Skip to content
  • Tentang
  • Bermitra dengan Kami
  • Beriklan dengan Kami
  • GNA Internasional
  • Berlangganan
  • Log In
Primary Menu
  • Beranda
  • Terbaru
  • Topik
  • Wilayah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Maluku
    • Nusa Tenggara
    • Papua
    • Sulawesi
    • Sumatera
  • Kabar
  • Ikhtisar
  • Wawancara
  • Opini
  • Figur
  • Infografik
  • Video
  • Komunitas
  • Siaran Pers
  • ESG
  • Muda
  • Dunia
  • Kabar
  • Unggulan

Jumlah Pengungsi Berlipat Ganda di Myanmar

Pengungsi lebih rentan terhadap pelanggaran hak asasi manusia. Di Myanmar, jumlah mereka terus meningkat.
Oleh Kamil Ghiffary
22 Maret 2022
Internally displaced people received assistance at the Myaing Gyi Ngu camp in Myanmar Kayin State

Sumber: UNHCR/Sa Nyein Chan

Apakah Anda tahu bahwa pengungsi memiliki risiko kematian yang lebih tinggi? Menurut Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), para pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka lebih rentan terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM), seperti penculikan, kekerasan seksual, kekerasan fisik, dan langkanya sumber tempat tinggal, makanan, serta pendidikan.

Pada Februari 2022, PBB memperkirakan 800.000 orang di Myanmar hidup dalam pengungsian. Statistik ini memburuk sejak kudeta militer Myanmar mengambil alih kekuasan tahun lalu, menyebabkan 441.500 orang direlokasi secara internal di seluruh penjuru negara tersebut.

Banyak organisasi kemanusiaan mengamati bahwa jumlahnya akan meningkat hanya dalam beberapa minggu dan bulan mendatang jika melihat tren yang ada.

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UNOCHA) menekankan bahwa pengungsian warga sipil sangat parah di beberapa wilayah. Kota Rakhine, Kachin, Chin, dan Shan telah kehilangan 370.000 warga sipil akibat penggusuran. Di bagian tenggara Myanmar, jumlahnya mencapai 232.000 orang.

Yang Akan Bertambah: Restriksi

Angka-angka tersebut diyakini akan tidak stabil (volatile). Pertama, Dewan Keamanan PBB telah dicegah untuk menangani masalah ini, yang berdampak pada pembatasan bantuan kemanusiaan oleh Myanmar.

Bantuan kemanusiaan, yakni dari UNOCHA dan Badan Pengungsi PBB, oleh karenanya menjadi tidak efektif karena komunitas lokal dari Myanmar bertindak sebagai garis depan mereka.

“Akses kemanusiaan di banyak wilayah Myanmar terus dibatasi karena ketidakamanan, penutupan jalan, dan hambatan dalam mendapatkan persetujuan. Akibatnya, masyarakat dan petugas setempat terus memainkan peran utama,” kata jurnalis dan juru bicara UNHCR, Matthew Saltmarsh.

Yang Akan Bertambah: Kemiskinan

Kedua, jumlah pengungsi masih bergejolak karena garis kemiskinan yang semakin meningkat akibat krisis politik Myanmar dan COVID-19.

Proyeksi dari Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) menekankan isu mengenai tingkat kemiskinan Myanmar yang akan meningkat hingga 300%—25 juta dari 55 juta total penduduk Myanmar.

“Pergeseran ke arah kemiskinan dalam skala ini dapat berarti hilangnya kelas menengah,” kata Kanni Wignaraja, Direktur Biro Regional UNDP untuk Asia dan Pasifik, memperingatkan. Kenyataannya, hal tersebut telah terjadi pada masyarakat yang tinggal di perkotaan, yakni Chin dan Rakhine.

Untuk mengatasi masalah ini, Badan Pengungsi PBB telah bekerja sama dengan lembaga PBB lainnya, komunitas lokal, dan kelompok yang terkena dampak untuk membantu warga sipil yang terkena dampak. Publikasi Rencana Respons Kemanusiaan (HRP) 2022 menunjukkan pendekatan strategis dan ruang lingkup tindakan yang diperlukan untuk badan kemanusiaan tersebut, dengan perkiraan biaya sekitar US$826 juta untuk membantu 6,2 juta orang di Myanmar yang membutuhkan.

Peran Komplementer Kita

Menurut OHCHR, tidak ada organisasi internasional atau lembaga kemanusiaan yang pernah menjadi inisiator global dalam menangani para pengungsi di dalam suatu negara. Artinya, penting bagi masyarakat global untuk mengangkat isu ini menjadi perhatian internasional.

Dengan ‘efek bumerang’ ini, kita dapat berharap bahwa lembaga-lembaga kemanusiaan akan melobi pemerintah mereka masing-masing, sehingga tercipta tekanan internasional terhadap negara yang disasar, dalam hal ini Myanmar, untuk menghentikan pelanggaran HAM kepada rakyat mereka.

Penerjemah: Abul Muamar

Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.

Perkuat pengembangan kapasitas pribadi dan profesional Anda dengan Langganan GNA Indonesia.

Jika konten ini bermanfaat, harap pertimbangkan Langganan GNA Indonesia untuk mendapatkan akses digital ke wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia dan dunia.

Pilih Paket Langganan Anda

Kamil Ghiffary
Website |  + postsBio

Kamil adalah seorang dosen dan penulis konten di Green Network Asia.

  • Kamil Ghiffary
    https://greennetwork.id/author/kamilghiffary/
    Perbincangan Tentang Sampah, Pengelolaan Sampah Urban
  • Kamil Ghiffary
    https://greennetwork.id/author/kamilghiffary/
    Sendai Framework Sebagai Panduan Strategi Pengurangan Risiko Bencana Indonesia

Continue Reading

Sebelumnya: Australia Luncurkan Skema Daur Ulang Baterai Nasional
Berikutnya: Menaikkan Batas Usia Dewasa di Filipina dan Harapan yang Lebih Lagi

Baca Kabar dan Cerita Lainnya

bintik-bintik cahaya di kegelapan hutan dengan pohon-pohon besar Dunia yang Kian Gemerlap dan Kelap-kelip Kunang-Kunang yang Kian Lenyap
  • GNA Knowledge Hub
  • Kabar
  • Unggulan

Dunia yang Kian Gemerlap dan Kelap-kelip Kunang-Kunang yang Kian Lenyap

Oleh Abul Muamar
1 September 2025
sepasang kaki yang memakai alat bantu berupa sepatu dan kruk Strategi Regional Afrika untuk Prioritaskan Layanan Rehabilitasi
  • GNA Knowledge Hub
  • Kabar
  • Unggulan

Strategi Regional Afrika untuk Prioritaskan Layanan Rehabilitasi

Oleh Kresentia Madina
1 September 2025
mobil angkutan berwarna biru tanpa penanda rute di kelokan jalan dekat pos polisi lalu lintas Harapan akan Perbaikan Sistem Transportasi Umum di Kota Serang
  • Konten Komunitas
  • Unggulan

Harapan akan Perbaikan Sistem Transportasi Umum di Kota Serang

Oleh Ajeng Rizkasari
28 Agustus 2025
Topi wisuda melambangkan semakin banyaknya lulusan yang menghadapi kesempatan kerja terbatas Sarjana Berlimpah, Cari Kerja Susah: Mengulik Isu Pengangguran Sarjana di Negara Berkembang
  • Ikhtisar
  • Unggulan

Sarjana Berlimpah, Cari Kerja Susah: Mengulik Isu Pengangguran Sarjana di Negara Berkembang

Oleh Sukma Prasanthi
28 Agustus 2025
seorang pedagang bertopi caping mendorong gerobak menyeberangi jalan. Mengatasi Heat Stress Okupasional Demi Keselamatan dan Kesehatan Pekerja
  • Eksklusif
  • Kabar
  • Unggulan

Mengatasi Heat Stress Okupasional Demi Keselamatan dan Kesehatan Pekerja

Oleh Dinda Rahmania
27 Agustus 2025
foto udara KEK Mandalika; terdapat jalanan dan beberapa bangunan di wilayah yang terhubung pantai dan laut Sisi Kelam Pengembangan Pariwisata di Kawasan KEK Mandalika
  • Eksklusif
  • Ikhtisar
  • Unggulan

Sisi Kelam Pengembangan Pariwisata di Kawasan KEK Mandalika

Oleh Seftyana Khairunisa
26 Agustus 2025

Tentang Kami

  • Surat CEO GNA
  • Tim In-House GNA
  • Jaringan Penasihat GNA
  • Jaringan Author GNA
  • Panduan Artikel Opini GNA
  • Panduan Konten Komunitas GNA
  • Layanan Penempatan Siaran Pers GNA
  • Program Magang GNA
  • Pedoman Media Siber
  • Ketentuan Layanan
  • Kebijakan Privasi
© 2021-2025 Green Network Asia