BKKBN Luncurkan 5 Quick Wins untuk Dukung Pembangunan Keluarga
Sebuah keluarga sedang jalan-jalan menggunakan sepeda motor di Desa Gandasari, Kabupaten Subang, Jawa Barat. | Foto: Abiali Al-Ikhsan untuk Green Network Asia.
Kehidupan seseorang dipengaruhi secara signifikan oleh kondisi keluarganya. Keluarga yang harmonis dan sehat merupakan fondasi bagi perkembangan dan kebahagiaan anak hingga usia dewasa. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pembangunan keluarga, dengan masalah-masalah mendasar menyangkut pola asuh, ketimpangan peran pengasuhan berbasis gender, hingga pemenuhan gizi anak. Sehubungan dengan hal ini, Kementerian/Badan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) meluncurkan lima program percepatan yang bertujuan mendukung pembangunan keluarga yang berdaya.
Permasalahan Keluarga di Indonesia
Menurut Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), terdapat delapan fungsi keluarga yang berkualitas, yaitu fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan. Namun sayangnya, delapan fungsi tersebut seringkali tidak berjalan dalam kehidupan banyak keluarga di Indonesia. Kurangnya kasih sayang di dalam keluarga, pola asuh anak dan lingkungan yang buruk, ketimpangan berbasis gender, hingga kekerasan dalam berbagai bentuk, masih kerap terjadi di dalam rumah tangga banyak keluarga di Indonesia.
Selain itu, Kementerian Agama (Kemenag) mencatat bahwa ada empat isu krusial yang masih menjadi tantangan besar bagi keluarga Indonesia, yaitu malnutrisi, ketahanan keluarga yang lemah, perkawinan anak, dan perceraian. Masalah stunting, misalnya, masih cukup tinggi di Indonesia, dengan angka mencapai 21,6% pada tahun 2022.
Perceraian juga menjadi permasalahan signifikan dalam pembangunan keluarga di Indonesia, dengan sebagian besar disebabkan oleh perselisihan akibat faktor ekonomi, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal ini menunjukkan bahwa isu kesejahteraan sosial-ekonomi seringkali sangat menentukan kondisi keluarga.
Quick Wins untuk Mendukung Pembangunan Keluarga
Diresmikan pada 5 Desember 2024, lima program percepatan (Quick Wins) bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan peran keluarga dalam beberapa aspek kehidupan.
Berikut 5 Quick Wins yang diluncurkan untuk mendukung pembangunan keluarga:
- Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting): Gotong-royong orang tua asuh untuk mencegah stunting pada ibu hamil dan batita, dengan memberikan bantuan berupa nutrisi (makanan bergizi) dan non-nutrisi (perbaikan rumah layak huni, fasilitas sanitasi dan MCK, pelatihan, dan pendidikan).
- Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya): Tempat penitipan anak yang memantau tumbuh kembang anak, dengan sertifikasi dari Kemendikbud/BKKBN.
- Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI): Gerakan untuk memperkuat peran ayah dalam keluarga melalui Kampung KB, komunitas ayah, tempat edukasi kepemimpinan untuk mengatasi isu patriarki, wadah rehabilitasi ayah dengan riwayat kenakalan remaja, dan optimalisasi peran ayah untuk menjawab persoalan fatherless.
- Lansia Berdaya: Wadah pemberdayaan lansia agar mandiri melalui wirausaha, sekolah lansia, dan pembinaan keluarga lansia.
- Super Apps Keluarga Indonesia: Menyediakan layanan konseling dan data keluarga nasional untuk mendukung kesejahteraan keluarga.
Dibutuhkan Komitmen Bersama
Pada akhirnya, peningkatan pembangunan keluarga di Indonesia memerlukan serangkaian langkah strategis yang koheren, dimulai dengan memperkuat pendidikan keluarga untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter dan kualitas hidup anak. Dalam hal ini, pemerintah perlu menyediakan akses yang lebih luas terhadap pelatihan keterampilan dan peluang ekonomi bagi keluarga untuk mengurangi kemiskinan, serta menciptakan dunia kerja yang mendukung kesetaraan dalam peran pengasuhan. Layanan kesehatan yang merata dan berkualitas serta pemberdayaan perempuan juga merupakan aspek penting, tidak hanya untuk mengurangi ketimpangan gender tetapi juga memperkuat posisi ekonomi keluarga. Semua ini harus melibatkan sinergi dan komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait untuk mewujudkan keluarga Indonesia yang sejahtera dan berdaya.
Editor: Abul Muamar

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit