Memetakan Kebutuhan Konservasi Hiu dan Pari secara Global
Foto: Daniel Torobekov di Pexels.
Dari plankton mikroskopis hingga mamalia raksasa, keanekaragaman hayati laut tengah menghadapi tekanan yang semakin besar seiring perubahan kondisi lautan. Hiu dan pari tidak terkecuali. Namun, perlindungan yang memadai untuk predator-predator ini masih kurang. Sebuah laporan dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengidentifikasi kawasan yang perlu dilindungi bagi hiu dan pari migran, beserta habitat mereka.
Kondisi Hiu dan Pari secara Global
Hingga 2024, IUCN telah mengidentifikasi 1.213 spesies hiu dan pari dengan variasi ukuran, habitat, dan karakter ekologi yang luas. Sebagai predator, mereka berperan penting dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dengan menyingkirkan individu yang sakit atau terluka serta mengendalikan populasi herbivora.
Sayangnya, mereka tidak kebal terhadap ancaman. Daftar Merah IUCN menunjukkan sekitar 35% hiu dan pari terancam punah. Salah satu penyebab utama adalah penangkapan berlebih, baik yang ditargetkan maupun tangkapan sampingan, untuk konsumsi maupun perdagangan satwa liar ilegal. Hiu dan pari pelagis, misalnya, sering jadi korban tangkapan sampingan, dengan populasi yang menurun hingga 71% sejak 1970-an.
Kehilangan dan degradasi habitat, polusi, serta perubahan iklim turut menambah tekanan. Bahkan aktivitas yang berpotensi mendukung transisi energi, seperti pertambangan laut dalam dan ladang angin lepas pantai, juga dapat mengancam keanekaragaman hayati laut. Karena itu, percepatan langkah perlindungan menjadi sangat krusial.
Kawasan Penting bagi Hiu dan Pari (ISRA)
Dalam konteks hiu dan pari migran, konservasi harus dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Predator ini bermigrasi melintasi wilayah geografis yang sangat luas, mencakup banyak ekosistem dan yurisdiksi sepanjang siklus hidupnya. Oleh karena itu, memastikan kelangsungan hidup mereka merupakan tanggung jawab bersama antarnegara.
Pada 2022, Kelompok Spesialis Hiu IUCN SSC mulai mengembangkan Kawasan Penting bagi Hiu dan Pari (Important Shark and Ray Areas/ISRA) untuk mengidentifikasi habitat potensial hiu dan pari migran yang perlu dilindungi. Sebelumnya, inisiatif serupa telah dikembangkan untuk melacak hewan migran lainnya, seperti mamalia laut dan burung.
Pada akhir 2025, organisasi tersebut menerbitkan laporan “Ocean Travellers”, yang mengungkap bahwa hingga kini telah diidentifikasi 816 ISRA. Menurut IUCN, suatu kawasan harus memenuhi sejumlah kriteria untuk dikategorikan sebagai ISRA, misalnya memiliki kehadiran rutin spesies hiu dan pari dengan jangkauan terbatas, serta memiliki peran penting bagi fungsi vital mereka (seperti reproduksi dan mencari makan) sepanjang siklus hidupnya.
Di Asia, laporan tersebut mengidentifikasi 122 ISRA di 13 yurisdiksi. Salah satunya adalah Monad dan Khimul Shoals di Filipina. Pengamatan menunjukkan bahwa hiu pelagis thresher yang berstatus Terancam Punah menggunakan kawasan ini sebagai “stasiun pembersihan”, tempat ikan pembersih menghilangkan kulit mati dan parasit dari tubuh hiu.
Menjembatani Kesenjangan Pengetahuan
Pemetaan habitat kritis bagi hiu dan pari merupakan kunci untuk melindungi masa depan mereka. Daftar ISRA dalam laporan IUCN dirancang untuk mendukung spesies yang tercantum dalam MoU Hiu (Sharks MoU) di bawah Konvensi tentang Spesies Migrasi (CMS), sehingga membantu negara-negara penandatangan dalam mengimplementasikan perjanjian konservasi.
Pada akhirnya, menjembatani kesenjangan pengetahuan dalam upaya konservasi harus terus dilakukan, terutama di tengah perubahan iklim dan dinamika global yang cepat. Pengetahuan yang dihimpun dan diverifikasi melalui partisipasi multipemangku kepentingan, termasuk masyarakat adat dan komunitas lokal, harus menjadi dasar perencanaan kebijakan dan intervensi untuk memperkuat konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem secara global.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mewujudkan Kondisi Kerja yang Layak bagi Pekerja Platform
Ilusi Besar dalam Laporan Kinerja Iklim Perusahaan
Hamdan bin Zayed Initiative: Upaya Abu Dhabi Mewujudkan Laut Terkaya di Dunia
Krisis Iklim dan Menyempitnya Ruang Aman bagi Warga di Jakarta
Jerman Tingkatkan Langkah Perlindungan untuk Infrastruktur Kritis
Bagaimana Perilaku Manusia Menjadi Mesin Utama Aksi Keberlanjutan