Memperkuat Strategi Penanggulangan Malaria di Tengah Krisis Iklim
Foto: Emphyrio di Pixabay.
Perubahan iklim telah meningkatkan prevalensi berbagai penyakit, termasuk malaria. Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan terhadap penyebaran penyakit ini. Peningkatan suhu, perubahan pola hujan, dan kenaikan permukaan air laut, semuanya berkontribusi pada penyebaran nyamuk Anopheles yang merupakan vektor penyakit malaria. Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin parah, sangat penting untuk memperkuat strategi penanggulangan malaria.
Merebaknya Malaria di Tengah Krisis Iklim
Malaria termasuk salah satu penyakit yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Parasit ini hidup dan berkembang biak di dalam sel darah merah manusia dan memiliki kemampuan untuk bersembunyi dalam tubuh inangnya. Kondisi tersebut memungkinkan penyakit ini untuk kambuh sewaktu-waktu dan dapat menjadi penyakit kronis yang terjadi secara berulang.
Gejala malaria meliputi demam tinggi, menggigil, sakit kepala, dan muntah, yang jika tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi serius dan bahkan kematian. Bayi, anak di bawah 5 tahun, perempuan hamil, wisatawan, dan pengidap HIV atau AIDS punya risiko terkena infeksi malaria yang lebih tinggi.
WHO telah menyoroti hubungan antara perubahan iklim dan malaria lewat laporan malaria dunia tahun 2023. Laporan tersebut menyatakan bahwa perubahan iklim menimbulkan risiko besar terhadap kemajuan dalam pemberantasan malaria, khususnya di daerah-daerah yang rentan. Di wilayah WHO Asia Tenggara, India dan Indonesia menyumbang sekitar 94% dari seluruh kematian akibat malaria.
Peningkatan suhu mempercepat siklus hidup nyamuk dan masa inkubasi parasit malaria di dalam tubuh nyamuk. Selain itu, perubahan pola curah hujan menghasilkan lebih banyak genangan air, tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa kenaikan suhu dan perubahan curah hujan di berbagai wilayah meningkatkan populasi nyamuk Anopheles dan memperluas area penyebaran malaria.
Kondisi Iklim dan Malaria di Indonesia
Indonesia menjadi negara penyumbang kasus malaria terbesar kedua di Asia setelah India. Kasus malaria tertinggi di Indonesia terjadi di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Papua, Nusa Tenggara, dan Maluku. Kasus tertinggi terjadi di Provinsi Papua, yakni sebanyak 356.889 kasus positif dari total kasus nasional.
Kondisi iklim di Indonesia memiliki dampak signifikan terhadap penyebaran nyamuk Anopheles dan dapat mempengaruhi distribusi populasi, frekuensi gigitan, daya tahan hidup, serta waktu perkembangan parasit malaria dalam nyamuk. Peningkatan suhu sebesar setengah derajat celsius saja dapat meningkatkan populasi nyamuk antara 30% hingga 100%. Dengan suhu yang lebih tinggi, nyamuk dan parasit malaria dapat berkembang lebih cepat, sehingga meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
Upaya Penanggulangan Malaria
Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk menanggulangi malaria. Dalam Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Malaria (RANPEM) 2020-2026, strategi yang digunakan mencakup:
- Penguatan Manajemen Vektor: Implementasi metode pengendalian vektor yang aman dan berkelanjutan, seperti penggunaan kelambu berinsektisida dan penyemprotan insektisida di dalam rumah.
- Peningkatan Akses dan Mutu Tata Laksana Malaria: Meningkatkan akses ke diagnosis dan pengobatan malaria yang efektif, termasuk di daerah terpencil.
- Penguatan Surveilans dan Manajemen KLB: Memperkuat sistem surveilans untuk deteksi dini dan respons cepat terhadap kejadian luar biasa (KLB) malaria.
- Peningkatan Pelibatan Masyarakat: Melibatkan masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian malaria melalui edukasi dan program-program pemberdayaan.
Kementerian Kesehatan juga membuat empat inovasi dalam upaya percepatan eliminasi malaria; yaitu Mass Drug Administration (MDA), yakni pengobatan malaria secara massal di daerah endemis tinggi malaria terpilih; Intermittent Preventive Treatment (IPT) in pregnancy, yaitu pencegahan malaria dengan obat malaria pada ibu hamil pada daerah endemis tinggi malaria terpilih; pengembangan vaksin malaria; dan intervensi pengobatan pencegahan dan repelen (repellent) pada pekerja hutan.
Terlepas dari berbagai kebijakan yang telah dilakukan, tingkat penularan penyakit malaria di Indonesia masih tergolong tinggi. Hingga 25 April 2024, tercatat telah ada 418.546 kasus malaria dan 120 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Wilayah Papua juga masih menjadi provinsi dengan angka eliminasi atau pemberantasan penularan malaria terendah nasional, yakni 0%.
Memperkuat Strategi
Untuk menghadapi tantangan malaria yang semakin kompleks akibat perubahan iklim, diperlukan langkah-langkah yang lebih kuat dan efektif, termasuk program pengendalian vektor dan peningkatan layanan kesehatan. Selain itu, tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan peningkatan kesadaran. Partisipasi masyarakat dan edukasi mengenai hubungan antara perubahan iklim dan penyakit menular seperti malaria harus menjadi bagian dari kampanye kesehatan publik.
Upaya kolaboratif antara pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, dan sektor swasta sangat penting untuk mengembangkan dan menerapkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Melalui strategi yang komprehensif, terintegrasi, dan berbasis bukti, Indonesia dapat mengatasi tantangan yang dihadapi dalam penanggulangan malaria di tengah krisis iklim yang kemungkinan semakin memburuk.
Editor: Abul Muamar

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan