetahuan adat yang ada, termasuk teknologi, arsitektur, cerita, dan seni pertunjukan atau ritual, yang mengandung nilai-nilai mitigasi bencana.
Seni memberi manusia bahasa visual yang menyediakan pengetahuan untuk advokasi isu-isu penting, termasuk soal mitigasi dan adaptasi risiko bencana. Contohnya bisa kita lihat pada kearifan lokal dalam arsitektur Rumah Gadang, rumah adat masyarakat Minangkabau. Desain bagian bawah Rumah Gadang terdiri dari tiang-tiang penyangga untuk meninggikan bangunan, yang membuat rumah lebih tahan terhadap gempa dan mencegah banjir masuk ke dalam rumah.
Dalam cerita, pelajaran soal mitigasi bencana hadir dalam “Inamura no hi“, sebuah cerita di Jepang tentang tsunami besar dan bagaimana orang-orang menyelamatkan diri dengan membakar jerami. Cerita ini diadopsi sebagai bahan bacaan untuk sekolah dasar di Jepang pada tahun 2012. Selain itu, masyarakat di Fiji juga menggunakan narasi lisan untuk menyebarkan informasi tentang peristiwa bencana di masa lalu. Narasi tradisional ini diceritakan dalam lagu (sere) atau tarian (meke).
Peluang dan Tantangan
Pengetahuan adat dalam mitigasi dan adaptasi terhadap krisis menjadi aspek penting yang perlu diintegrasikan ke dalam upaya penanggulangan bencana. Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030 telah mengakui pentingnya pengetahuan masyarakat adat dalam membangun ketahanan bencana, misalnya melalui perluasan wawasan yang ada untuk diadopsi. Pengetahuan adat biasanya memuat sistem pemantauan dan evaluasi yang ketat untuk memastikan keseimbangan lingkungan.
Namun, mengintegrasikan pengetahuan adat ke dalam strategi ketahanan bencana yang ada saat ini bukannya tanpa rintangan. Karakteristik pengetahuan adat yang sifatnya spesifik berlaku untuk wilayah tertentu menyulitkan adopsi dalam skala yang lebih luas dan heterogen.
Kolonialisme juga berkontribusi pada sinisme terhadap pengetahuan adat tentang sistem peringatan dini untuk berbagai bencana, yang menuntut pembuktian ilmiah atas efektivitas pengetahuan tersebut; yang jika tidak, pengetahuan tersebut dianggap tidak dapat dipercaya.
Yang terpenting, partisipasi dari beragam komunitas adat dalam proses pembuatan kebijakan sangat penting untuk memastikan mereka tidak tertinggal dan pengetahuan berharga mereka dapat dimaksimalkan. Mengadopsi kearifan masyarakat adat sebagai panduan bagi pemerintah dalam pengurangan risiko bencana akan menciptakan kemajuan yang bermakna dan inklusif.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja
Mengungkap Potensi Risiko Teknologi di Tengah Krisis Global
Memperkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Menilik Solusi Potensial Pengelolaan Sampah menjadi Metanol (Waste-to-Methanol)
Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru