‘Upah Batin’ di Ruang Kelas dan Urgensi Pekerjaan Layak untuk Guru
lustrasi: Irhan Prabasukma.
Di tengah isu kesejahteraan serta tuntutan kerja yang tinggi, profesi guru sering digambarkan sebagai pekerjaan yang sarat pengorbanan. Dalam logika ekonomi yang kaku, orang mungkin akan berbondong-bondong keluar dari sebuah industri dengan “imbal hasil” rendah, namun di ruang kelas sekolah dasar, ada sebuah anomali yang rasanya tidak sederhana untuk dijelaskan. Di tengah keluhan beban administrasi yang mencekik, guru-guru masih mampu melangkah ke ruang kelas dengan binar mata yang sama setiap pagi. Mengapa profesi yang sering dianggap menyedihkan ini tetap menjadi pilihan hidup bagi ribuan orang?
Barangkali, profesi guru tidak bisa dipandang semata-mata dengan neraca untung-rugi materiil. Ada semacam “dividen emosional” yang tidak tercatat dalam slip gaji, yang menjadi alasan fundamental mengapa roda pendidikan tetap berputar. Dividen emosional yang dimaksud di sini adalah pengalaman afektif yang lahir dari relasi yang tulus antara guru dan murid. Namun, di sini perlu kehati-hatian agar energi afektif ini tidak dibaca sebagai pengganti pemenuhan kesejahteraan material dan perlindungan profesional di tingkat sistemik. Dividen emosional mungkin dapat menjadi sumber makna personal yang menjaga daya tahan psikologis, tetapi tidak boleh dijadikan alasan–apalagi “dimanfaatkan”–untuk membiarkan ketimpangan struktural terus terjadi.
“Upah Batin” di Ruang Kelas
Mengapa interaksi di ruang kelas bisa terasa begitu terapeutik? Dalam dunia korporat atau birokrasi yang kaku, absennya seseorang dari meja kerja biasanya disambut oleh tumpukan berkas yang menuntut penyelesaian segera. Namun, di sekolah dasar, ekosistemnya bekerja dengan cara yang berbeda. Sekolah bukan sekadar tempat transfer kognisi, melainkan sebuah ruang afeksi yang jujur.
Saya mengenang pengalaman saya mengajar di sebuah sekolah dasar ketika harus absen karena sakit. Saat kembali, yang menyambut saya bukanlah tuntutan profesionalisme, melainkan serbuan “kaki-kaki kecil” yang berlarian ke arah saya. Pertanyaan mereka sederhana namun penuh kehangatan: ”Pak Dimas sudah sembuh? Obatnya pahit ndak?”, dan semacamnya. Di sini, analoginya serupa dengan oase di tengah gurun sinisme dunia dewasa; ketika kita dipaksa memakai topeng kepatuhan yang kaku, anak-anak justru memaksa kita untuk kembali menjadi manusia seutuhnya.
Tentu saja, tawa polos anak-anak tidak otomatis melunasi beban ekonomi dan cicilan bulanan. Energi murni dari siswa memberikan daya tahan, namun keberlanjutan pengabdian guru membutuhkan jaminan kesejahteraan yang layak dari pengambil kebijakan. Tanpa dukungan sistemik, oase emosional ini lambat laun akan mengering akibat tekanan hidup yang terus menerus terabaikan.
Inovasi dan Ruang Gerak Guru
Dividen emosional juga sering muncul dari momen ketika guru berhasil menyalakan rasa ingin tahu anak-anak. Namun pengalaman semacam ini tidak lahir dari ruang kelas yang kaku, melainkan dari ruang belajar yang memberi kebebasan untuk bereksplorasi.
Dalam struktur pendidikan kita, seringkali muncul kekhawatiran bahwa inovasi adalah musuh dari ketuntasan materi. Ada skeptisisme bahwa membawa siswa keluar dari kelas hanya akan membuang waktu. Namun, pengalaman saya justru menunjukkan sebaliknya: pembelajaran yang paling membekas lahir saat kita berani melangkah keluar dari batas kaku buku-buku teks. Menjadi pengajar di jenjang dasar menawarkan kemerdekaan kreatif untuk menjaga “api” rasa ingin tahu siswa tetap menyala.
Saya selalu membayangkan suatu ruang kelas tanpa dinding. Saat kejenuhan melanda, saya mengajak siswa menyusuri pematang sawah di sekitar sekolah. Hasilnya? Mereka bertransformasi menjadi peneliti cilik yang haus jawaban. Mereka mempertanyakan hal-hal yang mungkin luput dari perhatian orang dewasa: mengapa rumah di kampung berhimpit tanpa sekat, mengapa ular mengganti kulitnya, dan banyak pertanyaan polos namun penting lainnya. Di sini, peran guru bergeser dari satu-satunya sumber ilmu menjadi fasilitator eksplorasi.
Secara teoretis, hal ini sejalan dengan pandangan Jean Piaget bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. Mereka butuh objek nyata untuk membangun logika tentang dunia. Ketika teori ini diterjemahkan ke dalam praktik, baik melalui observasi alam maupun penggunaan teknologi, saat itulah “kesenangan” mengajar mencapai puncaknya. Ada kepuasan intelektual yang tak ternilai saat melihat mata rantai konsep dalam buku teks akhirnya tersambung dengan realitas di depan mata siswa.
Namun, inovasi pedagogik semacam ini membutuhkan ruang gerak yang memadai. Guru membutuhkan dukungan kebijakan yang nyata berupa pengurangan beban administrasi, otonomi pedagogik yang dijamin oleh institusi, serta waktu yang cukup untuk mempersiapkan pembelajaran yang bermakna–yang tentunya juga ditopang dengan basis material yang aman melalui upah yang layak dan bermartabat. Tanpa kepastian kerja dan keleluasaan waktu, kreativitas guru hanya akan menjadi beban tambahan di tengah kelelahan fisik.
Fondasi yang Menopang
Profesi guru memiliki lapisan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar angka di atas slip gaji. “Upah batin” berupa riuh tawa dan binar mata siswa adalah terapi yang membuat guru tetap “muda” secara intelektual. Namun, pada akhirnya, kelayakan hidup seorang guru tidak dapat ditentukan oleh kapasitas individu dalam mengelola kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan profesional harus diseimbangkan dengan pengakuan bahwa ekosistem kebijakan dan institusi yang mendukung adalah syarat mutlak.
Dengan memposisikan diri sebagai fasilitator, guru memang memiliki otoritas sebagai arsitek jiwa. Akan tetapi, arsitek mana pun membutuhkan fondasi yang kokoh untuk membangun karyanya. Fondasi itu adalah kondisi kerja yang layak, yang mencakup namun tidak terbatas pada upah layak yang memungkinkan hidup bermartabat, kepastian status dan perlindungan profesi, jaminan sosial, serta ruang pedagogik yang memberi kepercayaan kepada guru untuk berpikir dan berkreasi. Kenyataannya, fondasi tersebut belum sepenuhnya hadir bagi banyak guru di Indonesia. Sampai hari ini bahkan masih ada—dan sulit dihitung jumlahnya—guru sekolah dasar di berbagai daerah yang dibayar dengan upah yang sangat menyedihkan, jauh dari ukuran hidup layak.
Jika fondasi itu benar-benar terpacak dengan kuat, ruang kelas tidak hanya akan menjadi tempat belajar bagi murid, tetapi juga menjadi ruang yang menjaga martabat profesi guru itu sendiri.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Melihat Inisiatif Green Ramadan di Berbagai Negara
Jalan Mundur Pelindungan Pembela HAM di Indonesia
Kekeringan Parah di Somalia dan Dampaknya yang Meluas
Memastikan Akses terhadap Keadilan bagi Perempuan dan Anak Perempuan
Infrastruktur Tak Terlihat yang Dibutuhkan Pasar Karbon ASEAN
Pemerintah Mulai Reforestasi Taman Nasional Tesso Nilo