Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Foto: U. Storsberg di Unsplash.
Digitalisasi kini semakin memenuhi kehidupan kita. Kita jarang mencetak foto atau membeli kaset fisik; sebagian besar data dan perangkat digital yang kita gunakan sehari-hari tersimpan di cloud. Namun, penyimpanan tersebut tetap membutuhkan infrastruktur fisik, yang dikenal sebagai pusat data (data center). Seiring meningkatnya permintaan, pusat-pusat data ini semakin disorot karena dampak dan risiko yang menyertainya, termasuk dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Pertumbuhan Pesat Pusat Data
Pusat data menopang masyarakat modern dengan menyediakan fondasi dan kapasitas penyimpanan bagi layanan cloud, streaming video, machine learning, serta berbagai infrastruktur digital yang kita gunakan setiap hari. Permintaan akan fasilitas ini meningkat stabil sepanjang dekade 2010-an dan melonjak secara global pada dekade 2020-an, terutama didorong oleh pergeseran menuju aplikasi kecerdasan buatan (AI) dan machine learning.
Pusat data berskala besar mengonsumsi energi dalam jumlah sangat besar. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa pada tahun 2024 pusat data mengonsumsi sekitar 415 terawatt-jam (TWh) listrik, setara dengan 1,5 persen dari total konsumsi listrik global. Pada tahun 2030, kebutuhan listrik ini diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat menjadi sekitar 945 TWh.
Risiko Pencemaran Udara
Dengan tingginya kebutuhan sumber daya, proliferasi pusat data mendapat sorotan terkait dampak lingkungannya. Meskipun porsi energi terbarukan meningkat, batubara masih mendominasi (30%) pasokan listrik global yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pusat data. Di Amerika Serikat, yang menjadi tuan rumah bagi jumlah pusat data terbesar di dunia, lonjakan permintaan ini berpotensi memperlambat transisi menuju energi bersih.
Dampak tersebut semakin sering dikaitkan dengan risiko terhadap kesehatan masyarakat. Sebuah pusat data dapat menyebabkan penurunan kualitas udara yang signifikan sepanjang siklus hidupnya, mulai dari tahap manufaktur hingga operasional. Emisi yang dihasilkan meliputi partikel halus PM2,5, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida, yang semuanya merupakan polutan udara utama yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Sebuah studi oleh para peneliti dari UC Riverside dan Caltech memperkirakan bahwa total polutan scope 1 dan scope 2 dari pusat data di Amerika Serikat dapat menyebabkan sekitar 600.000 kasus gejala asma dan 1.300 kematian dini pada tahun 2028. Polutan ini dilepaskan oleh generator diesel di lokasi dan pembangkit listrik yang memasok energi, yang keduanya merupakan infrastruktur penting untuk menjaga pusat data tetap beroperasi tanpa henti.
Risiko-risiko tersebut secara tidak proporsional berdampak pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah, di mana biaya kesehatan yang harus ditanggung dapat mencapai 200 kali lipat dibandingkan rumah tangga lainnya.
Intensif Air dan Masalah Kebisingan
Selain itu, pusat data menggunakan air dalam jumlah sangat besar untuk sistem pendinginannya. Perkiraan menunjukkan bahwa sebuah pusat data berkapasitas 1 megawatt (MW) dapat mengonsumsi hingga 25,5 juta liter air per tahun hanya untuk pendinginan. Jumlah ini setara dengan kebutuhan air harian sekitar 300.000 orang.
Masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas tersebut telah menyuarakan kekhawatiran mengenai keterbatasan akses terhadap air bersih di rumah tangga mereka serta potensi dampak kesehatan yang menyertainya. Penggunaan air yang masif ini juga terjadi di tengah isu kelangkaan air global. Di Amerika Serikat, Bloomberg News melaporkan bahwa sekitar dua pertiga pusat data baru yang dibangun atau sedang dalam tahap pengembangan sejak 2022 berlokasi di wilayah dengan tingkat tekanan air yang tinggi.
Selain air, isu kebisingan juga menjadi perhatian. Generator dan sistem pendingin yang telah disebutkan sebelumnya berkontribusi terhadap polusi suara, yang pada tingkat tertentu dapat membahayakan pendengaran.
Mengakui dan Mengatasi Persoalan
Mengingat teknologi ini akan terus hadir dalam kehidupan kita, langkah-langkah mitigasi diperlukan untuk meminimalkan dampak negatif pusat data terhadap manusia dan lingkungan. Saat pemerintah di berbagai negara mulai merumuskan regulasi dan kerangka kebijakan terkait penggunaan AI, penting bagi mereka untuk juga mengakui risiko kesehatan publik serta dampak lingkungan yang sudah ada maupun yang berpotensi muncul, sekaligus merinci langkah-langkah konkret untuk mengatasinya.
Selain itu, kesadaran serupa dan komitmen tingkat tinggi juga dibutuhkan dari perusahaan-perusahaan teknologi besar yang membangun dan mengoperasikan pusat data. Mereka harus menilai dampak-dampak tersebut secara berkesinambungan serta mengambil tindakan nyata untuk mengatasinya dengan transparansi kepada publik.
Pada akhirnya, memperbaiki dunia digital yang telah begitu melekat dalam kehidupan manusia hari ini merupakan langkah yang kompleks namun tak terelakkan menuju penggunaan teknologi yang lebih sadar dan bertanggung jawab. Hal ini hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antarpemangku kepentingan, demi kepentingan manusia dan planet Bumi.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Potensi dan Tantangan Biodiversity Credits dalam Penguatan Pembiayaan Keanekaragaman Hayati
Bagaimana Program PLTS 100 GW dapat Mendukung Ketahanan Energi
Kontaminasi PFAS di Amerika Serikat dan Desakan Petani ke Pemerintah
Mengatasi Kemiskinan Waktu di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental
Kemunduran Besar dalam Pencapaian SDGs di Asia Pasifik
Penguatan Tata Kelola Data Geospasial untuk Mendukung Pembangunan