Kapitalisme Bukanlah Takdir: Membaca Clara Mattei di Tengah Kelelahan Kolektif
Cover buku “Escape from Capitalism: Economics is Political, and Other Liberating Truths” karya Clara Mattei. | Foto:
Kelelahan kolektif agaknya tengah merasuki generasi kita. Bukan saja kelelahan fisik dan mental semata, melainkan kelelahan epistemik. Kelelahan akibat terus-menerus diberitahu bahwa tidak ada jalan lain: bahwa pengangguran adalah harga yang harus dibayar untuk stabilitas harga; bahwa pemotongan anggaran pemerintah untuk pelayanan masyarakat adalah obat pahit tapi perlu; bahwa pasar bebas, betapapun kerasnya berdenyut, adalah mekanisme terbaik yang pernah dirancang manusia untuk mengalokasikan sumberdaya. Clara Mattei, profesor ekonomi di Universitas Tulsa dan pendiri Forum for Real Economic Emancipation (FREE), kini hadir dengan sebuah buku yang tipis namun mengandung substansi yang berat: Escape from Capitalism: Economics is Political, and Other Liberating Truths. Dan pesan utamanya bisa diringkas dalam satu kalimat: kelelahan yang kita rasakan itu bukanlah takdir, melainkan hasil desain.
Mattei sama sekali bukan pendatang baru dalam perdebatan ini. Buku sebelumnya, The Capital Order (2022), telah menempatkannya di garis depan intelektual yang mengurai akar sejarah kebijakan pemotongan anggaran pemerintah dan hubungannya yang mengejutkan dengan kebangkitan fasisme di Eropa awal abad ke-20. The Capital Order mendapatkan pujian dari Financial Times sebagai salah satu buku ekonomi terbaik tahun itu dan diterjemahkan ke lebih dari selusin bahasa. Kini, dengan Escape from Capitalism, Mattei mempersingkat argumennya, memperkeras kritiknya, dan mengalamatkannya langsung kepada publik umum; bukan kepada akademisi, melainkan kepada jutaan orang di seluruh dunia yang setiap hari bergulat dengan tagihan, upah, dan keputusasaan yang tak bernama. Dan, agaknya saya bakal kesulitan menemukan buku ekonomi yang lebih bernas lagi tahun ini.
Ilmu Pengetahuan Sebagai Topeng Politik
Argumen paling mendasar dalam buku ini adalah sebuah klaim yang terasa provokatif namun, setelah Mattei merentangkan buktinya, terasa sulit dibantah: ilmu ekonomi arus utama tidak pernah netral. Ia tidak pernah benar-benar berdiri di luar arena politik sebagai wasit yang objektif. Ia adalah bagian dari arena itu, atau bahkan, ia adalah alat yang digunakan satu pihak untuk memenangkan permainan sebelum peluit tanda permainan dimulai ditiup.
Mattei dengan brilian menelusuri genealogi klaim ‘netralitas’ ini ke masa setelah Perang Dunia Pertama, ketika dunia yang hancur membutuhkan otoritas baru. Di tengah kekacauan itu, ekonomi dinaikkan pangkatnya menjadi sains, dilengkapi dengan formula matematika, institusi baru, dan bahasa teknis yang sengaja dibuat terlalu rumit untuk dipahami orang biasa. Langkah ini, menurut Mattei, bukan sekadar untuk kemajuan intelektual. Ia adalah manuver politik: dengan membungkus keputusan distribusi kekuasaan ke dalam persamaan diferensial, para ekonom berhasil memindahkan debat tentang siapa yang mendapat apa—pertanyaan yang semestinya diputuskan secara demokratis—ke ruang-ruang yang tertutup dari jangkauan warga biasa.
Hasilnya adalah apa yang Mattei sebut sebagai perangkap ideologis terbesar abad modern: Kapitalisme yang tampak bukan sebagai pilihan politik, melainkan sebagai hukum alam. Sama seperti gravitasi yang tidak bisa dilobi, pasar bebas seolah-olah juga tidak bisa dinego. Siapa pun yang mempertanyakannya dianggap naif, sentimental, atau–dalam kata-kata yang paling sering digunakan untuk menyudahi perdebatan–‘tidak realistis’.
Empat Lensa yang Menyibak Kabut
Buku ini menggunakan empat lensa analitis untuk membedah arsitektur Kapitalisme: austeritas, pengangguran, dominasi Barat, dan demokrasi. Masing-masing bab membongkar satu konsep yang selama ini diterima sebagai fakta ekonomi, dan memperlihatkan bahwa di baliknya terdapat pilihan politik yang menguntungkan segelintir pihak. Bagi saya, setiap bab itu seperti satu semester kuliah yang membelalakkan mata.
Austeritas adalah lensa pertama, dan Mattei menuliskannya dengan kemarahan yang terkendali. Narasi dominan tentang austeritas, yaitu bahwa pemerintah harus ‘memperketat ikat pinggang’ seperti rumah tangga yang bijak, ia telanjangi sebagai analogi yang menyesatkan. Negara bukan rumah tangga. Dan pemotongan belanja untuk kepentingan publik bukanlah sekadar penghematan netral; ia adalah redistribusi dari layanan kesehatan, pendidikan, dan jaminan sosial yang dinikmati banyak orang, menuju insentif pajak dan proteksi aset yang dinikmati sedikit orang super-kaya. Austeritas, dalam kerangka Mattei, bukan gejala sampingan Kapitalisme yang tidak menyenangkan. Seperti kata Mattei sendiri, ia adalah fitur, bukan bug.
Pengangguran adalah lensa kedua yang dipakai, dan di sinilah Mattei mengajukan argumen yang paling menohok. Pengangguran, ia tegaskan, bukan kegagalan sistem melainkan kebutuhan sistem. Para pemilik modal takut pada kondisi di mana setiap pekerja terserap penuh oleh pasar tenaga kerja, karena dalam kondisi seperti itu, buruh memiliki daya tawar. Mereka bisa menuntut upah lebih tinggi, jam kerja lebih pendek, kondisi kerja yang lebih manusiawi. Kondisi ini dipastikan mengurangi keuntungan. Maka, sejumlah pengangguran harus dipertahankan. Bukan lantaran ekonomi tidak mampu menciptakan lapangan kerja, melainkan karena “ketidakmampuan” itu menguntungkan. Frasa ‘tingkat pengangguran alamiah’ yang bertebaran di buku teks ekonomi sejak dahulu adalah, menurut Mattei, eufemisme bagi tingkat ketidakamanan kerja yang cukup untuk membuat buruh tetap patuh kepada para pemilik modal.
Dominasi Barat, lensa ketiga, memperluas kritik ke tataran global. Institusi-institusi keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia, yang kerap dipuja sebagai pilar stabilitas dunia, digambarkan Mattei sebagai eksportir logika Kapitalisme ke negara-negara Selatan Global, sering kali melalui program penyesuaian struktural yang memaksa privatisasi, pemotongan subsidi, dan liberalisasi pasar sebagai syarat pinjaman. Hasilnya, negara-negara miskin terpaksa mengorbankan kedaulatan ekonomi mereka atas nama ‘reformasi’ yang justru memperparah ketergantungan mereka pada kapital Barat. Di sini Mattei tidak berbicara dalam abstraksi, ia menyodorkan data dan analisis tentang pendidikan yang tidak bisa diakses semua orang, air bersih yang diprivatisasi, dan petani yang tersingkir oleh impor bersubsidi.
Demokrasi adalah lensa keempat, dan mungkin yang paling meresahkan. Mattei mengajukan tesis yang berani: Kapitalisme dan demokrasi sejati mustahil berdampingan. Bukan karena Kapitalisme selalu hadir bersama kediktatoran—ini jelas tidak—melainkan karena Kapitalisme secara sistematis memindahkan keputusan-keputusan ekonomi yang paling menentukan keluar dari jangkauan proses yang demokratis. Bank sentral yang menentukan suku bunga, lembaga pemeringkat yang menilai utang negara, forum internasional yang menegosiasikan aturan perdagangan. Semuanya beroperasi di luar kendali pemilih biasa. Kita memilih anggota parlemen, tapi parlemen tidak memilih siapa yang memimpin bank sentral. Kita memilih presiden, tapi presiden tidak bisa memerintahkan IMF, sementara yang sebaliknya terus terjadi. Kekuasaan ekonomi yang sesungguhnya, Mattei berpendapat, telah dikunci di balik pintu yang berlabel ‘keahlian teknis’, dan kunci untuk pembuka pintu itu tidak pernah diberikan kepada rakyat.
Merenungi Karya Clara Mattei
Kekuatan terbesar Escape from Capitalism adalah kejernihan moralnya yang disampaikan tanpa tedeng aling-aling. Pada era di mana para intelektual sering kali melarikan diri ke dalam ketidakpastian yang seakan tak berujung—setiap klaim diimbangi dengan pengecualian, setiap kritik dilunakkan dengan pujian—Mattei memilih untuk berbicara blak-blakan. Ia tidak menyembunyikan keberpihakannya. Ia berpihak pada pekerja, pada komunitas yang diabaikan, pada negara-negara yang didikte dari luar. Dan ia melakukannya dengan amunisi intelektual yang kokoh: sejarah, data, dan analisis institusional yang tidak bisa dengan mudah dimentahkan.
Buku ini juga luar biasa aksesibel untuk sebuah teks yang berbicara tentang teori ekonomi politik. Mattei memiliki kemampuan langka untuk menjelaskan mekanisme teknis seperti bagaimana suku bunga bekerja, mengapa inflasi bisa dipicu oleh kerakusan korporasi (greedflation) dan bukan sekadar uang yang beredar, dengan sederhana tanpa mengorbankan kedalaman. Gaya penulisannya membuat saya merasa seperti berbicara dengan seorang teman yang sangat cerdas yang sedang menjelaskan sesuatu di sebuah kafe, bukan seperti ceramah profesor dari podium universitas.
Dimensi personal juga menjadi kekuatan tersendiri. Mattei membuka buku dengan kisah keluarganya: ia adalah cicit dari dua pejuang resistensi komunis Italia, Gianfranco dan Teresa Mattei, yang melawan ideologi Fasisme. Latar biografis ini bukan sekadar ornamen emosional. Dari situ ia bisa menunjukkan bahwa pertanyaan tentang ekonomi adalah pertanyaan tentang nyawa manusia, tentang siapa yang selamat dan siapa yang tidak, tentang sistem apa yang kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Namun, tentu saja, buku ini bukan tanpa celah. Pada 224 halaman, Escape from Capitalism terasa seperti manifesto yang berakhir tepat ketika ia seharusnya mulai. Bagian tentang alternatif, tentang apa yang dimaksud Mattei dengan ‘demokrasi ekonomi’ secara konkret terasa terlampau singkat dan bahkan kadang terlalu samar. Ia menyebut komunitas barter di Mississippi sebagai contoh bibit ekonomi alternatif, dan memang contoh itu menyentuh hati, tapi pembaca seperti saya yang sudah setuju dengan diagnosisnya akan merasakan dahaga intelektual untuk lebih mengetahui bagaimana transisi dari barter di tingkat komunitas ke reformasi sistem moneter nasional atau bahkan antar-negara. Bagaimana, misalnya, demokrasi ekonomi beroperasi di negara Indonesia dengan 287 juta penduduk dan ekonomi yang terintegrasi ke rantai pasokan global?
Mattei juga tidak cukup bergulat dengan kritik paling serius terhadap posisinya: bahwa Kapitalisme, betapapun cacat dan tidak adilnya, telah mengentaskan ratusan juta orang dari kemiskinan ekstrem. Ini adalah sebuah klaim yang bisa diperdebatkan, tetapi tidak bisa diabaikan begitu saja. Para pembela Kapitalisme akan bertanya: apa jaminan bahwa sistem alternatif tidak akan menghasilkan kemiskinan yang lebih parah? Mattei berhak skeptis terhadap statistik ini (dan ada argumen kuat bahwa definisi dan batasan ‘kemiskinan ekstrem’ yang digunakan sengaja dipilih untuk membuat Kapitalisme terlihat baik), tapi, menurut saya, ia perlu meladeni pertanyaan itu secara lebih langsung.
Selain itu, fokus buku yang kuat pada Barat—pada Federal Reserve, IMF, dan sejarah Eropa—kadang membuat pengalaman negara-negara berkembang tampak sebagai catatan kaki ketimbang subjek utama. Bagi pembaca di Asia Tenggara, Afrika, atau Amerika Latin, suara-suara lokal tentang resistensi terhadap Kapitalisme akan sangat memperkaya argumen Mattei. Lagipula, sebetulnya di seluruh negara Kapitalisme mendatangkan beragam dampak negatif, dalam berbagai skala, sehingga analisis dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari Kapitalisme perlu dimulai dari banyak negeri yang tak disebut Mattei.
Pilihan yang Bisa Diubah
Bagi mereka yang mendambakan keadilan ekonomi dan sosial serta keberlanjutan lingkungan, Escape from Capitalism adalah bacaan yang statusnya bisa saya katakan ‘hampir wajib’. Bukan lantaran ia memberikan semua jawaban, melainkan karena ia memberikan sesuatu yang lebih berharga, yaitu cara pandang baru, terutama lewat keempat lensa yang luar biasa itu. Setelah membacanya, kita tidak akan lagi bisa mendengar kalimat “tidak ada alternatif lain” tanpa mendengar pertanyaan yang menyertainya: alternatif bagi siapa?
Mereka yang tertarik dapat melanjutkan perjalanan intelektual ini dengan sejumlah karya komplementer. The Capital Order (2022) karya Mattei sendiri menyediakan fondasi sejarah yang lebih dalam. The Value of Everything (2018) oleh Mariana Mazzucato membongkar mitos bahwa nilai ekonomi hanya diciptakan oleh sektor swasta. Doughnut Economics (2017) oleh Kate Raworth menawarkan kerangka alternatif yang lebih konkret dan ramah lingkungan, dengan menempatkan batas-batas planet sebagai parameter ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Dan Debt: The First 5,000 Years (2011) oleh David Graeber memberikan perspektif antropologis yang memperlihatkan bahwa uang, utang, dan pasar adalah konstruksi sosial, bukan fakta alam semesta.
Untuk aktivis dan praktisi yang ingin tindakan konkret, gerakan ekonomi solidaritas, koperasi pekerja, dan inisiatif ekonomi sirkular memberikan jalan masuk ke dunia yang sedang coba diimajinasikan Mattei. Di Indonesia sendiri, koperasi, arisan, dan berbagai sistem gotong-royong komunitas sebenarnya adalah bukti bahwa logika ekonomi di luar pasar bebas bukan sekadar angan-angan. Ia sudah hidup, dalam berbagai skalanya, di tengah-tengah kita.
Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah undangan: undangan untuk berhenti menerima ketidakadilan sebagai ‘hukum alam’ dan mulai melihatnya sebagai produk dari pilihan-pilihan yang, karena pernah dibuat, bisa juga diubah. Clara Mattei tidak menjanjikan utopia. Ia tidak menawarkan peta jalan yang lengkap. Apa yang ia tawarkan adalah sesuatu yang lebih jarang dan lebih berharga di zaman ini: keyakinan yang berdasar bahwa dunia lain itu bukan sekadar mungkin, melainkan benar-benar kita perlukan.
Dan, barangkali, di tengah kelelahan kolektif yang melanda kita, itu sudah cukup untuk memulai.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

Mengintegrasikan Pertanian dalam Permukiman Perkotaan dengan Konsep Agrihood
Meningkatkan Pelindungan Anak di Ruang Digital dengan Pendekatan Tanggung Jawab Bersama
Merangkul Nilai Bisnis Keberlanjutan
Perempuan dalam Pengelolaan Sampah: Mewujudkan Sirkularitas yang Responsif Gender
Potensi dan Tantangan Biodiversity Credits dalam Penguatan Pembiayaan Keanekaragaman Hayati
Bagaimana Program PLTS 100 GW dapat Mendukung Ketahanan Energi