Finding Harmony: Pencarian Harmoni dengan Alam di Benak Sang Raja
Foto: Cuplikan Film Finding Harmony | Sumber: Youtube Amazon Prime Video UK & IE.
Dirilis pada 6 Februari 2026 di Amazon Prime Video, Finding Harmony: A King’s Vision merepresentasikan pencapaian monumental dalam pembuatan film dokumenter lingkungan, mengisahkan dedikasi hampir sepanjang hidup Raja Charles III terhadap filosofi ekologis dan pembangunan berkelanjutan. Sebagai pembelajar dalam pembangunan keberlanjutan dan penggemar film dokumenter, saya mengambil kesempatan pertama untuk menontonnya.
Produksi berdurasi 90 menit ini, disutradarai oleh pembuat film pemenang banyak penghargaan, Nicolas Brown, dan dinarasikan oleh aktris pemenang Academy Award, Kate Winslet. Hasilnya jelas melampaui potret tentang peran kerajaan tradisional. Film ini berhasil menghadirkan meditasi mendalam Sang Raja tentang hubungan kemanusiaan dengan dunia alami.
Evolusi Kesadaran Lima Dekade dalam Finding Harmony
Tesis sentral dokumenter ini berputar pada filosofi Harmony dari Raja Charles III, sebuah pandangan dunia komprehensif yang memposisikan manusia bukan terpisah dari alam tetapi sebagai komponen integral dari tatanan alami. Saya benar-benar merinding ketika Charles mengartikulasikan dalam film, “Semuanya bermuara pada kenyataan bahwa kita sesungguhnya adalah alam itu sendiri. Kita adalah bagian darinya, bukan terpisah darinya.”
Pernyataan yang tampak sederhana ini merangkum puluhan tahun advokasi lingkungan yang dimulai ketika Charles baru berusia 21 tahun, menyampaikan pidato lingkungan pertamanya di Cambridge pada Februari 1970, memperingatkan tentang bahaya polusi plastik. Keprihatinan Charles begitu visioner dan melampaui zamannya, sehingga baru mendapat perhatian arus utama beberapa dekade kemudian.
Struktur naratif film ini dengan cerdik menjalin rekaman arsip dengan wawancara kontemporer, memungkinkan penonton menyaksikan evolusi kesadaran lingkungan Charles selama lebih dari lima dekade. Sekuens yang sangat menyentuh menampilkan Sang Raja meninjau pidato-pidato historisnya sendiri, momen-momen di mana ia menghadapi baik ejekan yang pernah diterimanya maupun pembenaran yang kini dialaminya saat masyarakat mulai memahami peringatan-peringatan awalnya tentang perubahan iklim dan kehilangan keanekaragaman hayati. Dokumenter ini secara jujur menunjukkan bagaimana Charles dinyatakan sebagai eksentrik, bahkan gila, khususnya setelah pengakuannya pada 1986 bahwa ia berbicara kepada tanaman-tanamannya. Pengakuan itu memicu olok-olok bertahun-tahun, namun kini tampak luar biasa mendahului pemahaman kontemporer tentang komunikasi tanaman dan keterkaitan ekosistem. Mungkin saya juga perlu membuat pengakuan: mengikuti petuah Ibu, saya juga berbicara pada tanaman.
Film dokumenter ini diproduksi oleh Passion Planet, anak perusahaan Passion Pictures yang terkenal dengan dokumenter alam seperti The Serengeti Rules. Brown, sang sutradara, adalah pemenang Emmy tiga kali dan penerima BAFTA dua kali dengan pengalaman luas dalam pembuatan film lingkungan. Karya Brown sebelumnya meliputi Earth’s Natural Wonders dan Human Planet yang memenangkan beragam penghargaan, serta kolaborasi dengan Sir David Attenborough pada Climate Chaos. Keahliannya dalam penceritaan visual menghadirkan sinematografi memukau ke Finding Harmony, dengan rekaman yang diambil di empat benua selama enam bulan pembuatan film pada tahun 2025.
Sebuah Narasi Besar tentang Harmoni
Cakupan dokumenter ini meluas jauh melampaui narasi biografis. Ia benar-benar berfungsi sebagai demonstrasi praktis filosofi Harmony. Di jantung demonstrasi ini terletak Dumfries House, sebuah estate Skotlandia abad ke-18 yang diakuisisi dan ditransformasi Raja Charles pada 2007 menjadi markas besar The King’s Foundation. Properti seluas 810 hektare ini berfungsi sebagai apa yang film gambarkan sebagai laboratorium hidup untuk pengembangan komunitas berkelanjutan, di mana pendidikan, program kesehatan dan kesejahteraan, pelatihan kerajinan tradisional, dan pertanian organik berkumpul. Estate ini menawarkan kursus intensif mulai dari tukang batu hingga tekstil berkelanjutan, dari perhotelan hingga sulaman tradisional, menyediakan jalur praktis bagi individu yang mencari untuk terhubung kembali dengan keterampilan berbasis alam.
Satu sekuens yang sangat menyentuh hati saya menampilkan Jennie Regan, seorang mantan administrator universitas berusia 45 tahun yang berlatih sebagai tukang batu di Dumfries House. Kisahnya, bersama dengan kisah siswa lain yang mempelajari kerajinan warisan, mengilustrasikan kekuatan transformatif dari terhubung kembali dengan keterampilan tradisional dan bahan-bahan alami. Narasi personal ini memanusiakan konsep-konsep filosofis yang lebih luas, mendemonstrasikan manfaat nyata bagi individu dan komunitas ketika prinsip-prinsip Harmony diterapkan pada pendidikan dan pelatihan vokasional. Saya menarik napas panjang, lantaran sadar penuh bahwa pendidikan yang sama juga sangat dibutuhkan oleh generasi muda Indonesia.
Film ini lalu memperluas cakupan geografisnya untuk memamerkan projek-projek internasional yang mewujudkan etos Harmony. Penonton dibawa ke komunitas-komunitas berkelanjutan di India, inisiatif produksi tekstil tradisional, upaya konservasi hutan di Guyana, juga proyek pengembangan komunitas di Afghanistan. Contoh-contoh global ini menggarisbawahi bahwa filosofi Harmony melampaui batas-batas budaya, menawarkan prinsip-prinsip yang dapat diterapkan secara universal untuk pembangunan berkelanjutan. Dokumenter ini juga mendatangi Poundbury, sebuah kota yang dibangun di lahan Duchy of Cornwall di Inggris selatan, yang mengintegrasikan pandangan Charles tentang arsitektur, perencanaan perkotaan, dan desain komunitas untuk menciptakan lingkungan campuran pendapatan yang dapat dilalui dengan jalan kaki, yang memprioritaskan skala manusia dan metode bangunan tradisional.
Narasi Kate Winslet terbukti instrumental bagi dampak emosional dokumenter ini. Sebagai duta The King’s Foundation, Winslet membawa baik bobot maupun antusiasme sejati pada materi yang disampaikannya. Suaranya menyampaikan urgensi tantangan lingkungan sekaligus mempertahankan harapan melalui solusi-solusi praktis yang sedang diimplementasikan di seluruh dunia. Pada pemutaran perdana film di Windsor Castle—yang merupakan pemutaran perdana dokumenter pertama yang pernah diadakan di kediaman kerajaan—Winslet menekankan pentingnya visi Charles, mencatat bahwa penonton akan “… melihat bagaimana teori ini telah dipraktikkan di seluruh dunia, dengan cara-cara yang sangat inspiratif.”
Yang juga sangat menarik buat saya, film dokumenter ini berani menghadapi secara langsung kritik yang telah diterima Charles sepanjang advokasi lingkungannya. Alih-alih defensif atau apologetik, film ini menunjukkan apa yang dikritik banyak orang bahwa Charles mengurusi terlampau banyak hal sebagai pemikiran sistem yang visioner. Perubahan iklim, perencanaan urban, pertanian berkelanjutan, kerajinan tradisional, dan dialog antar-iman ternyata adalah tantangan-tantangan yang sangat berkaitan, yang memerlukan solusi holistik. Aktivis lingkungan Tony Juniper, yang berkolaborasi dengan Charles baik pada film maupun buku 2010 Harmony: A New Way of Looking at Our World, menyatakan bahwa dunia “… kini sedang lapar akan ide-ide besar yang baru,” dan filosofi Harmony menawarkan kerangka komprehensif untuk mengatasi krisis-krisis yang saling terkait pada tahun 2020-an.
Hilangnya keanekaragaman hayati menjadi isu yang benar-benar menarik ketika diulas. Charles menekankan: “Bukan hanya iklim yang menjadi masalah. Tetapi juga kehilangan keanekaragaman hayati. Jadi kita sebenarnya menghancurkan sarana kelangsungan hidup kita sendiri, sepanjang waktu.” Pendekatan terintegrasi ini agaknya membedakan Finding Harmony dari dokumenter-dokumenter lain yang saya saksikan. Kebanyakan film berfokus misalnya pada emisi karbon. Sebaliknya, film ini juga mengadvokasi transformasi sistemik dalam cara manusia berhubungan dengan ekosistem, lingkungan urban, produksi pangan, dan warisan budaya.
Refleksi dari Perspektif Indonesia
Finding Harmony: A King’s Vision pada akhirnya berhasil sebagai advokasi lingkungan sekaligus kesaksian personal. Film ini memosisikan Charles bukan sebagai anggota kerajaan yang eksentrik tetapi sebagai tokoh keberlanjutan sejati yang advokasinya selama puluhan tahun mengantisipasi konsensus ilmiah kontemporer. Momen-momen penutup film menangkap Charles mengutip Shakespeare, mengekspresikan harapan bahwa “… pada saat saya meninggalkan dunia fana ini, semoga ada lebih banyak kesadaran akan kebutuhan untuk membawa segala sesuatu kembali bersama-sama lagi.” Pengakuan yang menyentuh tentang kesadaran mortalitas dirinya memberikan urgensi pada pesan dokumenter sambil menggarisbawahi peran The King’s Foundation dalam memastikan prinsip-prinsip ini bertahan lebih lama daripada usia hidup pendirinya.
Bagi para advokat lingkungan dan penggemar dokumenter, Finding Harmony merepresentasikan tontonan esensial—sebuah kesempatan langka untuk menyaksikan bagaimana keyakinan filosofis, yang dipertahankan selama puluhan tahun skeptisisme, pada akhirnya dapat membentuk ulang wacana arus utama. Apakah visi Harmony Charles memang akan mentransformasi pendekatan global terhadap keberlanjutan masih belum pasti, apalagi kita semua menontonnya dalam situasi kekacauan yang dibawa oleh Donald Trump dan para pengikutnya. Tetapi dokumenter ini memastikan bahwa warisan pemikiran dan tindakan keberlanjutannya akan dipahami secara komprehensif oleh generasi-generasi saat ini dan masa depan yang mencari model untuk hidup harmonis dalam batas-batas planet.
Dari sudut pandang Indonesia, Finding Harmony menghadirkan resonansi yang sangat mendalam sekaligus mengusik. Sebagai negara megabiodiversitas—salah satu dari hanya 17 negara yang memegang kunci keanekaragaman hayati planet—Indonesia berada pada persimpangan kritis antara filosofi Harmony yang diusung Charles dan realitas brutal deforestasi yang masih terus menggerogoti hutan-hutan tropis kita.
Yang paling relevan dari filosofi Harmony bagi Indonesia adalah pendekatan holistiknya. Walaupun ajaran tradisional kita benar-benar sejalan dengan pikiran Sang Raja, kita telah terlalu lama terjebak dalam dikotomi palsu antara pembangunan ekonomi dan konservasi lingkungan. Model Dumfries House—di mana pendidikan, kerajinan tradisional, pertanian organik, dan kesejahteraan komunitas berjalan beriringan—menawarkan alternatif yang resonan dengan kearifan lokal kita. Indonesia memiliki kekayaan pengetahuan tradisional dalam pengelolaan hutan berkelanjutan: sistem agroforestri di Sumatra, kearifan sasi di Maluku untuk manajemen sumber daya laut, subak di Bali yang mengintegrasikan irigasi dengan filosofi spiritual.
Namun, dokumenter ini juga menggarisbawahi kesenjangan antara visi dan implementasi. Charles memerlukan lebih dari 50 tahun untuk melihat ide-idenya mendapat validasi; Indonesia tidak memiliki kemewahan waktu tersebut. Dengan laju deforestasi saat ini, hutan hujan Kalimantan dan Sulawesi dapat menambah bencana bagi masyarakat hingga beberapa dekade ke depan. Tantangan kita bukan hanya filosofis tetapi struktural: bagaimana mengimplementasikan pendekatan Harmony dalam konteks tekanan ekonomi untuk mengkonversi hutan menjadi perkebunan sawit, tambang, dan pembangunan infrastruktur?
Ironi yang menggelikan sekaligus menyakitkan adalah bahwa sementara Charles dipandang eksentrik karena berbicara kepada tanaman, masyarakat adat Indonesia—yang telah mempraktikkan hubungan spiritual dengan alam selama ribuan tahun—masih terpinggirkan dalam pengambilan keputusan tentang pengelolaan hutan. Kalau perilaku Charles akhirnya dipahami, pengakuan hak-hak masyarakat adat, integrasi pengetahuan lokal dengan sains modern, dan penghargaan terhadap hubungan sakral dengan tanah adalah praktik-praktik Harmony yang sudah kita miliki ratusan atau bahkan ribuan tahun namun belum sepenuhnya kita hargai.
Finding Harmony mengingatkan kita bahwa krisis lingkungan adalah juga krisis spiritual dan filosofis. Bagi kita yang ada di Indonesia, menonton dokumenter ini seharusnya menjadi momen introspeksi: apakah kita akan terus mengejar model pembangunan yang memperlakukan Alam sebagai komoditas untuk diekstraksi, atau akan kita memimpin dunia dalam mendemonstrasikan bahwa negara megabiodiversitas dapat menjadi mercusuar harmoni antara kemakmuran manusia dan kesehatan ekologis? Pertanyaan ini bukan hanya relevan dan urgen, melainkan eksistensial bagi masa depan 280 juta rakyat Indonesia dan keanekaragaman hayati yang kita wariskan untuk dunia.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

Mengatasi Eksploitasi di Balik Program Migrasi Tenaga Kerja Sementara
Mewujudkan Kondisi Kerja yang Layak bagi Pekerja Platform
Memetakan Kebutuhan Konservasi Hiu dan Pari secara Global
Ilusi Besar dalam Laporan Kinerja Iklim Perusahaan
Hamdan bin Zayed Initiative: Upaya Abu Dhabi Mewujudkan Laut Terkaya di Dunia
Krisis Iklim dan Menyempitnya Ruang Aman bagi Warga di Jakarta