Pentingnya Pendekatan One Health dalam Konservasi
Foto: Charles Puaud di Unsplash.
Perilaku manusia memengaruhi alam, sebagaimana alam juga memengaruhi kesejahteraan kita. Di tengah konsumsi berlebihan dan tekanan yang terus meningkat yang membuat manusia dan satwa liar hidup semakin berdekatan, kedekatan yang tak terkelola ini dapat memicu masalah kesehatan publik, konservasi, dan berbagai aspek lain dalam keterhubungan tersebut secara bersamaan. Dalam situasi demikian, pendekatan One Health dalam konservasi dapat menawarkan solusi potensial.
Kemunculan Penyakit Menular
Keanekaragaman hayati dan kesehatan publik semakin saling terkait seiring meningkatnya ancaman penyakit menular. Pada Mei 2026, klaster infeksi Hantavirus di sebuah kapal pesiar Belanda telah merenggut tiga nyawa hingga 13 Mei, sementara luas penyebarannya masih terus ditelusuri. Virus ini berasal dari hewan pengerat dan dapat menginfeksi manusia yang bersentuhan dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi.
Hantavirus merupakan salah satu contoh penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Contoh lain meliputi infeksi salmonella, rabies, Ebola, hingga COVID-19—yang virus SARS-CoV-2-nya diduga kuat menyebar dari kelelawar ke manusia. Para peneliti mencatat bahwa sekitar 60% penyakit menular baru saat ini bersifat zoonotik, dengan sebagian besar berasal dari satwa liar.
Apa yang menyebabkan tingginya prevalensi ini? Salah satunya, manusia kini jauh lebih sering bersentuhan dengan hewan dibanding sebelumnya. Alih fungsi lahan besar-besaran untuk pertanian, perkebunan, dan pembangunan lain yang merambah habitat satwa liar telah meningkatkan kontak antara manusia dan satwa liar, sehingga memperbesar risiko limpahan (spillover) penyakit menular baru.
Faktor penting lainnya adalah hilangnya keanekaragaman hayati yang berkaitan erat dengan meningkatnya virus zoonotik yang dibawa satwa liar. Studi yang dipimpin oleh Johnson (2020), yang menganalisis berbagai literatur ilmiah mengenai virus zoonotik, menunjukkan bahwa spesies satwa liar yang populasinya menurun akibat perburuan dan perdagangan memiliki lebih dari dua kali lipat jumlah virus zoonotik dibanding spesies terancam lain yang menurun karena faktor berbeda. Sementara itu, spesies terancam yang populasinya merosot akibat memburuknya kualitas habitat diperkirakan membawa hampir dua kali lebih banyak virus zoonotik dibanding yang lain.
One Health dalam Konservasi
Hubungan erat antara kesehatan hewan, lingkungan, dan manusia menunjukkan pentingnya penerapan pendekatan One Health dalam konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan satwa liar.
Pendekatan ini secara tegas mengakui keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan ekosistem secara lebih luas, serta berupaya menyeimbangkan dan meningkatkan kesehatan semuanya secara bersamaan. Karena mencakup banyak aspek, One Health mendorong kolaborasi lintas sektor antara ahli kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan untuk mengatasi masalah kesehatan publik, ketahanan pangan, pengelolaan satwa liar, dan berbagai isu lainnya.
Salah satu contohnya adalah pengawasan kesehatan satwa liar. Di Kamboja, misalnya, Wildlife Conservation Society menjalankan jaringan pemantauan untuk melaporkan penyakit pada satwa liar dan mendeteksi tanda-tanda awal penyakit berbahaya. Setelah laporan diterima—biasanya disampaikan oleh para penjaga hutan terlatih di lapangan—dukungan teknis akan dikerahkan dalam bentuk investigasi, pengujian laboratorium terhadap sampel, dan analisis data.
Sementara itu, menurut World Wildlife Fund (WWF), penerapan One Health dalam konservasi juga dapat mencakup upaya membangun ekosistem yang seimbang dan sehat di wilayah dengan interaksi tinggi antara satwa liar, ternak, dan manusia. Karena semuanya berbagi sumber daya dan ruang hidup yang sama, kesehatan satu pihak akan lebih mudah memengaruhi kesehatan pihak lainnya.
Mendorong Cara Pandang Baru
Namun, meskipun pada prinsipnya One Health tidak menempatkan satu aspek di atas yang lain, studi yang dipimpin Stephen (2023) mencatat bahwa praktik pendekatan ini selama ini cenderung berpusat pada manusia. Memang penting mengelola kesehatan hewan demi mencegah penyakit yang dapat menular ke manusia. Akan tetapi, pendekatan yang benar-benar holistik juga berarti melindungi hak satwa liar untuk hidup sehat dan sejahtera sebagai sebuah populasi. Hanya dengan begitu One Health dapat membantu mewujudkan kesehatan kolektif manusia dan planet ini.
Karena itu, sudah saatnya mendorong cara pandang baru dalam penerapan pendekatan One Health dengan menempatkan prinsip bahwa “tidak ada spesies maupun generasi yang boleh terhalang mencapai kondisi kesehatan yang baik akibat tindakan untuk melindungi spesies atau generasi lain.” Dalam konteks ini, Goulet dkk. (2024) mengusulkan bahwa penerapan One Health yang lebih masuk akal membutuhkan kerangka kerja yang mampu menetapkan standar kesehatan satwa liar secara rinci dengan mempertimbangkan keragaman kategori satwa.
Aspek lain yang perlu ditekankan adalah keterlibatan masyarakat adat dan komunitas lokal, yang praktik konservasi dan pengetahuannya sangat penting dalam memahami alam. Mereka hidup berdampingan dengan satwa liar dan memperoleh manfaat langsung dari ekosistem yang sehat. Karena itu, keterlibatan mereka bersifat sentral dan harus memberi ruang bagi mereka untuk menjaga kesejahteraan, warisan, dan kebudayaannya sendiri.
Implementasi yang Sungguh-sungguh
Kita berbagi kehidupan di Bumi dengan hewan, tumbuhan, dan berbagai makhluk hidup lainnya. Karena itu, upaya menjaga lingkungan tetap sehat pada dasarnya merupakan bagian besar dari cara kita melindungi kesejahteraan kita sendiri.
One Health menawarkan pendekatan terintegrasi untuk mewujudkan hal tersebut, tetapi implementasinya harus melampaui aspek-aspek yang berpusat pada manusia dan turut mencakup hak serta kesejahteraan hewan dan alam. Oleh sebab itu, kolaborasi yang kuat antara para aktor di bidang kesehatan, konservasi, lingkungan, dan berbagai sektor terkait menjadi inti dari penerapan yang efektif dan berkelanjutan. Dukungan kebijakan yang komprehensif dan pendanaan yang memadai juga penting untuk memungkinkan berkembangnya pendekatan yang benar-benar holistik dalam menjaga kesehatan bersama, baik hari ini maupun di masa mendatang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Bagaimana Perubahan Iklim Mengubah Peta Pangan Dunia
Bagaimana Energi Terbarukan Terdesentralisasi Mendukung Sektor Pertanian di Gambia
Mengulik Kontribusi Pekerja Rumah Tangga bagi Ekonomi Negara Berkembang
Mewujudkan Sistem Transportasi Inklusif untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Yang Dibutuhkan untuk Mengarusutamakan Praktik Keberlanjutan di UMKM
Kerindangan sebagai Jalan Keadilan Iklim: Mengapa Jakarta Harus Menanam Banyak Pohon