Proyek BIFA Bantu Konservasi Lebah Madu di Thailand Melalui Penelitian dan Digitalisasi
Foto: Chris di Pexels.
Lebah madu berperan penting dalam melestarikan ekosistem alam dan kehidupan manusia. Sebuah penelitian global menemukan bahwa meskipun 15% spesies lebah dunia diyakini hidup di Asia, hanya ada 1% dari data yang tersedia mengenai distribusi lebah di seluruh dunia berasal dari kawasan tersebut. Merespons hal ini, Thailand meluncurkan sebuah proyek penelitian bersama, yakni Dana Informasi Keanekaragaman Hayati Untuk Asia (Biodiversity Information Fund for Asia/BIFA), yang menghasilkan database dan digitalisasi keanekaragaman lebah madu di wilayah tersebut.
Lebah Madu di Thailand
Asia Tenggara mempunyai delapan spesies lebah madu asli yang teridentifikasi, empat di antaranya dapat ditemukan di Thailand. Selain berperan sebagai penyerbuk yang membantu reproduksi tanaman berbunga, lebah madu juga memberikan pendapatan bagi penduduk pedesaan di Thailand. Pusat Penelitian Lebah Madu dan Penyerbuk Asli (NHBEE) di Thailand memperkirakan pendapatan yang diperoleh dari produk lebah madu mencapai USD700 per tahun.
Hilangnya habitat, terbatasnya distribusi dan peluang bersarang, pemanenan madu yang tidak berkelanjutan, dan perubahan iklim merupakan ancaman bagi lebah madu. Untuk itu, diperlukan upaya konservasi lebah di seluruh Asia, termasuk melalui penelitian. Akan tetapi, mengumpulkan data bukan perkara mudah. Sebagian besar penelitian lebah yang dilakukan di Asia hanya berfokus pada penelitian lebah secara individu dibandingkan penelitian pada komunitas yang luas.
Proyek Dana Informasi Keanekaragaman Hayati Untuk Asia (BIFA)
Thailand merespons masalah tersebut melalui Dana Informasi Keanekaragaman Hayati Untuk Asia (BIFA). BIFA merupakan proyek penelitian Universitas Chulalongkorn yang bekerja sama dengan Global Biodiversity Information Facility (GBIF), sebagai jaringan dan infrastruktur data internasional.
Kegiatan proyek BIFA antara lain memotret sampel lebah, merancang barcode dan label yang menyimpan informasi genetik untuk dibaca secara digital, membuat duplikasi data untuk memungkinkan publikasi di GBIF, dan memetakan sebaran spesies.
Sejauh ini, proyek penelitian tersebut telah menerapkan kerjanya pada 8.000 spesimen lebah—sekitar 67% dari total koleksi Museum Sejarah Alam Universitas Chulalongkorn (CUNHM). Selain menyediakan database di GBIF, proyek ini juga berkontribusi terhadap penyediaan informasi keanekaragaman hayati di Thailand melalui Badan Pengembangan Sains dan Teknologi Nasional (NSTDA), mitra yang menyediakan dana pendamping.
Selain itu, prosedur dan teknik digitalisasi pencatatan lebah ini akan dibagikan kepada universitas-universitas dan institusi lain di negara tersebut untuk penelitian di masa depan.
Perlu Penelitian Lebih Lanjut
Penelitian adalah bagian penting dari konservasi. Data yang dihasilkan akan memberikan informasi kepada pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya tentang cara untuk bergerak maju dan memberikan pelayanan terbaik bagi manusia dan Bumi.
Natapot Warrit, asisten profesor dan peneliti di Universitas Chulalongkorn, mengatakan bahwa kolaborasi antarpeneliti di berbagai negara sangat penting untuk memahami ragam lebah.
“Kita perlu tahu di mana mereka berada sehingga kita bisa melindungi mereka. Segera setelah kita mendapatkan data yang memadai, kita dapat mulai menilai kondisi mereka yang masuk dalam daftar merah untuk mempelajari lebih lanjut tentang kerentanan mereka terhadap kepunahan,” kata Warrit.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Prayul is a Reporter at Green Network Asia. She graduated from Adi Buana University with a bachelor's degree in Biology.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan