Menelusuri Dampak Olimpiade terhadap Lingkungan
Foto: Piotr Musioł di Unsplash.
Olahraga merupakan instrumen soft power dalam hubungan internasional modern. Berbagai ajang olahraga dunia seperti Olimpiade mempertemukan para atlet dari beragam latar belakang. Namun, dampak lingkungan dari kompetisi olahraga berskala besar telah lama disorot.
Dampak Lingkungan Olimpiade
Olimpiade Musim Dingin ke-25, atau Olimpiade Milano Cortina 2026, diselenggarakan pada 6–22 Februari, lalu dilanjutkan dengan Paralimpiade pada 6–15 Maret. Sayangnya, ajang olahraga ini membawa konsekuensi bagi ekosistem alami di lokasi pertandingan di Milan dan Cortina d’Ampezzo.
Cortina d’Ampezzo terletak di Pegunungan Alpen Italia dan dikelilingi oleh gugus Pegunungan Dolomites yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Namun, kawasan warisan ini kini tercemar oleh proyek konstruksi yang terus-menerus dan penebangan kayu untuk persiapan Olimpiade. Selain itu, sekitar 84,8 juta kaki kubik air diambil dari sungai dan aliran air Alpen untuk pembuatan salju buatan. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan terhadap ketersediaan air tawar akibat kenaikan suhu serta menurunnya curah hujan dan salju.
Olimpiade Milano Cortina bukanlah Olimpiade pertama yang menuai kritik karena dampak kerusakan ekologis yang ditimbulkan. Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014 juga menyebabkan dampak yang cukup besar melalui pembangunan di dasar Sungai Mzymta, pembuangan cairan beracun, dan eksploitasi sumber daya alam.
Secara umum, menurut laporan Rapid Transition Alliance, emisi karbon dari ajang olahraga global tersebut setara dengan emisi negara berukuran sedang. Meski telah ada upaya untuk mewujudkan keberlanjutan, praktik greenwashing masih kerap terjadi. Sebuah studi menunjukkan bahwa capaian keberlanjutan Olimpiade Musim Panas dan Musim Dingin umumnya tidak sejalan dengan retorika yang disampaikan oleh penyelenggara.
Dampak yang Bersifat Dua Arah
Hubungan antara olahraga dan lingkungan bersifat dua arah. Artinya, ajang olahraga besar dapat menimbulkan masalah lingkungan, dan kerusakan yang ditimbulkan pada gilirannya mengurangi akses terhadap berbagai cabang olahraga.
Perubahan iklim diperkirakan akan berdampak negatif terhadap kapasitas sekitar setengah dari kota-kota yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin. Mencairnya gletser dan memburuknya kondisi salju, misalnya, akan memengaruhi banyak nomor pertandingan musim dingin. Hal ini dapat mendorong negara-negara untuk mengandalkan kemajuan teknologi dalam penyelenggaraan Olimpiade mendatang.
Di luar Olimpiade, cuaca ekstrem juga telah memengaruhi berbagai ajang olahraga lainnya. Pada 2018, penyelenggara turnamen tenis US Open di Amerika Serikat menerapkan kebijakan panas ekstrem untuk membantu atlet menghadapi suhu tinggi. Demikian pula, kebakaran hutan yang terjadi selama Australian Open 2020 di Melbourne memaksa seorang petenis mengundurkan diri karena gangguan pernapasan.
Mendorong Keberlanjutan dalam Penyelenggaraan Olimpiade
Meski penuh tantangan, penyelenggaraan Olimpiade yang lebih berkelanjutan tetap memungkinkan. Olimpiade Milano Cortina 2026 sebenarnya sempat berada di jalur yang tepat dengan menyusun strategi pengelolaan emisi gas rumah kaca. Panitia juga merencanakan sejumlah inisiatif untuk menurunkan jejak karbon, seperti penggunaan energi terbarukan, pembatasan limbah makanan, dan dukungan terhadap ekonomi sirkular. Namun, implementasinya belum seideal yang direncanakan.
Pada akhirnya, Olimpiade memerlukan perbaikan menyeluruh untuk meminimalkan risiko lingkungan dan sosial. Penyelenggara dapat mempertimbangkan pengurangan skala acara agar biaya dan risiko menurun. Acara berskala lebih kecil relatif lebih mudah dikelola, sehingga memungkinkan penggunaan energi hijau dan kerja sama dengan pelaku usaha lokal.
Selain itu, rotasi penyelenggaraan di kota-kota perwakilan tiap benua dapat menjadi cara untuk memanfaatkan kembali infrastruktur yang sudah ada. Jika pembangunan baru tetap diperlukan, penggunaan material daur ulang harus diprioritaskan. Dukungan terhadap penonton digital secara lebih luas, seperti yang dilakukan pada Olimpiade Musim Panas Tokyo 2020, juga dapat menjaga semarak perhelatan dengan perjalanan fisik yang lebih sedikit. Tentunya, pendekatan-pendekatan baru tersebut perlu dikaji secara cermat dengan mempertimbangkan secara utuh dampak lingkungan, sosial-budaya, dan politik dari Olimpiade.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Penguatan Tata Kelola Data Geospasial untuk Mendukung Pembangunan
Mewujudkan Sanitasi Layak dan Berketahanan Iklim
Ancaman Tersembunyi Polusi Ban terhadap Populasi Salmon dan Kehidupan Akuatik
Mengatasi Banjir Jakarta dengan Solusi yang Mengakar
Memahami Keterkaitan antara Krisis Iklim dan Kerja Perawatan
Menilik Potensi Digitalisasi Rantai Nilai Pangan untuk Mendukung Kesejahteraan Petani