World Water Forum 2024: Memperkuat Kolaborasi untuk Pengelolaan Air Berkelanjutan
Menteri PUPR RI (kiri), Presiden World Water Council (tengah), dan Wakil Menteri Sumber Daya Air Saudi Arabia (kanan), pada acara penutupan World Water Forum 2024. | Foto: Dokumentasi World Water Forum 2024.
Air merupakan sumber daya esensial dalam menunjang kehidupan manusia, keanekaragaman hayati, dan kelestarian lingkungan. Sayangnya, dunia saat ini tengah menghadapi ancaman krisis air akibat berbagai aktivitas manusia. Terkait hal ini, World Water Forum ke-10 yang digelar di Bali mendorong kemitraan global dan inisiatif semua pihak dalam upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air agar tetap dapat mendukung kehidupan manusia dan ekosistem.
Kondisi Sumber Daya Air di Dunia
Semua orang membutuhkan air untuk hidup. Namun, secara global, 2 miliar orang di dunia (26% populasi dunia) tidak memiliki akses terhadap air minum, dan 3,6 miliar orang (46% populasi dunia) tidak memiliki akses terhadap sistem sanitasi yang baik. Setiap tahun, sekitar 2-3 miliar orang mengalami kekurangan air setidaknya selama satu bulan. Ancaman kekurangan air ini diperkirakan akan semakin parah pada tahun 2050, terutama jika tidak ada tindakan untuk mengatasinya.
Kelangkaan air juga berdampak pada nasib jutaan orang di seluruh dunia. Banyak orang yang terpaksa meninggalkan kampung halamannya untuk mencari sumber penghidupan yang lebih menjanjikan ketersediaan air. Berdasarkan data UN World Water Development Report, kelangkaan air turut menyebabkan peningkatan 10% angka migrasi global.
Keadaan di Indonesia tidak lebih baik. Pulau Jawa, misalnya, terancam kehilangan sumber air bersih pada tahun 2040, mengancam keberlangsungan hidup 150 juta penduduk. Selain itu, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan juga diperkirakan akan mengalami kelangkaan atau krisis air bersih pada tahun 2045. Beberapa peristiwa kekeringan mendukung perkiraan tersebut, contohnya peristiwa kekeringan di Bojonegoro, Wonogiri, Sleman, Trenggalek, hingga Blora.
World Water Forum 2024
Dalam mencegah hilangnya sumber daya air, kemitraan global merupakan salah satu hal yang krusial. Ini penting mengingat air merupakan entitas yang tidak hanya bersifat lintas-wilayah, melainkan juga memiliki dimensi politik. Karena alasan tersebut, pada tahun 1997, World Water Council menginisiasi World Water Forum yang diadakan setiap tiga tahun sekali. Forum ini mengundang berbagai pemangku kepentingan dari berbagai negara yang memiliki kepentingan maupun wawasan terhadap air. Tujuan utama forum ini adalah mengajak semua pihak untuk berdiskusi dan berbagi ilmu serta praktik nyata dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya air yang berkelanjutan.
Pada tahun 2024, Indonesia menjadi tuan rumah bagi World Water Forum ke-10. Forum yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, pada tanggal 18-25 Mei 2024 ini mengangkat tema besar “Water for Shared Prosperity” (“Air untuk Kemakmuran Bersama”). Tema besar itu dikembangkan menjadi enam subtema pembahasan, yaitu “Air untuk Manusia dan Alam”; “Ketersediaan Air dan Kemakmuran”; “Pengurangan dan Pengelolaan Risiko Bencana”; “Tata Kelola, Kerja Sama, dan Diplomasi terkait Sumber Daya Air”; “Pembiayaan Air Berkelanjutan”; dan “Pengetahuan dan Inovasi”.
Demi efektivitas, forum ini terdiri dari tiga komponen kegiatan. Pertama, Thematic Program, bertujuan memberikan landasan teori/substantif mengenai permasalahan terkait air. Kedua, Regional Program, membahas mengenai keadaan air dari berbagai wilayah dan daerah. Yang terakhir, Political Program, merupakan forum di mana berbagai pemangku kepentingan dari berbagai negara berdiskusi mengenai praktik dalam pengelolaan air berkelanjutan serta komitmen dalam konservasi sumber daya air.
Adapun hasil utama dari World Water Forum 2024 berupa Ministerial Declaration, yang berisi usulan untuk:
- Membangun Center of Excellence for Water and Climate Resilience (Pusat Keunggulan untuk Ketahanan Air dan Iklim), dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai penanggung jawab.
- Menyusun Integrated Water Resources Management (IWRM) for Small Islands (Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu untuk Pulau-Pulau Kecil), dengan Kementerian PUPR sebagai penanggung jawab.
- Mengajukan World Lake Day Initiative (Hari Danau Sedunia) kepada PBB sebagai resolusi baru, dengan Kementerian LHK sebagai penanggung jawab.
Selain itu, forum ini juga menghasilkan banyak kesepakatan serta rencana konkret, di antaranya adalah Program Blue Deal yang disepakati bersama pemerintah Belanda untuk memperkuat kapasitas pemerintah Indonesia dalam pengelolaan air berkelanjutan; Program Palembang City Sanitation Project (PCSP) yang diteken bersama Australia untuk mengembangkan fasilitas daur ulang air skala kota dan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam manajemen sanitasi; dan Program Integrated Citarum Domestic Wastewater Management (ICDWM) yang ditandatangani bersama Jerman untuk meningkatkan akses terhadap sanitasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum melalui inovasi pengelolaan sistem air limbah domestik.
Kemitraan Global dan Kerja Sama Semua Pihak
Pengelolaan air secara berkelanjutan menuntut upaya kolaboratif yang melibatkan seluruh pihak. Hal ini dikarenakan pengelolaan air membutuhkan wawasan dari para ahli, kemampuan teknis, serta kebijakan dari pemerintah untuk memperkuat komitmen serta meningkatkan dampak. Kemitraan global, dalam hal ini, sangat penting untuk meningkatkan upaya kolektif yang dapat menghasilkan dampak yang lebih luas. Di samping itu, pelibatan masyarakat, terutama masyarakat adat juga tidak boleh dilupakan karena mereka seringkali memiliki wawasan atau kearifan lokal, serta dapat memanfaatkan kerja sama komunitas dalam upaya pemeliharaan sumber daya air.
Editor: Abul Muamar
Titis is a Reporter at Green Network Asia. She is currently studied undergraduate program of Law at Brawijaya University.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan