Dari Gelombang Panas Eropa hingga Banjir Himalaya: Bagaimana Risiko Iklim Bersifat Lintas Batas
Foto: Suhali Vyas di Pexels.
Belakangan ini, es krim meleleh terlalu cepat, dan ada faktor di baliknya. Suhu dan kelembapan di sekitar umumnya memengaruhi hal tersebut. Iklim yang semakin panas mencairkan “es krim” raksasa Bumi, yakni gletser. Fenomena ini merupakan salah satu tanda pemanasan global yang paling nyata. Dalam hal ini, kesadaran ekologis—yakni kesadaran akan konsekuensi dari tindakan kita sehari-hari serta dampaknya terhadap lingkungan dan masa depan kita—menjadi sangat penting. Seiring krisis iklim semakin mengancam, risiko iklim yang melampaui jarak geografis semakin menjadi persoalan yang tidak bisa kita abaikan.
Panas Ekstrem Melanda Seluruh Penjuru Bumi
Suhu global terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Seiring berlanjutnya perubahan iklim, dampaknya pun semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Salah satu tanda yang paling jelas adalah gelombang panas yang semakin tinggi suhunya dan berlangsung semakin lama.
Pada 2026, panas ekstrem melanda Eropa. Juni 2026 dipastikan menjadi bulan Juni terpanas kedua yang pernah tercatat, setelah Juni 2024. “Eropa adalah benua yang memanas paling cepat di Bumi, dengan laju pemanasan dua kali lipat rata-rata global,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Bukan hanya es krim yang mencair terlalu cepat, hampir setiap aspek kehidupan terdampak suhu ekstrem tersebut. Konsekuensinya beragam, mulai dari penutupan sekolah, rel trem yang meleleh, hingga jaringan listrik yang mengalami gangguan dan jatuhnya korban jiwa.
Terlepas bahwa Eropa menjadi pusat perhatian kali ini, kejadian panas ekstrem telah meningkat dalam frekuensi dan intensitas di berbagai penjuru dunia. Lebih dari itu, risiko iklim yang ditimbulkan melampaui jarak dan batas negara.
Melelehnya Gletser
Di belahan lain planet ini, bencana melanda. Agustus 2026 menjadi bulan penuh bencana bagi Nepal dan Tibet ketika banjir bandang menerjang. Banjir menghanyutkan permukiman di Distrik Rasuwa dan Nuwakot, Nepal hingga Mansarovar di Tibet. Jumlah korban jiwa akibat bencana ini mencapai 1.428 orang. Lebih dari 5.649 orang dilaporkan hilang, termasuk sekitar 800 warga negara asing yang sedang berkunjung sebagai wisatawan atau peziarah. Koridor perbatasan penting antara Nepal dan China—yang mencakup berbagai proyek pembangkit listrik tenaga air dan destinasi wisata populer—mengalami kerusakan dengan perkiraan biaya rekonstruksi mencapai US$4,78 miliar.
Geografi Nepal sangat khas. Negara tersebut memiliki sejumlah gunung tertinggi di dunia, sungai-sungai yang mengalir deras, serta gletser. Bentang alam tersebut membuat Nepal sangat rentan terhadap bahaya alam, seperti banjir dan longsor. Ketika planet semakin panas, risiko iklim di kawasan ini meningkat secara signifikan, padahal Nepal termasuk negara dengan kontribusi emisi gas rumah kaca paling rendah.
Prakash Pokharel, seorang geolog di Planet Labs, menduga bahwa longsoran es dan batuan mungkin telah menyebabkan banjir tersebut. Ia menambahkan, “Apakah hal ini dipengaruhi oleh faktor iklim atau tidak tentu akan menjadi fokus penelitian ke depannya.”
Para peneliti di Nepal lantas menguatkan teori tersebut. Teorinya kira-kira begini: Banjir seperti ini dapat terjadi ketika gletser mencair dan air terakumulasi, secara perlahan mencairkan batuan dan sedimen yang membeku serta membuatnya tidak stabil. Tanah di lereng Himalaya, yang semula ditopang oleh lapisan permafrost, dapat mencair ketika suhu meningkat terlalu tinggi. Kemudian, puing-puing batuan dan es dari lereng gunung menciptakan aliran deras di bawahnya.
Apa yang terjadi di Nepal bukan pertama kalinya pencairan gletser memicu bencana dahsyat. Kejadian serupa terjadi di Alaska pada musim panas 2026 dan menyebabkan tsunami setinggi 1.500 kaki. Pada 2022, Pakistan menghadapi sedikitnya 16 banjir akibat jebolnya danau glasial. Salah satu yang terbesar terjadi di Desa Hassanabad akibat mencairnya Gletser Shisper. Bencana tersebut menghancurkan rumah-rumah, Jembatan Hassanabad, dua pembangkit listrik tenaga air, dan berbagai infrastruktur lainnya.
Memperkuat Mitigasi di Tengah Meningkatnya Risiko Iklim
Panas yang memicu gelombang panas di Eropa merupakan panas yang sama yang mencairkan gletser dan berkaitan dengan banjir di Himalaya. Panas tersebut akan terus mencairkan lapisan es planet ini. Banjir akibat pencairan atau runtuhnya gletser secara langsung memengaruhi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Namun, bukan berarti masyarakat yang tinggal jauh dari ekosistem gletser terbebas dari dampaknya. Ketika gletser mencair, airnya mengalir ke permukaan Bumi dan meningkatkan permukaan laut setiap tahun. Selanjutnya, ancaman tersebut muncul dalam bentuk banjir pesisir dan dapat menenggelamkan kota.
Mengurangi emisi gas rumah kaca tetap menjadi langkah mitigasi utama untuk menekan risiko iklim. Pengawasan ketat terhadap kebijakan yang mengatur emisi gas rumah kaca sangat penting. Setiap sektor—pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil—memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim Bumi kita.
Pada saat yang sama, langkah-langkah mitigasi yang mendesak diperlukan untuk mengurangi risiko bencana. Mulai dari pemantauan dan sistem peringatan dini hingga langkah-langkah adaptasi berbasis ekosistem dan respons bencana yang inklusif, setiap langkah sama pentingnya untuk meminimalkan dampak bahaya alam dan mencegahnya berkembang menjadi bencana.
Pada dasarnya, risiko iklim bersifat lintas batas. Risiko ini tidak mengenal jarak antarbenua ataupun batas antarnegara. Karena itu, kerja sama global yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sangat penting untuk benar-benar mengatasi titik-titik bencana yang terus bermunculan di seluruh penjuru dunia.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Bagaimana Perubahan Iklim Memperparah Polusi Suara
Menilik Dampak Lingkungan Penggunaan Kulit Hewan dalam Industri Fesyen
Jejak Peringatan Bahaya Eksistensial AI: Dari Layar Bioskop ke Rak Buku
Mengatasi Risiko Tersembunyi Mikroplastik dari Infrastruktur Lepas Pantai
Resistensi Antimikroba Bukan Sekadar Persoalan Medis
Krisis Imajinasi dan Keberlanjutan: Mengapa Masa Depan Perlu Dibayangkan Sebelum Dibangun