Empat Potensi Krisis yang Perlu Diantisipasi selama El Niño Godzilla
Foto: Devi Puspita Amartha Yahya di Unsplash.
Keseimbangan kehidupan di Bumi sangat ditentukan oleh dinamika alam dan perubahan yang menyertainya. Bencana hingga krisis yang berkaitan dengan kondisi alam akan muncul ketika terjadi fenomena yang tidak biasa, seperti El Niño. Saat laju perubahan iklim semakin tak terbendung, fenomena peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis ini akan semakin memburuk dan sulit diprediksi. Pada awal 2026, ada alarm terkait kemunculan El Niño Godzilla, yang kekuatannya jauh lebih besar dari El Niño pada umumnya.
Mengenal El Niño Godzilla
El Niño Godzilla merupakan istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan El Niño yang jauh lebih kuat. El Niño sendiri adalah fase hangat dari sistem El Niño–Southern Oscillation (ENSO), yakni fenomena iklim yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur antara 1,5 hingga 2 derajat celcius, yang mengganggu pola angin, awan, dan curah hujan di berbagai belahan dunia.
Secara ilmiah, fenomena ini ditandai dengan melemahnya angin pasat secara drastis, yang menyebabkan massa air hangat dari Pasifik Barat bergeser ke arah Timur. Dalam kondisi ini, wilayah Indonesia umumnya mengalami penurunan curah hujan karena pusat pembentukan awan hujan bergeser ke tengah Pasifik, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan musim kemarau yang lebih panjang.
Pada tahun 2026, ancaman fenomena ini di Indonesia menjadi perhatian serius setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering dan panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya. BMKG dan BRIN memproyeksikan transisi dari fase netral menuju El Niño Godzilla mulai berlangsung pada April, yang diperkirakan akan memicu penurunan curah hujan secara drastis di wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, dengan puncak yang berlangsung antara Juni hingga September.
Potensi Krisis
Kemunculan El Niño pada 2026 membawa konsekuensi serius bagi stabilitas biofisik dan sosial-ekonomi di wilayah tropis. Karakteristik utamanya yang melibatkan lonjakan suhu permukaan laut dan memicu pergeseran pada sirkulasi atmosfer, akan “mengunci” kelembapan di wilayah Pasifik Timur dan menyebabkan kondisi kekeringan ekstrem. Berdasarkan data historis dan model prediktif, intensitas ekstrem ini tidak hanya berdampak pada cuaca harian, tetapi juga menciptakan efek domino terhadap berbagai sektor vital yang saling terkait.
Lantas, apa saja potensi krisis yang perlu diantisipasi dari fenomena ini?
- Krisis Pertanian dan Kerawanan Pangan
El Niño Godzilla dapat menurunkan curah hujan secara drastis, sehingga mengganggu musim tanam dan mengurangi produktivitas pertanian, terutama untuk komoditas yang sangat bergantung pada pasokan air. Kekeringan berkepanjangan juga akan menyebabkan gagal panen di berbagai wilayah, serta meningkatkan kerentanan petani yang bergantung pada pola musim yang stabil. Krisis ini berpotensi memicu lonjakan harga pangan domestik yang membebani daya beli masyarakat.
Tidak hanya agronomi, sektor perikanan juga terancam karena perubahan suhu laut yang ekstrem mengganggu ekosistem laut dan migrasi ikan pelagis. Fenomena pemutihan karang massal akibat suhu air yang terlalu panas dapat merusak habitat perkembangbiakan ikan, yang dalam jangka panjang akan menurunkan hasil tangkapan nelayan lokal.
Kendala produksi ini selanjutnya akan mengganggu pasokan pangan nasional, yang dapat mendorong kenaikan harga bahan pokok dan meningkatkan risiko inflasi pangan. Dalam skenario ekstrem, kondisi ini berpotensi memperburuk kerawanan pangan, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang paling terdampak oleh fluktuasi harga.
- Krisis Air Bersih dan Sanitasi
Kekeringan ekstrem selama masa El Niño Godzilla berpotensi menyebabkan penyusutan debit air, termasuk di sumber-sumber air utama seperti sungai, waduk, bendungan, dan sumber air tanah secara masif. Ketika pasokan air permukaan berkurang, konsentrasi polutan dalam air yang tersisa akan cenderung meningkat, sehingga menurunkan kualitas air yang tersedia untuk dikonsumsi. Wilayah yang selama ini bergantung pada hujan musiman akan menghadapi tekanan serius dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk rumah tangga maupun sektor ekonomi.
Selain mengancam kebutuhan domestik, penurunan muka air tanah yang ekstrem juga akan mengganggu operasional industri dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yang akan mengganggu ketersediaan energi. Saat suplai air semakin terbatas, distribusi yang tidak merata akan memperdalam ketimpangan akses air bersih.
Dampak lanjutan dari krisis air ini akan sangat terasa pada kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas dan ketersediaan air bersih meningkatkan risiko penyakit berbasis air seperti diare, infeksi saluran pencernaan, hingga penyakit kulit, terutama di wilayah dengan sanitasi yang terbatas atau tidak memadai. Dalam kondisi kekeringan, praktik higienitas seperti mencuci tangan menjadi akan semakin sulit dilakukan, sehingga memperbesar potensi penyebaran penyakit menular. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil akan menghadapi risiko yang lebih tinggi, termasuk dehidrasi dan malnutrisi akibat terganggunya konsumsi air bersih dan pangan
- Krisis Kebakaran Hutan dan Lahan
Intensitas panas yang ekstrem dari fenomena El Niño Godzilla akan menciptakan kondisi “kotak korek api” di lahan gambut dan hutan-hutan primer. Kelembapan tanah yang hilang membuat vegetasi menjadi sangat mudah terbakar, yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) skala besar. Lantas, karhutla akan melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif ke atmosfer, yang akan memperburuk siklus pemanasan global.
Selain kerugian biodiversitas, kabut asap akan mengancam kesehatan masyarakat. Partikulat halus (PM2.5) dari asap kebakaran hutan dapat menempuh jarak ratusan kilometer, menyebabkan lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan mengganggu aktivitas ekonomi serta transportasi udara lintas negara.
- Guncangan Ekonomi
El Niño Godzilla juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi akibat penurunan output di sektor pertanian dan energi. Biaya yang harus dikeluarkan untuk mitigasi bencana, bantuan sosial pangan, dan impor komoditas darurat akan membebani anggaran negara. Sementara di tingkat mikro, krisis ini akan memperlebar jurang kesenjangan karena kelompok masyarakat rentan akan menjadi pihak yang paling terdampak secara ekonomi.
Memperkuat Antisipasi
Mengantisipasi ancaman El Niño Godzilla adalah sebuah keharusan untuk menjamin kelangsungan hidup dan stabilitas di tengah ketidakpastian iklim. Belajar dari pengalaman tahun 1997 dan 2015, di mana Indonesia kehilangan jutaan hektare lahan akibat kebakaran dan mengalami kontraksi ekonomi yang signifikan, penguatan sistem peringatan dini serta diversifikasi sumber daya air harus menjadi prioritas kolektif. Indonesia juga perlu belajar dari krisis masa lalu di banyak tempat, seperti kerawanan pangan kronis yang dialami negara-negara di Tanduk Afrika atau gangguan pasokan energi di Amerika Selatan akibat kekeringan, untuk menghindari siklus reaktif yang mahal dan mematikan. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan berbasis data ilmiah dan kesadaran adaptif masyarakat adalah kunci untuk mengatasi potensi bencana dan membentuk ketahanan yang tangguh.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Dari Dukungan Mental hingga Hubungan Romantis: Memahami Fenomena Maraknya Penggunaan Pendamping AI
Ketimpangan Jaminan Kesehatan pada Balita yang Terus Berlanjut
Risiko Lingkungan dan Geopolitik dalam Pembangunan PLTA Medog
Empat Hal yang Kita Butuhkan untuk Meregenerasi Bumi: Pelajaran dari Climate Capital karya Tom Chi
Bagaimana Australia dapat Membantu Mencegah Terulangnya Krisis Kebakaran di Indonesia
Bagaimana Deforestasi di Indonesia Semakin Parah