5 Sektor Prioritas dalam Rencana Aksi Ekonomi Sirkular di Indonesia
Foto: Tom Fisk di Pexels.
Kehidupan manusia sangat bergantung pada alam dalam berbagai aspek, terutama ekonomi. Namun sayangnya, aktivitas ekonomi telah berkontribusi besar terhadap kerusakan alam secara global. Oleh karena itu, transformasi menuju sistem ekonomi sirkular merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meredam krisis lingkungan di Indonesia.Terkait hal ini, Kementerian PPN/Bappenas telah meluncurkan Peta Jalan & Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular yang berfokus pada 5 sektor prioritas dan aspek pendukung ekosistem.
Ekonomi Linier dan Dampak Buruknya
Praktik ekonomi linier secara tidak bertanggung jawab telah menimbulkan triple planetary crisis: perubahan iklim, polusi dan kerusakan lingkungan, serta kehilangan keanekaragaman hayati. Ekonomi linier merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah model ekonomi yang cenderung tidak berkelanjutan. Sistem ini bekerja berdasarkan pola “ambil-pakai-buang”, dan berfokus pada nilai tambah dan peningkatan keuntungan.
Sebuah laporan yang diterbitkan oleh International Resource Panel pada tahun 2016 mengungkap bahwa ekonomi linier telah berkontribusi terhadap 70 miliar ton ekstraksi sumber daya alam yang dilakukan dalam periode 1970-2010. Sementara itu, dari total sumber daya yang digunakan, hanya 7,2% yang dimanfaatkan kembali dalam kegiatan ekonomi linier. Ketidakadilan sosial dan ekonomi juga menjadi faktor signifikan yang memperburuk dampak dari sistem ini. Sebagai contoh, negara-negara berkembang seringkali menjadi lokasi ekstraksi sumber daya alam yang tinggi dan menjadi tujuan outsourcing industri-industri yang berdampak buruk terhadap lingkungan tanpa mendapatkan manfaat yang setimpal.
Selain itu, juga ada beberapa faktor fundamental lain yang turut menyebabkan dampak buruk dari aktivitas ekonomi. Di antaranya adalah pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang pesat serta pola konsumsi yang berlebihan yang berperan dalam meningkatkan permintaan akan sumber daya alam, yang pada gilirannya dapat memperparah eksploitasi lingkungan.
Oleh karena itu, untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan, diperlukan transisi menuju model ekonomi sirkular yang lebih memperhatikan keberlanjutan dan keadilan sosial.
Peta Jalan dan RAN Ekonomi Sirkular di Indonesia
Ekonomi sirkular adalah sebuah model ekonomi yang berupaya memperpanjang siklus hidup dari suatu produk, bahan baku, dan sumber daya yang ada agar dapat dipakai selama mungkin. Praktik ini melibatkan siklus rantai nilai yang mencakup pemeliharaan, penggunaan kembali, perbaikan, dan daur ulang.
Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular merupakan acuan bagi para pemangku kepentingan dalam mendorong transisi dari ekonomi linear ke ekonomi sirkular di Indonesia. Peta jalan ini berfokus pada 5 sektor prioritas dan aspek pendukung ekosistem, yakni pangan, retail (fokus pada kemasan plastik), elektronik, konstruksi, dan sektor tekstil. Kelima sektor prioritas ini merepresentasikan hampir sepertiga PDB Indonesia dan menyediakan pekerjaan pada lebih dari 43 juta orang pada tahun 2019. Selain 5 sektor prioritas tersebut, peta jalan ini juga menyoroti potensi ekonomi sirkular dari sektor lain seperti sektor kertas dan kayu, pertanian, kehutanan, perikanan, hospitality.
Arus ekonomi sirkular dalam peta jalan ini diarahkan pada tiga kebijakan utama:
- Penurunan penggunaan sumber daya.
- Perpanjangan daya guna produk material.
- Peningkatan daur ulang dan pemanfaatan sisa produksi dan konsumsi.
Berbagai strategi disusun sesuai dengan kebutuhan dari setiap sektor prioritas yang antara lain adalah:
- Strategi pada sektor pangan
- Peningkatan kualitas produksi bahan baku pangan dan pangan olahan.
- Peningkatan efisiensi manajemen makanan untuk mengurangi pemborosan pangan.
- Strategi pada sektor retail
- Redesain & peningkatan kadar daur ulang kemasan plastik.
- Pengelolaan kemasan bioplastik.
- Pengembangan ekosistem kemasan guna ulang.
- Peningkatan pengumpulan, daur ulang, dan pemulihan kemasan plastik.
- Strategi pada sektor elektronik
- Pengembangan dan penerapan kebijakan EPR produk elektronik.
- Pengembangan infrastruktur ekonomi sirkular.
- Penerapan ekodesain dan inovasi produk.
- Pengembangan ekosistem sirkular untuk teknologi baru dan baterai kendaran. bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).
- Strategi pada sektor konstruksi
- Aplikasi desain dan metode kerja prinsip berkelanjutan.
- Pemanfaatan sampah dan/atau limbah sisa konstruksi dan pembongkaran.
- Penggunaan produk dan material ramah lingkungan serta penerapan bangunan hijau.
- Strategi pada sektor tekstil
- Pengembangan infrastruktur serta penguatan ekosistem ekonomi sirkular tekstil nasional dan penerapan kebijakan EPR produk tekstil.
- Pengurangan limbah tekstil.
- Peningkatan resource efficiency dalam proses produksi tekstil.
Optimalisasi Ekonomi Sirkular
Praktik ekonomi sirkular di Indonesia menghadapi beberapa hambatan signifikan, antara lain kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang konsep ini di kalangan masyarakat dan pelaku bisnis secara luas, infrastruktur pengelolaan limbah yang masih terbatas dan kurang memadai, serta regulasi yang belum mendukung transisi menuju ekonomi sirkular.
Selain itu, masalah pendanaan dan insentif juga menjadi tantangan penting dalam implementasi ekonomi sirkular, terutama di kalangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Banyak UMKM menghadapi kesulitan untuk beralih ke praktik bisnis yang berkelanjutan, salah satunya karena kurangnya akses ke pendanaan. Selain itu, insentif finansial yang minim seringkali membuat UMKM enggan untuk mengadopsi model ekonomi sirkular.
Oleh karena itu, kolaborasi yang kuat antara pemerintah, bisnis, dan masyarakat sipil merupakan hal yang krusial untuk mengatasi tantangan ini. Pemerintah perlu merumuskan regulasi yang mendukung dan memperkuat ekonomi sirkular, menyediakan insentif untuk praktik berkelanjutan, serta meningkatkan infrastruktur pengelolaan limbah. Pada saat yang sama, bisnis harus berinovasi dengan mengadopsi model bisnis yang lebih berkelanjutan dan melibatkan masyarakat dalam program daur ulang. Sementara itu, masyarakat sipil dapat berperan sebagai agen perubahan dengan meningkatkan kesadaran dan pendidikan tentang pentingnya ekonomi sirkular, serta berpartisipasi aktif dalam upaya pengurangan sampah dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab.

Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah