Kolaborasi KKP-FAO dalam Pengendalian Penyakit Ikan melalui Aplikasi Digital
Foto: Mdjaff di Freepik.
Ekosistem laut dan keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya merupakan salah satu penopang utama kehidupan di Bumi. Sayangnya, pengelolaan laut di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam sektor perikanan. Terkait hal ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), meluncurkan sebuah aplikasi digital bernama SiCekatan yang bertujuan untuk mengendalikan penyakit ikan serta mendukung keberlanjutan sektor perikanan di Indonesia.
Potensi Perikanan Indonesia dan Tantangan Pengelolaannya
Indonesia memiliki sekitar 17.001 pulau, dengan luas perairan mencapai sekitar 6,4 juta kilometer persegi atau lebih dari 70 persen dari total wilayah. Dengan dua per tiga wilayah berupa lautan, Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang tinggi, terutama di sektor perikanan.
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa dari 7.000 spesies ikan yang ada di dunia, sekitar 2.000 di antaranya dapat ditemukan di Indonesia. Pada tahun 2020, potensi sumber daya perikanan laut Indonesia diperkirakan mencapai 6,4 juta ton per tahun, yang terdiri dari ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, udang penaeid, lobster, cumi-cumi, serta ikan karang konsumsi.
Namun sayangnya, kekayaan sumber daya ikan laut tersebut tidak sejalan dengan tingkat kesejahteraan nelayan di Indonesia. Sebagai contoh, data BPS tahun 2024 mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada subsektor perikanan mengalami penurunan dari 105,74 pada tahun 2022 menjadi 105,21 pada tahun 2023. Meskipun nilai di atas 100 menunjukkan bahwa pendapatan nelayan masih lebih tinggi dari biaya produksi, penurunan ini mengindikasikan adanya tantangan yang harus diatasi.
Penangkapan ikan berlebih dan ilegal, degradasi lingkungan, kurangnya infrastruktur kemaritiman, keterbatasan akses nelayan terhadap teknologi modern, polusi laut, pembangunan pesisir yang tidak berkelanjutan, serta penyebaran wabah penyakit ikan masih menjadi tantangan utama dalam subsektor perikanan dan kelautan.
Aplikasi SiCekatan untuk Kendalikan Penyakit Ikan
Diluncurkan di Jakarta pada 18 Maret 2024, Sistem Pelaporan Cepat Penyakit Ikan (SiCekatan) adalah platform berbasis aplikasi digital untuk pelaporan dan penanganan penyakit ikan yang memperbarui sistem peringatan dini di Indonesia, dari yang sebelumnya mengandalkan teknologi layanan pesan singkat (SMS) menjadi berbasis Android yang lebih modern. Melalui aplikasi SiCekatan, pembudidaya ikan dapat melaporkan gejala dan dokumentasi penyakit ikan dengan lebih mudah dan mendapatkan saran penanganan dengan lebih cepat dari gugus tugas tanggap darurat penyakit ikan. Sistem ini juga melibatkan pengujian laboratorium guna menghadirkan solusi penanganan yang lebih spesifik.
Aplikasi SiCekatan merupakan salah satu bagian dari tindak lanjut Program Kerjasama Teknis TCP/INS/3903 “Meningkatkan Sistem Kesiapsiagaan dan Respons terhadap Penyakit Hewan Akuatik untuk Mendukung Transformasi Ekonomi Biru yang dilaksanakan oleh KKP dan FAO sejak pertengahan 2023 hingga awal 2025. Proyek kerja sama ini menghasilkan tiga output, yakni peningkatan kapasitas penilaian risiko untuk meminimalisir risiko masuk dan tersebarnya penyakit ikan, penguatan kapasitas Pos Pelayanan Kesehatan Ikan dan Lingkungan Terpadu (POSIKANDU), dan peningkatan keterampilan dan pengetahuan dalam perencanaan tanggap darurat penyakit ikan.
Peluncuran SiCekatan dilatarbelakangi oleh tantangan yang dihadapi sektor perikanan budidaya, terutama serangan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan parasit. Dengan adanya aplikasi ini, diharapkan kesiapsiagaan dalam pengendalian penyakit ikan dapat meningkat secara signifikan, sehingga kerugian ekonomi akibat wabah penyakit dapat diminimalisir.
Salah satu keunggulan SiCekatan adalah kemudahan akses yang memungkinkan pembudidaya ikan menggunakannya di berbagai lokasi, yang akan tersedia mulai minggu kedua April 2025.
“Melalui dukungan proyek kerjasama ini, sistem SiCekatan ini telah dioptimalkan menjadi sistem berbasis Android yang lebih mudah diakses dan praktis serta dilengkapi dengan lebih banyak informasi dan juga menu yang interaktif. Dengan begitu, diharapkan koordinasi dalam penanganan penyakit ikan oleh gugus tugas dapat menjadi lebih cepat,” kata Kepala Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal.
Memperluas Adaptasi
Teknologi telah menjadi elemen penting dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja. Untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan dalam upaya pengendalian penyakit ikan, diperlukan upaya adaptasi melalui pelatihan, peningkatan keterampilan digital, dan sinergi antara berbagai pihak dalam mendukung akses teknologi yang inklusif untuk mendukung sektor perikanan yang lebih berkelanjutan. Pada akhirnya, seluruh pemangku kepentingan terkait harus memastikan bahwa inovasi teknologi tidak hanya tentang meningkatkan produktivitas, tetapi juga menciptakan sistem yang berkelanjutan dan adaptif bagi seluruh lapisan masyarakat, serta mendukung kelestarian lingkungan.
Editor: Abul Muamar

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja