Upaya Yayasan Badak Indonesia Jaga Badak Indonesia dari Kepunahan
Dokter hewan SRS Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memeriksa kondisi Delilah, anak badak sumatera yang lahir pada tahun 2016. | Foto: Dokumentasi Yayasan Badak Indonesia.
Badak merupakan salah satu spesies kunci dalam menjaga kesehatan dan keberlanjutan ekosistem. Namun, populasi badak di seluruh dunia, termasuk badak sumatera dan badak jawa di Indonesia, tersisa sedikit. Oleh karena itu, konservasi badak merupakan hal yang krusial. Yayasan Badak Indonesia mengupayakan hal ini melalui beberapa kegiatannya.
Kondisi Spesies Badak di Indonesia
Badak berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan ukuran tubuh yang besar, badak mampu menjaga kesehatan habitat padang rumput serta kubangan air, sehingga dapat menjadi tempat tinggal yang sehat dan ideal bagi herbivora lain. Selain itu, badak juga membantu menyebarkan benih tanaman dan buah yang mereka makan melalui kotoran mereka.
Terdapat lima spesies badak di dunia. Indonesia sendiri merupakan rumah bagi dua dari lima spesies tersebut, yaitu badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Sayangnya, dua spesies badak tersebut dalam kondisi kritis (critically endangered) apabila merujuk data Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).
Kondisi kritis ini menunjukkan jumlah populasi mereka yang masih tersisa di dunia. Meski tidak terdapat data pasti, namun World Wildlife Fund (WWF) memperkirakan populasi badak sumatera hanya tersisa sekitar 40 ekor, sedangkan badak jawa tersisa sekitar 76 ekor. Kedua spesies ini terancam oleh perburuan dan perdagangan ilegal, kehilangan habitat, bencana alam, hingga penyakit.
Yang dilakukan Yayasan Badak Indonesia

Mengingat peran badak sebagai spesies kunci bagi ekosistem, dan jumlah mereka yang tersisa sedikit di dunia, diperlukan upaya yang lebih masif untuk melindungi mereka dari kepunahan. Yayasan Badak Indonesia (YABI) merupakan salah satu organisasi yang bertujuan mencegah kepunahan badak.
Yayasan Badak Indonesia merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang konservasi badak sumatera dan badak jawa, yang merupakan gabungan dari Yayasan Mitra Rhino (YMR), Sumatran Rhino Sanctuary Foundation (YSRS), dan The Indonesian Rhino Conservation Program (PKBI). Pada Januari 2008, dua organisasi dan satu program ini bergabung menjadi Yayasan Badak Indonesia, yang memiliki visi menjamin kehidupan spesies badak sumatera dan badak jawa pada habitat yang aman dan berkelanjutan.
Dengan visi tersebut, Yayasan Badak Indonesia memiliki beberapa program, di antaranya:
- Sumatran Rhino Sanctuary/Suaka Rhino Sumatera (SRS). Bekerja sama dengan Kementerian LHK, Yayasan Badak Indonesia membangun SRS di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Provinsi Lampung. Suaka ini dibangun dengan tujuan untuk menyediakan kawasan alami yang cukup luas bagi badak untuk berkembang biak. Di lokasi SRS, badak dibiarkan hidup sendiri di area masing-masing, di mana area tersebut terhubung ke area tengah yang merupakan area perkembangbiakan (breeding center). SRS dikelola secara in-situ, dan menyediakan ruang aman bagi badak untuk berlaku sesuai kebiasaannya soliter dan suka menjelajah.
- Riset dan Edukasi. Yayasan Badak Indonesia melakukan beberapa riset yang berkaitan dengan badak, misalnya riset dan percobaan mengenai inseminasi buatan badak di SRS Way Kambas. Selain itu, Yayasan Badak Indonesia juga melakukan edukasi melalui program “Rhino Goes to School”, di mana Yayasan Badak Indonesia mengajarkan kepada anak-anak sekolah dasar mengenai badak melalui aktivitas interaktif.
- Rhino Protection Unit (RPU). Merupakan program utama Yayasan Badak Indonesia. RPU merupakan unit khusus yang melakukan pengawasan terhadap habitat badak sumatera dan badak jawa, dengan tujuan mengurangi perburuan liar dan penyiksaan terhadap mereka. Hingga tahun 2024, Yayasan Badak Indonesia telah melatih RPU untuk melakukan peran pengawasan dan perlindungan badak di tiga lokasi, yakni di Taman Nasional Ujung Kulon (7 unit), Taman Nasional Way Kambas (13 unit), dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (6 unit).
- Pengembangan Komunitas. Selain bergerak dengan sumber daya yang dimilikinya sendiri, Yayasan Badak Indonesia juga melibatkan masyarakat sekitar melalui pengembangan komunitas. Hingga tahun 2024, terdapat 9 desa yang menjadi desa binaan Yayasan Badak Indonesia, di mana kegiatan pengembangan komunitas yang dilakukan bertujuan untuk pemulihan ekosistem, penguatan kelembagaan kelompok masyarakat, hingga advokasi kebijakan di tingkat desa dan kabupaten dalam rangka mendukung kehidupan spesies badak.
Menjaga dan melindungi spesies badak merupakan salah satu upaya untuk menjaga keanekaragaman hayati. Mencegah kepunahannya membutuhkan komitmen kuat dan tindakan konkret dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Editor: Abul Muamar
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Titis is a Reporter at Green Network Asia. She is currently studied undergraduate program of Law at Brawijaya University.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan