Kemunduran Besar dalam Pencapaian SDGs di Asia Pasifik
Foto: Freepik.
Asia Pasifik merupakan kawasan geopolitik dan ekonomi utama yang mencakup wilayah geografis yang sangat luas. Namun, di tengah pertumbuhan ekonomi yang pesat dan transformasi sosial di kawasan ini, laporan ESCAP tahun 2026 mengenai perkembangan pencapaian SDGs menunjukkan bahwa kawasan ini justru tertinggal dalam mengejar target pembangunan berkelanjutan.
Meskipun tenggat SDGs 2030 tinggal beberapa tahun lagi, laporan ESCAP menyebut Asia Pasifik menghadapi “sebuah kontradiksi yang mencolok”. Di satu sisi, kawasan ini mencatat sejumlah capaian ekonomi yang berarti, seperti meningkatnya akses terhadap layanan kesehatan dan infrastruktur kelistrikan. Tetapi di sisi lain, capaian tersebut dibayangi oleh kemunduran dalam hal lingkungan serta ketimpangan yang semakin melebar.
Kemunduran pada Aspek Lingkungan dalam Pencapaian SDGs
Laporan tersebut mencatat bahwa Asia Pasifik tidak berada di jalur yang tepat untuk mencapai satu pun dari 17 tujuan SDGs. Dengan laju saat ini, Asia Pasifik berisiko gagal memenuhi 103 dari 117 target terukur. Bidang-bidang krusial yang berkaitan dengan lingkungan mengalami kemunduran signifikan. Misalnya, kemajuan untuk Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) masih menjadi isu serius karena kawasan ini tetap sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Asia Pasifik juga menunjukkan percepatan hilangnya keanekaragaman hayati yang menghambat pencapaian Tujuan 15 (Ekosistem Daratan). Kondisi ini diperparah oleh degradasi lahan yang semakin memburuk serta masih terbatasnya upaya dalam mendorong pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Kemajuan Tujuan 14 (Ekosistem Laut) juga mengalami penurunan tajam karena ekosistem laut dan air tawar berada dalam ancaman.
Akses Meningkat, Namun Ketimpangan Berlanjut
Memang, ada sejumlah bidang yang menunjukkan perkembangan positif. Laporan tersebut menunjukkan bahwa Asia Pasifik mengalami kemajuan dalam mencapai Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Hal ini terlihat dari penurunan berkelanjutan angka kematian ibu, bayi baru lahir, dan anak, serta menurunnya angka kelahiran remaja. Selain itu, terjadi peningkatan dalam bantuan pembangunan resmi (ODA) untuk riset medis dan sektor kesehatan dasar.
Kemajuan positif juga tampak pada Tujuan 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), di mana akses terhadap listrik berkembang pesat. Sebagian besar negara yang sebelumnya tertinggal dalam konektivitas digital juga telah mencatat lompatan signifikan dibandingkan tahun 2015, ketika eksklusi digital masih menjadi kondisi yang lazim di Asia Pasifik.
Namun, perkembangan dalam mewujudkan kesetaraan masih berjalan lambat. Untuk Tujuan 10 (Berkurangnya Ketimpangan), laporan tersebut mencatat hanya ada sedikit perbaikan dalam proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan di bawah setengah median nasional. Pada saat yang sama, tingkat pemuda yang tidak memiliki pekerjaan, menempuh pendidikan, atau menjalani pelatihan (NEET) justru meningkat, sementara kepatuhan terhadap hak-hak pekerja memburuk. Ketimpangan yang melebar terjadi tidak hanya antarnegara, tetapi juga di dalam masing-masing negara.
Laporan tersebut juga menyoroti kesenjangan data yang masih lebar. Kesenjangan ini, terutama untuk Tujuan 5 (Kesetaraan Gender) dan Tujuan 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), membatasi pemahaman tentang apakah kebutuhan kelompok paling rentan telah benar-benar terpenuhi.
Perlu Perubahan Mendasar
Mengingat tenggat waktu SDGs semakin dekat, Asia Pasifik membutuhkan perubahan mendasar. Pemerintah di kawasan ini harus mengintegrasikan aksi iklim dan perlindungan lingkungan ke dalam perencanaan pembangunan. Diperlukan dorongan yang lebih kuat dalam komitmen politik, investasi pembiayaan, serta kolaborasi lintas sektor agar capaian ekonomi dapat berjalan seimbang dengan kesetaraan sosial dan perlindungan lingkungan.
“Tantangan kolektif terbesar kita sekaligus merupakan peluang terbesar kita: membangun sebuah kawasan yang bukan hanya lebih makmur, tetapi juga lebih cerdas, lebih sehat, dan lebih adil,” tulis Armida Salsiah Alisjahbana, Wakil Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Sekretaris Eksekutif ESCAP.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengatasi Kemiskinan Waktu di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental
Penguatan Tata Kelola Data Geospasial untuk Mendukung Pembangunan
Menelusuri Dampak Olimpiade terhadap Lingkungan
Mewujudkan Sanitasi Layak dan Berketahanan Iklim
Ancaman Tersembunyi Polusi Ban terhadap Populasi Salmon dan Kehidupan Akuatik
Mengatasi Banjir Jakarta dengan Solusi yang Mengakar