Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Foto: Freepik.
Pendidikan memegang peran besar dalam membentuk cara kita memahami dunia. Di tengah berbagai krisis yang kian meningkat, pembelajaran mengenai lingkungan, perubahan iklim, dan keberlanjutan sejak dini di sekolah menjadi krusial dalam menentukan bagaimana generasi muda merespons tantangan dunia. Lantas, sejauh mana siswa telah mendapatkan pendidikan tentang lingkungan, perubahan iklim, dan keberlanjutan?
Masa Depan Generasi Muda
Sebagian besar masa muda dihabiskan untuk menyiapkan bekal dan membangun masa depan. Namun, krisis iklim yang semakin parah menambah variabel yang tidak diinginkan, dan sedihnya membuat masa depan yang lebih baik menjadi semakin sulit diraih.
Sebuah survei di 10 negara menemukan bahwa 75% responden berusia 16–25 tahun menatap masa depan yang suram. Anak-anak dan generasi muda menanggung, dan akan terus mengalami, beban krisis yang tidak proporsional, sehingga membuat mereka rentan terhadap tekanan dan kecemasan terkait iklim.
Namun, kompleksitas krisis ini dapat diurai, dimulai dari peningkatan kesadaran. Pendidikan merupakan katalis penting untuk membangun pemahaman yang lebih baik mengenai perubahan iklim dan keberlanjutan. Salah satu caranya adalah dengan mengintegrasikan pendidikan perubahan iklim dan topik keberlanjutan ke dalam kurikulum sekolah.
Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan dalam Pendidikan
Mendorong pendidikan perubahan iklim dapat membantu peserta didik memahami dampak perubahan iklim dalam konteks dan komunitas mereka masing-masing, serta mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat diambil untuk menciptakan ketahanan iklim.
Sejumlah negara seperti India dan Inggris, telah mulai memasukkan topik-topik tersebut ke di sekolah-sekolah mereka. Secara global, UNESCO mendukung upaya ini melalui Greening Education Partnerships, yang bertujuan membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk menghadapi perubahan iklim serta mendorong pembangunan berkelanjutan.
Namun, upaya yang lebih cepat dan masif masih sangat dibutuhkan. Dalam pendidikan dasar, sebuah studi UNESCO di 88 negara menemukan bahwa 66% kurikulum kelas 3 dan kelas 6 setidaknya menyebut isu lingkungan, perubahan iklim, dan keberlanjutan satu kali. Namun, fokus spesifik terhadap isu-isu tersebut masih rendah, dengan perubahan iklim menjadi topik yang paling jarang dirujuk. Selain itu, isu lingkungan dan perubahan iklim lebih banyak muncul dalam kurikulum sains dibandingkan ilmu sosial, sementara keberlanjutan umumnya dicantumkan dalam keduanya.
Kondisi serupa juga terjadi di tingkat pendidikan menengah. Sekitar 69% kurikulum kelas 9 di 85 negara tidak memuat rujukan tentang perubahan iklim, dan 66% tidak menyebut keberlanjutan sama sekali. Pembelajaran masih didominasi aspek kognitif, dengan perhatian yang lebih kecil pada pembelajaran sosial-emosional atau yang berorientasi pada aksi. Pengetahuan masyarakat adat dan isu-isu keadilan juga jarang dibahas, padahal keduanya sangat penting dalam upaya penanganan perubahan iklim.
Menumbuhkan Harapan
Ancaman perubahan iklim memang terasa menakutkan. Oleh karena itu, menanamkan kesadaran sekaligus harapan menjadi hal yang esensial bagi anak-anak dan generasi muda, sehingga penting membekali mereka dengan pengetahuan yang memberdayakan agar mampu menghadapi tantangan ini tanpa jatuh ke dalam keputusasaan.
Kolaborasi antara sekolah, pembuat kebijakan, dan lembaga pemerintah menjadi kunci untuk mengarusutamakan isu lingkungan, perubahan iklim, dan keberlanjutan dalam kurikulum pendidikan. Integrasi ini perlu melampaui mata pelajaran sains dan mencakup seluruh bidang studi yang relevan, karena kompleksitas perubahan iklim menuntut pemahaman lintas disiplin. Pada akhirnya, pendidikan keberlanjutan diharapkan dapat menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan masyarakat, baik bagi generasi saat ini maupun generasi mendatang.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia