Paradoks Konservasi dan Ledakan Populasi Koala di Australia Selatan
Foto: Jordan Whitt di Unsplash.
Dunia satwa begitu beragam. Oleh sebab itu, tidak ada satu pendekatan konservasi yang bisa diterapkan untuk semua spesies secara seragam. Ada kalanya muncul situasi yang begitu unik hingga membuat upaya konservasi menjadi jauh lebih rumit. Satu contoh datang dari sebuah wilayah di Australia, dimana koala—hewan yang secara global berstatus terancam punah—justru memiliki kepadatan populasi yang sangat tinggi.
Mengatasi persoalan ledakan populasi koala di Australia Selatan membutuhkan strategi konservasi yang manusiawi, terarah, dan efektif dari segi biaya.
Status Terkini Koala
Saat ini, koala tercatat sebagai spesies “Terancam Punah” (Endangered) berdasarkan Commonwealth Environment Protection and Biodiversity Conservation Act serta berstatus “Rentan” (Vulnerable) menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Namun, klasifikasi tersebut merefleksikan kondisi populasi koala secara global dan di Australia bagian timur; sementara koala di Australia Selatan tidak memiliki status konservasi khusus. Hal ini terutama karena jumlah populasinya di wilayah tersebut telah tumbuh melampaui tingkat yang berkelanjutan.
Penelitian menunjukkan bahwa persebaran koala dipengaruhi oleh kombinasi curah hujan dan suhu. Koala tidak beradaptasi dengan baik terhadap kondisi iklim ekstrem. Oleh karena itu, keberadaan habitat yang sesuai menjadi faktor penting bagi kelangsungan hidup mereka. Pada musim panas, curah hujan yang lebih tinggi dapat meningkatkan kualitas habitat dengan mengurangi dampak suhu yang meningkat serta risiko kebakaran. Salah satu wilayah yang memenuhi kondisi tersebut adalah Pegunungan Mount Lofty di Australia Selatan. Kawasan ini diperkirakan menjadi habitat bagi sekitar 22.000 hingga 26.000 koala—setara dengan sekitar 10% dari total populasi koala Australia.
Namun demikian, pemerintah Australia Selatan menetapkan kepadatan maksimum yang berkelanjutan berada pada kisaran 70 koala per kilometer persegi. Artinya, tingkat populasi yang ada saat ini di Australia Selatan telah melampaui ambang tersebut. Di samping itu, pemodelan populasi menunjukkan jumlah koala di Australia Selatan masih berpotensi meningkat sekitar 17–25% dalam 25 tahun mendatang.
Ledakan Populasi Koala di Australia Selatan
Koala memiliki sejarah konservasi yang kompleks, dibentuk oleh perpaduan faktor biologis dan dinamika sosial-politik. Karena kepadatan lokal yang sangat tinggi, marsupial ini dapat mengubah struktur dan komposisi vegetasi secara signifikan melalui tekanan penggembalaan yang intens untuk memenuhi kebutuhan pakan mereka.
Meski pengendalian populasi penting secara ekologis, tindakan pemusnahan hampir mustahil diterapkan karena mendapat penolakan kuat dari publik. Karena itu, alih-alih melakukan eliminasi, strategi konservasi untuk menangani kelebihan populasi koala di Australia Selatan lebih diarahkan pada pencegahan degradasi lingkungan lebih lanjut sekaligus mendorong pemulihan ekosistem.
Meskipun mahal dan sering memicu perdebatan, pengendalian fertilitas buatan saat ini menjadi salah satu alternatif paling memungkinkan untuk mengelola persoalan tersebut. Dalam praktiknya, tenaga medis hewan menargetkan koala betina untuk menjalani sterilisasi. Prosedur dilakukan tanpa operasi melalui pemasangan implan hormon subkutan yang bersifat reversibel. Dengan pendekatan ini, kemampuan reproduksi masih dapat dipulihkan apabila dinamika populasi di masa depan berubah.
Berbagi Pengetahuan dan Partisipasi Multipihak
Situasi unik koala di Australia Selatan membutuhkan penelitian lebih lanjut dan pemantauan yang berkelanjutan. Perubahan iklim berpotensi memengaruhi habitat koala di seluruh benua Australia dan pada akhirnya mengubah komposisi populasi spesies ini. Karena itu, dukungan terhadap riset mengenai strategi konservasi yang mencakup adaptasi ekosistem sekaligus pengelolaan kelebihan populasi menjadi sangat penting.
Selain itu, peran masyarakat adat dan komunitas lokal dalam konservasi koala tidak boleh diabaikan, terutama dalam pemantauan jangka panjang dan pengelolaan lingkungan. Perspektif masyarakat adat semakin mendapat pengakuan dalam upaya konservasi koala di berbagai wilayah Australia, khususnya di Queensland, New South Wales, dan Australian Capital Territory, tempat populasi koala mengalami penurunan akibat kebakaran hutan dan hilangnya habitat.
Namun, keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan populasi koala yang berlebih—terutama di Australia Selatan—masih relatif terbatas dan membuka ruang yang besar untuk eksplorasi serta pertukaran pengetahuan.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Jalan Terjal Petani Kendeng Melawan Penambangan Karst
Fenomena Green Burnout di Kalangan Pekerja Sustainability dan Aktivis Iklim
Akankah Kita Menjadi Kekuatan Positif bagi Pemulihan Bumi?
Menguatnya Sinyal Peringatan Perubahan Iklim
Peran Penting Kayu Mati bagi Lingkungan dan Ancaman Penyusutan Akibat Aktivitas Manusia
Ketidakadilan Pembiayaan Iklim: Bagaimana Perubahan Iklim Menguras Negara-Negara Berkembang