Merenungkan Dampak Eksplorasi Antariksa
Foto: NASA di Unsplash.
Tahun 1957 menandai dimulainya eksplorasi antariksa, ketika Uni Soviet meluncurkan satelit buatan pertama, Sputnik, ke orbit Bumi. Di tengah Perang Dingin, Amerika Serikat sebagai pihak lawan tertantang untuk mengembangkan teknologi antariksa guna menunjukkan kekuatan dalam keamanan nasional.
Amerika Serikat akhirnya mengirim astronot ke Bulan pada 1969 melalui misi Apollo 11, setelah serangkaian perlombaan antariksa antara kedua negara. Puluhan tahun kemudian, pada April 2026, NASA meluncurkan misi saudara Apollo, Artemis II, untuk melakukan penerbangan lintas Bulan. Selama bertahun-tahun, rekayasa antariksa terus berkembang dan kini mencapai tingkat kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dampak Positif Eksplorasi Antariksa
Perjalanan antariksa awal tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memicu berbagai kemajuan teknologi. Setelah diluncurkan, Sputnik 1 memberikan wawasan penting tentang atmosfer Bumi. Lima tahun setelahnya, Telstar 1 menjadi satelit pertama yang mentransmisikan data lintas Atlantik untuk siaran televisi. Seiring waktu, infrastruktur antariksa menjadi semakin krusial, terutama ketika dunia semakin bergantung pada transaksi dan komunikasi digital.
Selain itu, satelit berperan penting dalam mengumpulkan data untuk prakiraan cuaca, yang kemudian digunakan untuk memantau perubahan iklim, membangun sistem manajemen bencana, dan meningkatkan produktivitas pertanian. Teknologi pencitraan hiperspektral dan optik bahkan memungkinkan deteksi dini hama, yang berpotensi menyelamatkan hingga 0,8 miliar ton hasil panen setiap tahun.
Eksplorasi antariksa juga mendorong terobosan dalam bidang astrobiologi—ilmu yang mempelajari asal-usul, evolusi, dan distribusi kehidupan di alam semesta. Berbagai misi telah dilakukan untuk memahami kosmos dengan lebih baik. Misalnya, NASA mengirim wahana Europa Clipper pada 2024 untuk menjelajahi Europa, salah satu bulan Jupiter, guna mencari tanda-tanda kehidupan di luar Bumi. Europa diketahui memiliki air cair di bawah permukaannya, salah satu komponen penting bagi kehidupan.
Selain itu, eksplorasi antariksa memungkinkan para ilmuwan mempelajari bagaimana organisme model, seperti bakteri Salmonella yang dikirim ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), mempengaruhi tingkat virulensi bakteri. Temuan ini dapat digunakan untuk meningkatkan penilaian risiko dan strategi penanggulangan penyakit. Organisme mikro seperti tardigrada, hewan kecil yang sangat tahan terhadap kondisi ekstrem, juga telah dikirim ke luar angkasa. Memahami ketahanan mereka terhadap radiasi ekstrem dapat membuka peluang penemuan medis, termasuk potensi kemajuan dalam penelitian kanker dan penyakit kardiovaskular.
Ongkos yang Mahal
Perjalanan ke luar angkasa bukannya tanpa biaya. Eksplorasi antariksa pada dasarnya berbahaya. Bahkan dengan persiapan maksimal pun, nyawa tetap melayang dalam proses peluncuran, masuk kembali ke atmosfer, atau pengujian. Pada 1986, pesawat ulang-alik Challenger meledak sesaat setelah peluncuran, menewaskan ketujuh awak di dalamnya. Pada 2003, pesawat ulang-alik Columbia hancur saat memasuki kembali atmosfer, juga menewaskan tujuh astronot di dalamnya. Program antariksa Soviet seperti Soyuz 1 dan Soyuz 11 juga mengalami kecelakaan fatal.
Eksplorasi antariksa juga menuai kritik terkait biaya finansialnya. Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa mendanai perjalanan ke luar angkasa ketika biaya hidup di Bumi meningkat dan jumlah tunawisma bertambah?
Selain itu, privatisasi perjalanan antariksa melahirkan model bisnis wisata luar angkasa, sekaligus memperumit dampak lingkungannya. Penelitian menunjukkan bahwa dampak pemanasan global dari penerbangan antariksa berawak dapat mencapai lebih dari 1.500 kg CO₂ per jam. Dengan semakin mudahnya akses wisata luar angkasa, jejak karbon yang dihasilkan pun meningkat drastis. Ironisnya, masyarakat yang tidak pernah mampu menikmati aktivitas mahal seperti itu justru harus menanggung dampak iklimnya.
Kebutuhan Akan Keseimbangan
Eksplorasi antariksa sering memunculkan antusiasme dan harapan, karena membuka peluang penemuan ilmiah baru. Namun, diperlukan tata kelola antariksa yang berkelanjutan untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada maupun yang akan muncul.
Diplomasi antariksa internasional masih banyak bergantung pada perjanjian era 1960-an, sementara teknologi telah berkembang pesat. Komisi Eropa mencoba menjawab tantangan ini melalui peluncuran European Union Space Act pada 2025, yang bertujuan untuk memastikan keselamatan, ketahanan, dan keberlanjutan lingkungan dalam sektor antariksa, baik untuk aktor publik maupun swasta. Inisiatif semacam ini dapat menjadi acuan bagi negara-negara yang ingin mengembangkan infrastruktur antariksa mereka.
Selain itu, Center for Strategic and International Studies (CSIS) menekankan pentingnya sistem koordinasi lalu lintas antariksa global, termasuk aturan bersama untuk mengurangi risiko kecelakaan. Berbagi data ini juga dapat menjadi dasar dalam menetapkan standar mitigasi puing antariksa, mengingat semakin banyaknya satelit di orbit Bumi.
Pada akhirnya, pengelolaan ruang angkasa harus menjadi kerja kolektif antarnegara dan lembaga internasional. Diskusi juga perlu melibatkan komunitas marjinal yang berpotensi menanggung dampak lingkungan dari eksplorasi antariksa.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Dina is a Reporter & Research Assistant at Green Network Asia. She is a Law graduate from Gadjah Mada University with a passion for community engagement. She has particular interests in labor, the study on gender and social class, and journalism.

Memperkuat Regulasi untuk Hapus Diskriminasi dalam Rekrutmen Tenaga Kerja
Dugaan Pelanggaran HAM dalam Proyek Panas Bumi di Dieng dan Tandikat-Singgalang
Langkah F1 dalam Memenuhi Komitmen Nol Emisi 2030
Empat Potensi Krisis yang Perlu Diantisipasi selama El Niño Godzilla
Dari Dukungan Mental hingga Hubungan Romantis: Memahami Fenomena Maraknya Penggunaan Pendamping AI
Ketimpangan Jaminan Kesehatan pada Balita yang Terus Berlanjut