Sinyal Bahaya dalam Industrial Accelerator Act (IAA) Uni Eropa
Photo: Antoine Schibler di Unsplash.
Perubahan iklim dan ketimpangan yang kita hadapi saat ini lahir dari model pembangunan yang mengabaikan manusia dan planet. Tanpa mengambil pelajaran dari hal tersebut dan beralih dari praktik business-as-usual, koreksi arah menjadi mustahil. Pada Maret 2026, European Commission merilis proposal Industrial Accelerator Act (IAA). Meski mencerminkan ambisi yang positif, proposal ini juga memunculkan kekhawatiran terkait implikasinya terhadap hubungan perdagangan, perluasan kebijakan industri yang intervensionis, serta tata kelola iklim.
Gambaran Umum Industrial Accelerator Act (IAA)
Industrial Accelerator Act (IAA) pertama kali diperkenalkan pada Februari 2025 sebagai bagian dari Clean Industrial Deal dengan judul awal “Industrial Decarbonization Accelerator Act”. Kebijakan ini dirancang untuk mendukung dekarbonisasi sekaligus meningkatkan daya saing industri padat energi di Eropa. Namun, kemudian European Commission memutuskan untuk menghapus istilah “dekarbonisasi” dari judul kebijakan tersebut, meskipun tetap menjadikannya sebagai salah satu tujuan utama.
Setelah beberapa kali penundaan, proposal resmi IAA akhirnya dirilis pada 4 Maret 2026. IAA ditujukan untuk mendukung manufaktur rendah karbon di Eropa, mempercepat dekarbonisasi industri, serta membatasi investasi strategis dari perusahaan manufaktur asing. Proposal ini memberikan fleksibilitas bagi negara anggota untuk membatasi investasi asing di atas €100 juta pada sektor strategis seperti baterai, kendaraan listrik, fotovoltaik, dan bahan baku kritis, terutama jika perusahaan investor menguasai lebih dari 40% kapasitas produksi global.
IAA dan Emisi Karbon
Menurut Komisi Eropa, kebijakan dalam IAA berpotensi secara signifikan menurunkan emisi karbon. Hingga tahun 2030, langkah-langkah ini diperkirakan dapat mengurangi sekitar 30,6 juta ton CO₂ melalui peningkatan permintaan terhadap material rendah emisi. Pengurangan ini setara dengan lebih dari €3 miliar biaya terkait iklim yang dapat dihindari.
Selain mendorong permintaan material rendah emisi, IAA juga bertujuan mempercepat proyek dekarbonisasi dengan menyederhanakan proses perizinan industri serta meningkatkan investasi pada teknologi rendah emisi. Pendekatan ini diharapkan dapat mengatasi persoalan struktural dalam transisi industri Eropa, di mana penurunan emisi selama ini sering kali terjadi karena penurunan produksi, bukan karena peningkatan efisiensi karbon.
Strategi Global yang Lebih Luas
IAA juga mencerminkan strategi global yang lebih luas. Proposal ini tampaknya ditujukan, antara lain, untuk merespons dominasi China dalam sektor teknologi hijau, di mana perusahaan-perusahaan China diuntungkan oleh kapasitas produksi besar dan biaya produksi yang lebih rendah. Selain itu, IAA juga muncul sebagai respons terhadap kebijakan Amerika Serikat yang memberikan subsidi besar untuk teknologi hijau dan mendorong perusahaan untuk memproduksi di dalam negeri.
Instrumen seperti kewajiban kepemilikan mayoritas oleh perusahaan Eropa, ketentuan transfer teknologi, integrasi dalam rantai nilai Eropa, serta penciptaan lapangan kerja menjadi bagian penting dari kerangka strategis IAA. Dalam praktiknya, langkah-langkah ini mendorong perusahaan asing untuk membentuk usaha patungan dengan perusahaan Eropa agar dapat beroperasi, sehingga investasi tetap dimungkinkan namun kendali strategis atas industri kunci tetap berada di tangan Uni Eropa.
Kritik dan Kekhawatiran terhadap IAA
Proposal ini menuai kritik dari berbagai pemangku kepentingan yang menilai IAA sebagai upaya yang keliru dalam membentuk ulang lanskap industri Eropa. Salah satu kekhawatiran utama adalah fokus sektoralnya yang sempit. Kebijakan ini menargetkan produk industri berat seperti baja, aluminium, semen, dan kendaraan listrik. Namun, hampir tidak ada dukungan langsung bagi industri kimia, yang sangat intensif karbon dan menjadi fondasi bagi banyak sektor produksi lainnya. Industri tembaga juga relatif terabaikan, padahal memiliki peran penting dalam transisi energi dan ekonomi berbasis elektrifikasi.
Dari perspektif ekonomi dan perdagangan global, Uni Eropa juga menghadapi kritik. Selama ini, Uni Eropa dikenal sebagai pendukung kuat perdagangan bebas, sistem perdagangan berbasis aturan, dan multilateralisme. Namun, proposal ini memunculkan pertanyaan tentang konsistensi peran tersebut, karena oleh sebagian pihak dipandang sebagai kebijakan proteksionis. Di tengah lanskap global yang semakin terfragmentasi, IAA berisiko menjadi langkah mundur dari kolaborasi internasional.
Kelompok lingkungan juga mengkhawatirkan bahwa IAA lebih menekankan penguatan daya saing dibandingkan pencapaian tujuan iklim. Mereka menilai bahwa regulasi dalam IAA perlu dibuat lebih jelas dan lebih ketat. Sebagai contoh, kebijakan ini menetapkan persyaratan 25% penggunaan baja rendah karbon dalam pengadaan. Namun, para pengkritik berargumen bahwa ambang ini terlalu rendah, mengingat sekitar 45% produksi baja di Eropa sudah menggunakan teknologi emisi lebih rendah. Akibatnya, kuota tersebut lebih mencerminkan kondisi saat ini ketimbang mendorong transformasi yang berarti.
Tantangan yang Tersisa dan Arah ke Depan
Salah satu isu mendasar yang relatif kurang mendapat perhatian dalam perdebatan IAA adalah sumber bahan baku untuk teknologi energi bersih. Ekspansi manufaktur domestik baterai, kendaraan listrik, dan teknologi nol-emisi lainnya akan meningkatkan permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, kobalt, dan unsur tanah jarang. Namun, Uni Eropa masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan ini.
Di sisi lain, rantai pasok mineral tersebut kerap terkait dengan eksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja. Tanpa mekanisme pengamanan yang memadai, IAA berisiko memperburuk praktik yang tidak adil dan tidak berkelanjutan, yang secara tidak proporsional merugikan negara-negara Global Selatan demi keuntungan Global Utara. Memastikan bahwa transisi industri yang didorong oleh IAA tidak memperdalam ketimpangan ini akan menjadi tantangan krusial.
Pada akhirnya, kemajuan ekonomi tidak boleh lagi mengesampingkan pembangunan berkelanjutan yang inklusif. Menjaga keseimbangan antara keduanya menjadi kunci agar IAA benar-benar berkontribusi pada pembangunan ekonomi Uni Eropa, pencapaian target dekarbonisasi Eropa, serta stabilitas sistem perdagangan global.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memahami Penyebab Krisis Bunuh Diri di Lesotho
Pesisir Banggai dalam Kepungan Sampah Plastik
Kurangnya Pengakuan Hukum atas Hak Kepemilikan Tanah bagi Perempuan di Selatan Global
Seruan untuk Reformasi Sistem Jaminan Sosial yang Inklusif
Ongkos Pusat Data yang Tidak Proporsional bagi Masyarakat Lokal
Proyek Rp74,6 miliar untuk Kendalikan Spesies Asing Invasif di Indonesia