Mendorong Transformasi Industri Peternakan dengan Pendekatan berbasis Sains
Foto: Noey tm di Unsplash.
Selama ribuan tahun, pemenuhan nutrisi dan ketahanan pangan dunia sangat bergantung pada sektor peternakan. Manusia mengonsumsi daging, susu, dan telur untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, serta berbagai produk peternakan sampingan untuk berbagai keperluan lain. Namun, dengan meningkatnya kebutuhan pangan dan permintaan akan protein hewani, sektor ini dihadapkan pada tantangan keberlanjutan, perubahan iklim, dan efisiensi sumber daya. Terkait hal ini, berbagai upaya kini muncul untuk mendorong transformasi industri peternakan menuju praktik yang berkelanjutan.
Peternakan di Tengah Perubahan Iklim, Degradasi Lingkungan, dan Ancaman Zoonosis
Sektor peternakan merupakan salah satu kontributor signifikan terhadap perubahan iklim global. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan bahwa sektor ini menyumbang sekitar 14,5% dari total emisi gas rumah kaca global, terutama melalui fermentasi enterik, pengelolaan kotoran, serta alih fungsi lahan. Emisi metana dari ternak ruminansia seperti sapi bahkan menjadi perhatian khusus karena daya pemanasan globalnya yang jauh lebih tinggi dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek. Tanpa intervensi signifikan, emisi dari sektor peternakan diproyeksikan akan terus meningkat mencapai 35% pada 2050 seiring pertumbuhan permintaan protein hewani.
Sebaliknya, karena hubungannya yang dua arah, perubahan iklim yang semakin intens juga berdampak langsung terhadap produktivitas dan keberlanjutan sektor peternakan. FAO mencatat bahwa peningkatan suhu global dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir telah menurunkan kualitas pakan serta ketersediaan air bagi ternak di berbagai kawasan. Dalam rentang 2015–2025, berbagai kawasan mengalami penurunan produksi akibat stres panas pada ternak yang mengganggu metabolisme dan reproduksi. Di Indonesia, fenomena kekeringan musiman yang panjang juga berdampak pada berkurangnya hijauan pakan di wilayah kering, yang memperburuk kerentanan peternak kecil terhadap iklim yang tak menentu.
Pada saat yang sama, praktik peternakan yang tidak berkelanjutan juga turut mempercepat laju degradasi lingkungan. FAO melaporkan bahwa ekspansi lahan untuk penggembalaan dan produksi pakan ternak merupakan salah satu penyebab utama deforestasi. Selain itu, limpasan limbah peternakan yang mengandung nitrogen dan fosfor berkontribusi terhadap pencemaran air dan eutrofikasi.
Di sisi lain, degradasi lingkungan yang terus berlangsung memperburuk kondisi sektor peternakan itu sendiri. Penurunan kualitas tanah dan hilangnya keanekaragaman hayati mengurangi produktivitas padang rumput alami sebagai sumber pakan. FAO mencatat bahwa sekitar 20% padang rumput dunia telah mengalami degradasi dalam beberapa dekade terakhir. Di Indonesia, alih fungsi lahan dan degradasi ekosistem kering di berbagai daerah turut mempersempit ruang penggembalaan, membuat peternak semakin bergantung pada pakan tambahan yang lebih mahal.
Lebih lanjut, keterkaitan antara peternakan dan kesehatan juga semakin mengemuka dengan meningkatnya risiko zoonosis dan penyakit hewan. FAO dan WHO melaporkan bahwa sekitar 60% penyakit menular pada manusia berasal dari hewan. Di Indonesia, wabah penyakit pada ternak seperti Lumpy Skin Disease (LSD) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang merebak pada 2022–2023 telah menginfeksi ratusan ribu ternak dan memicu respons darurat pemerintah. Di tingkat daerah, kasus di Gunungkidul menunjukkan bagaimana penyakit LSD menyerang lebih dari 680 sapi pada 2023 dan menyebabkan kematian ternak dan berdampak langsung pada mata pencaharian peternak. Tidak hanya pada ternak, penyakit hewan juga berdampak pada manusia, dengan puluhan warga dilaporkan terinfeksi dalam satu kejadian wabah.
Tantangan terkait Efisiensi Sumber Daya
Di tengah isu perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan penyakit hewan, persoalan efisiensi sumber daya juga menjadi tantangan mendasar dalam industri peternakan. Sektor peternakan dikenal intensif dalam penggunaan air, terutama dalam kebutuhan produksi pakan. Sebuah studi menunjukkan bahwa sektor peternakan menyumbang sekitar 30-40% dari total penggunaan air tawar dalam sistem pertanian dunia, dengan mayoritas konsumsi tersebut berasal dari produksi pakan ternak. Bahkan, hampir seluruh jejak air produk hewani (sekitar 98%) berkaitan dengan proses produksi pakan sepanjang rantai pasok.
Selain air, efisiensi penggunaan pakan juga menjadi sorotan. Dalam praktiknya, hewan ternak, terutama ruminansia seperti sapi, memerlukan pakan dalam jumlah besar untuk menghasilkan satu unit produk hewani, sehingga meningkatkan tekanan terhadap sumber daya lahan dan energi. Jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk sangat memengaruhi jejak lingkungan, termasuk penggunaan air dan lahan. Dalam banyak kasus, sistem penggembalaan tradisional membutuhkan tiga hingga empat kali lebih banyak pakan dibandingkan sistem intensif untuk menghasilkan output yang sama, yang secara langsung meningkatkan konsumsi sumber daya. Di Indonesia, tantangan ini terlihat pada peternakan rakyat yang masih bergantung pada pakan alami dan limbah pertanian dengan produktivitas rendah, sehingga efisiensi produksi relatif tertinggal.
Di sisi lain, peningkatan efisiensi sumber daya dalam peternakan juga menghadapi dilema. Upaya meningkatkan produktivitas melalui intensifikasi, seperti penggunaan pakan konsentrat atau sistem industri, sering kali malah meningkatkan tekanan terhadap sumber daya lain, seperti air irigasi dan lahan pertanian untuk produksi jagung atau kedelai sebagai bahan pakan. Menurut FAO, komposisi pakan, khususnya proporsi konsentrat, menjadi faktor utama yang menentukan besarnya jejak air dan lingkungan dari produk hewani.
Upaya Mendorong Transformasi Industri Peternakan
Terkait hal ini, telah ada beberapa upaya di Indonesia untuk mendorong transformasi industri peternakan menuju praktik yang berkelanjutan. Salah satunya datang dari kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan FAO. Dalam forum “International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation: Collaborative Solution for Global Nutrition, Resilience and Economic Growth” yang digelar pada 27-28 Maret 2026, kedua lembaga mendorong adanya kebijakan berbasis sains dan kolaborasi global untuk mewujudkan sektor peternakan yang berkelanjutan di Indonesia.
Salah satu agenda utama dalam forum tersebut adalah peluncuran fase terbaru Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dari FAO, serta serta uji coba pedoman Livestock Environmental Assessment and Performance Partnership (LEAP) yang berfokus pada jasa ekosistem dan bioekonomi sirkular. GLEAM merupakan kerangka analisis komprehensif yang dirancang untuk mengukur dampak lingkungan dari sistem peternakan sekaligus memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan.
GLEAM diharapkan menjadi alat penting bagi para pembuat kebijakan, peneliti, dan pelaku industri dalam merancang kebijakan berbasis data, mengurangi dampak lingkungan, serta menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang dalam industri peternakan.
“Dunia membutuhkan visi bersama, tanggung jawab kolektif, dan pendekatan One Health sebagai solusi menyeluruh untuk transformasi industri peternakan yang berkelanjutan. Sains dan inovasi menjadi kunci dalam memastikan ketahanan pangan, gizi, serta keberlanjutan mata pencaharian masyarakat,” ujar Thanawat Tiensin, Asisten Direktur Jenderal FAO.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Hak untuk Tetap Dingin dan Maknanya bagi Masyarakat Adat Inuit
Menakar Peran Hunian Vertikal berbasis TOD di Tengah Krisis Perumahan
Derita di Balik “Kedermawanan” Industri Tembakau bagi Perempuan
Mengutamakan Pencegahan Sampah Makanan dalam Pengelolaan Limbah MBG
Mendukung Peran Perempuan dalam Pertanian yang Menopang Pangan Afrika
Memastikan Fungsi Konservasi dalam Pembiayaan Taman Nasional Berorientasi Profit