Risiko Lingkungan dan Geopolitik dalam Pembangunan PLTA Medog
Foto: NASA/GSFC/LaRC/JPL, MISR Team
Pembangkit listrik tenaga air (PLTA), atau hydropower, memanfaatkan aliran air untuk menghasilkan listrik. Sumber energi terbarukan ini telah digunakan sejak zaman kuno. Dahulu, manusia menggunakan kincir air untuk mengubah energi air menjadi tenaga mekanis. Di Tibet, China, proyek PLTA Medog tengah berlangsung. Diklaim sebagai inisiatif hidroelektrik terbesar di dunia, proyek ini membawa dampak besar bagi lingkungan dan komunitas di sekitarnya.
Pembangunan PLTA Medog
PLTA Medog merupakan bagian integral dari Rencana Lima Tahun ke-14 China (2021–2025) serta target netralitas karbon 2060. Sebagai proyek unggulan, pembangunan ini diperkirakan menelan biaya lebih dari USD 120 miliar, dengan perusahaan milik negara memegang hak penuh atas konstruksinya. Dengan kapasitas hingga 60 gigawatt, PLTA Medog diproyeksikan melampaui Bendungan Tiga Ngarai.
Bendungan ini akan dibangun di Sungai Yarlung Tsangpo, di Daerah Otonomi Tibet, China. Lokasinya berada di “tikungan besar” sungai, tempat air jatuh sekitar 2.700 meter melalui sebuah ngarai, yang sangat mendukung pembangunan PLTA.
Risiko Lingkungan
Pada 1985, pemerintah China menetapkan Ngarai Besar Yarlung Tsangpo sebagai cagar alam nasional. Berdasarkan Pasal 32 Peraturan RRC tentang Cagar Alam, tidak diperbolehkan membangun instalasi produksi di zona inti dan zona penyangga kawasan konservasi.
Namun, pembangunan bendungan Medog justru berpotensi melanggar upaya perlindungan tersebut. Proyek ini berisiko merusak ekosistem demi mengejar target net-zero.
Dataran tinggi Tibet sendiri telah mengalami perubahan signifikan sejak 1980-an akibat perubahan iklim. Suhu udara di kawasan ini meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Selain itu, lapisan tanah beku permanen (permafrost) berada di ambang pencairan lebih cepat, terutama akibat aktivitas pengeboran yang menembus lapisan tersebut dan melepaskan metana, gas yang mempercepat pemanasan global.
Selain itu, proyek raksasa ini sangat berisiko karena berada di Zona Suture Indus-Tsangpo yang secara geologis tidak stabil. Wilayah ini aktif secara seismik, sehingga rentan terhadap longsor besar dan gempa bumi. Proses pembangunan bendungan berpotensi memperparah dampak bencana tersebut.
Dampak Berantai
Pembangunan bendungan sebelumnya telah menyebabkan relokasi masyarakat di sekitarnya, seperti pada proyek Bendungan Shuangjiangkou dan Bendungan Gangtuo/Kamtok. Dalam kasus PLTA Medog, komunitas lokal Tibet kemungkinan besar juga akan menghadapi dampak serupa.
Dampak proyek ini tidak hanya terbatas pada Tibet, tetapi juga menjangkau negara-negara tetangga. Sungai Yarlung Tsangpo mengalir ke selatan menuju India dan Bangladesh, berubah nama menjadi Sungai Siang atau Sungai Brahmaputra, dan Sungai Jamuna.
Posisi geografis China menjadikannya negara hulu yang memiliki kendali atas sumber daya air lintas batas tersebut. Praktik “hegemoni hidro” ini berpotensi menimbulkan ketegangan dalam hubungan internasional.
Masyarakat di wilayah hilir, khususnya di India dan Bangladesh, berisiko mengalami gangguan pasokan air. Dampaknya dapat meluas hingga kelangkaan pangan akibat berkurangnya sumber daya yang dibutuhkan untuk pertanian.
Mewujudkan Tata Kelola Air Lintas Batas yang Lebih Baik
Meskipun menjadi sumber air utama, keterlibatan China dalam tata kelola air global masih terbatas. Sebagai contoh, pemerintah China belum meratifikasi Konvensi PBB tentang Aliran Air Internasional 1997. Dengan posisi kekuatannya, penting untuk mendorong agar pengelolaan air China mempertimbangkan kepentingan negara-negara hilir.
Kompleksitas ini menuntut pendekatan diplomasi dan kerja sama yang lebih kuat. Perjanjian berbagi air serta kerangka kolaboratif menjadi sangat penting untuk mengelola sumber daya air lintas batas. Dengan tujuan bersama dalam mewujudkan pengelolaan air yang berkelanjutan, China dan negara-negara hilir perlu menyusun kesepakatan tingkat kawasan sungai serta melakukan pemantauan ekosistem secara bersama.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Ketimpangan Jaminan Kesehatan pada Balita yang Terus Berlanjut
Empat Hal yang Kita Butuhkan untuk Meregenerasi Bumi: Pelajaran dari Climate Capital karya Tom Chi
Bagaimana Australia dapat Membantu Mencegah Terulangnya Krisis Kebakaran di Indonesia
Bagaimana Deforestasi di Indonesia Semakin Parah
Ketimpangan Gender dalam Sektor Air di Tengah Krisis Air Dunia
Menjaga Komunikasi Publik di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental