Meningkatnya Risiko Polusi Udara Lintas Batas di Tengah Suhu Panas Ekstrem
Foto: Teodor Ted di Unsplash.
Seiring kenaikan suhu yang terus memecahkan rekor, panas ekstrem menjadi salah satu isu utama dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2026 pun tidak menunjukkan keadaan yang lebih baik. Gelombang panas melanda berbagai wilayah Eropa, sementara El Niño kuat menyebabkan musim yang sangat kering di sejumlah wilayah Pasifik. Panas yang menyengat ini memengaruhi kualitas udara, dan dampaknya melintasi batas negara.
Meningkatnya Polusi Ozon
Kenaikan suhu berdampak langsung pada tingkat polusi udara dengan mempercepat pembentukan ozon permukaan tanah. Polutan berbahaya yang kerap luput dari perhatian ini terutama terbentuk melalui reaksi kimia antara nitrogen oksida—yang sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil—dan senyawa organik volatil (VOC) dari sumber alami maupun aktivitas manusia. Paparan sinar matahari dan suhu tinggi kemudian mempercepat pembentukan ozon permukaan tanah. Artinya, konsentrasi ozon cenderung meningkat selama bulan-bulan yang lebih panas dan kering.
Laporan Atmosphere Watch 2026 dari program Copernicus Uni Eropa menemukan bahwa 40% populasi dunia terpapar tingkat pencemaran ozon yang sangat tinggi pada 2026. Negara-negara di Belahan Bumi Utara lebih rentan terhadap polutan ini karena memiliki daratan dan populasi yang lebih besar. Asia mengalami paparan yang sangat tinggi dan berkepanjangan sepanjang Januari hingga Agustus. Data pengukuran dari lima kota utama di Asia menunjukkan bahwa sekitar 53% penduduk terpapar kualitas udara yang sangat buruk. Artinya, masyarakat menghirup udara dengan konsentrasi ozon lebih dari 110 µg/m³ selama puncak musim panas, jauh di atas ambang yang direkomendasikan WHO, yakni di bawah 60 µg/m³. Sementara itu, Eropa dan Amerika Utara mencatat hari-hari dengan paparan tinggi selama gelombang panas musim panas.
Salah satu aspek paling berbahaya dari pencemaran udara adalah sifatnya yang lintas batas, sehingga polutan dapat terbawa hingga jarak yang jauh. Laporan State of Global Air 2025 mencatat bahwa meskipun pencemaran ozon cenderung lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan karena tingginya sumber emisi, polutan ini juga dapat menyebar melintasi wilayah dan perbatasan negara, menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan. Dampak yang paling parah meliputi kematian dini, gangguan fungsi paru-paru, dan masalah kardiovaskular. Bahkan pada konsentrasi rendah, para peneliti telah menemukan adanya peradangan pada saluran pernapasan akibat pencemaran ozon.
Kabut Asap Lintas Batas akibat Kebakaran Hutan
Hari-hari panas yang berkepanjangan disertai curah hujan rendah juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Selain bahaya kebakaran itu sendiri, peristiwa ini menghasilkan kabut asap berbahaya yang mengandung partikel halus PM2.5. Partikel mikroskopis ini termasuk polutan paling mematikan. Paparan PM2.5 dalam jangka panjang berkontribusi terhadap 4,14 juta kematian di seluruh dunia pada 2019.
Sepanjang 2026, sejumlah kebakaran hutan berskala besar terjadi di berbagai belahan dunia. Pada Juli, kebakaran hebat yang diperparah oleh panas ekstrem melanda Prancis dan Spanyol. Kebakaran yang masing-masing menghanguskan sekitar 50.000 hektare lahan tersebut memaksa ribuan orang mengungsi. Copernicus Atmosphere Monitoring Service menunjukkan bahwa titik-titik kebakaran di wilayah Madrid (Spanyol) dan Avila (Prancis) menghasilkan emisi karbon yang sangat tinggi—tertinggi sejak 2003.
Sementara itu, laporan Copernicus juga menyoroti kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kedua wilayah ini memiliki hamparan lahan gambut yang luas, yang mudah terbakar dalam kondisi kering dan sulit dikendalikan ketika kebakaran besar telah terjadi. Rekaman video dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memperlihatkan kondisi yang harus dihadapi masyarakat sejak kebakaran bermula: asap tebal beracun yang membuat langit tampak jingga. Ribuan orang menderita infeksi saluran pernapasan, begitu pula satwa liar yang hidup di dalam atau di sekitar wilayah yang terbakar.
Indonesia termasuk negara yang terdampak parah oleh El Niño kuat. Hujan, yang dalam kondisi normal dapat membantu mengurangi kabut asap beracun, menjadi sangat jarang turun. Selain itu, kebakaran tersebut menyebabkan penurunan kualitas udara yang signifikan hingga puluhan kilometer dari sumbernya. Negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia turut merasakan dampak asap yang melintasi batas negara.
Jalan Panjang dan Berliku
Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan manusia telah terdokumentasi dengan baik selama bertahun-tahun. Dampaknya tidak terbatas pada sistem pernapasan. Partikel berbahaya dapat memasuki aliran darah dan mencapai hampir seluruh organ tubuh, termasuk jantung, hati, dan ginjal, serta memengaruhi sistem reproduksi dan metabolisme.
Selain itu, beban kesehatan akibat pencemaran udara tidak ditanggung secara merata, melainkan berkaitan erat dengan kesenjangan sosial dan ekonomi. Studi WHO menunjukkan bahwa negara-negara berpendapatan rendah menanggung beban penyakit yang lebih besar dibandingkan negara-negara berpendapatan tinggi. Setiap tahun, sekitar 107 kematian per 100.000 penduduk di negara berpendapatan rendah dikaitkan dengan paparan PM2.5. Sebagai perbandingan, angka di negara berpendapatan tinggi “hanya” 16 kematian per 100.000 penduduk.
Pada akhirnya, perjuangan untuk mendapatkan udara bersih merupakan jalan panjang dan penuh tantangan. Melindungi hak atas udara bersih merupakan kewajiban seluruh pemerintah, antara lain melalui regulasi yang kuat sekaligus berorientasi pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Selain itu, penguatan manajemen bencana sangat penting, terutama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan yang meningkatkan risiko pencemaran udara serta kabut asap lintas batas. Upaya ini juga mencakup penegakan akuntabilitas bisnis atas potensi dampak berbahaya dari kegiatan operasional mereka, seperti pencemaran dan pembukaan lahan, yang dapat memicu bencana berskala luas.
Penguatan kerja sama internasional untuk mengelola dan mengurangi risiko serta dampak kabut asap lintas batas juga sangat penting. Pada saat yang sama, sektor swasta harus bersedia dan berkomitmen untuk meninggalkan praktik business as usual serta menunjukkan tanggung jawab dalam melindungi kesehatan dan kesejahteraan manusia, keanekaragaman hayati, dan lingkungan.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengeliminasi Tuberkulosis Tanpa Mengabaikan Penyakit Lain
Whimsymaxxing dan Meningkatnya Kekhawatiran terkait Limbah di Balik Tren Viral
Mengakhiri Diplomasi Greenwashing Indonesia
Menilik Masalah Air Limbah Tekstil yang Terus Berkembang
Karhutla yang Terus Kita Pelihara
Mencari Petunjuk dari Karl Marx buat Menghadapi Krisis Iklim