Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Foto: NASA di Unsplash.
Transformasi hijau dan digital kerap dipandang sebagai jalan menuju masa depan yang lebih aman, bersih, dan sejahtera. Namun, di atas visi optimistis tersebut, ada satu realitas yang kurang terlihat: infrastruktur antariksa. Ketika satelit secara senyap menjadi elemen penting bagi aliran energi, fungsi kota, dan operasi ekonomi, muncul sebuah tantangan mendasar: mampukah kita menjamin ketahanan sistem di tengah ketidakpastian yang menyertai ketergantungan yang semakin besar pada antariksa?
Peran Tersembunyi Antariksa
Ketergantungan kita pada antariksa sebagian besar luput dari perhatian. Padahal, banyak teknologi yang menopang masyarakat yang lebih hijau dan digital bergantung pada infrastruktur antariksa, terutama satelit. Satelit-satelit ini mengorbit planet dan beroperasi di wilayah yang dikenal sebagai antariksa dekat Bumi (near-earth space), yakni kawasan di sekitar Bumi yang masih sangat dipengaruhi oleh gravitasi, medan magnet, dan atmosfer atas Bumi.
Di wilayah inilah sebagian besar satelit komunikasi, navigasi, dan pengamatan Bumi bergerak. Mereka berperan penting dalam pengelolaan jaringan energi terbarukan, koordinasi transportasi, serta sinkronisasi sistem keuangan dan komunikasi. Selain itu, satelit juga digunakan dalam pertanian presisi, konservasi, kesiapsiagaan bencana, dan pemantauan iklim.
Infrastruktur Antariksa, Ancaman, dan Risiko
Seiring meluasnya sistem hijau dan digital, ketergantungan pada teknologi berbasis antariksa pun meningkat. Pada titik ini, antariksa tidak lagi sekadar lingkungan yang jauh. Ia telah menjadi perpanjangan operasional dari sistem-sistem keseharian di Bumi. Karena itu, apa yang terjadi di antariksa semakin menentukan kinerja sistem-sistem vital di Bumi.
Dalam konteks ini, risiko-risiko baru bermunculan. Saat kebijakan antariksa saat ini cenderung berfokus pada ancaman yang kasat mata seperti puing-puing antariksa, terdapat ancaman tak terlihat yang masih kurang mendapat perhatian.
Antariksa dekat Bumi dipengaruhi oleh cuaca antariksa, yakni perubahan kondisi fisik di ruang angkasa yang terutama disebabkan oleh aktivitas Matahari. Peristiwa cuaca antariksa meliputi badai Matahari, lonjakan radiasi, dan gangguan pada medan magnet Bumi. Banyak di antaranya bersifat ringan, namun sebagian tergolong ekstrem. Para ilmuwan menyebutnya sebagai peristiwa berdampak tinggi namun jarang terjadi (High-Impact, Low-Frequency / HILF). Peristiwa ini dapat mengganggu sistem elektronik satelit, menurunkan kualitas sinyal komunikasi, dan mengacaukan layanan penentuan waktu presisi yang menjadi tumpuan banyak sistem di Bumi.
Ketika satelit terdampak, konsekuensinya dapat merambat ke berbagai sektor. Karena sistem-sistem ini semakin saling terhubung dan dioptimalkan demi efisiensi, kegagalan dapat menyebar dengan cepat dan sulit dikendalikan. Akibatnya, teknologi yang dirancang untuk mempermudah kehidupan justru berpotensi melahirkan kerentanan baru.
Ketika Efisiensi Menciptakan Kerapuhan
Dengan sistem yang ada saat ini, dunia menuntut efisiensi dan optimalisasi. Dari komunikasi dan mobilitas hingga produksi dan konsumsi, ada harapan agar segala sesuatu berjalan mulus dalam waktu sesingkat mungkin. Bahkan, kebijakan “keberlanjutan” sering kali hanya menekankan pengurangan penggunaan sumber daya.
Sistem yang sangat teroptimalkan ini memang dapat bekerja dengan baik dalam kondisi normal, tetapi seringkali memiliki ruang adaptasi yang sempit ketika menghadapi peristiwa tak terduga. Ketegangan ini tampak jelas dalam ketergantungan sistem hijau dan digital terhadap infrastruktur antariksa.
Padahal, untuk membangun sistem dan masyarakat yang mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang, ketahanan adalah kunci. Ketahanan menitikberatkan pada kemampuan suatu sistem untuk menahan guncangan dan pulih dari gangguan. Di luar soal efisiensi, hal ini menuntut keberagaman, redundansi, dan kapasitas cadangan. Pada akhirnya, keberlanjutan dan ketahanan adalah tujuan yang saling melengkapi.
Memperkuat Ketahanan di Tengah Transisi
Menghadapi risiko yang lahir dari ketergantungan yang semakin besar pada infrastruktur antariksa memerlukan perubahan dalam cara kita merancang dan mengelola sistem hijau dan digital. Alih-alih memprioritaskan efisiensi semata, infrastruktur kritis harus direncanakan dengan ketangguhan sebagai tujuan utama.
Ini berarti mempertahankan redundansi, seperti sistem komunikasi dan penentuan waktu cadangan. Hal ini juga menuntut identifikasi titik-titik kendali bersama di antara infrastruktur yang saling terhubung, serta perencanaan terhadap kegagalan berantai, ketika gangguan pada satu sistem memicu masalah pada sistem lainnya. Persiapan sejak dini terhadap skenario-skenario ini dapat mencegah gangguan terisolasi berkembang menjadi krisis sosial berskala besar.
Pada saat yang sama, mengurangi ketidakpastian di lingkungan antariksa itu sendiri juga penting. Meskipun pemahaman ilmiah tentang cuaca antariksa mulai berkembang, waktu dan intensitasnya masih sulit diprediksi. Menutup celah ini membutuhkan investasi berkelanjutan dalam riset dan eksplorasi antariksa yang dirancang untuk mengamati kondisi fisik antariksa dekat Bumi secara lebih rinci. Semakin banyak pengamatan, semakin baik pula model dan prakiraan yang akan dihasilkan, sehingga meningkatkan kemampuan untuk melindungi satelit serta sistem-sistem di Bumi yang bergantung padanya.
Batas yang Terus Meluas
Ketergantungan kita yang kian besar pada antariksa secara efektif mengintegrasikan antariksa dekat Bumi ke dalam sistem sosial-ekologis Bumi. Oleh karena itu, antariksa dekat Bumi harus diperlakukan sebagai bagian dari lingkungan Bumi yang lebih luas alih-alih sebagai ranah yang terpisah. Hal ini membutuhkan pemantauan berkelanjutan atas kondisi antariksa, serta mengintegrasikan risiko cuaca antariksa ke dalam perencanaan keberlanjutan, regulasi infrastruktur, dan perumusan kebijakan.
Pada akhirnya, dengan menyelaraskan tujuan transisi hijau dan digital dengan strategi berbasis ketahanan untuk ranah yang kini meluas, masyarakat dapat memastikan bahwa upaya membangun masa depan berkelanjutan tidak secara tidak sengaja menciptakan kerentanan baru. Tantangannya bukanlah memilih antara efisiensi dan ketahanan, melainkan merancang sistem berkelanjutan yang mampu menghadirkan keduanya sekaligus.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?