Meningkatkan Akses terhadap Fasilitas Olahraga Publik di Tengah Tren Gaya Hidup Sedenter
Foto: Wikimedia Commons.
Tak dapat dipungkiri, aktivitas fisik kini semakin sering ditinggalkan oleh banyak orang di tengah meningkatnya tren gaya hidup sedenter (sedentary lifestyle). Perkembangan teknologi, rutinitas kerja yang padat, dan kebiasaan duduk berjam-jam membuat olahraga atau aktivitas fisik lainnya semakin jarang dilakukan. Di sisi lain, fasilitas olahraga publik seringkali terbatas, sementara opsi berbayar seperti gimnasium tidak selalu terjangkau. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya meningkatkan akses terhadap fasilitas olahraga publik yang inklusif dan mudah dijangkau sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan masyarakat.
Tren Gaya Hidup Sedenter
Gaya hidup sedenter merujuk pada perilaku yang mengacu pada tindakan duduk ataupun berbaring dalam waktu yang lama sehingga aktivitas tubuh dan energi yang dikeluarkan pun cenderung sedikit. Perilaku tersebut terjadi saat ini pada sepertiga populasi global yang berusia 15 tahun ke atas dan berdampak buruk bagi kesehatan.
Gaya hidup sedenter semakin menjadi pola keseharian di masyarakat. Orang-orang semakin banyak menghabiskan waktu duduk berjam-jam seiring dengan berubahnya cara bekerja, belajar, dan berinteraksi di dunia modern. Aktivitas yang dulu menuntut lebih banyak gerak kini digantikan oleh tugas-tugas berbasis layar gadget atau komputer, dengan rutinitas yang membuat tubuh tidak banyak berpindah tempat. Pola ini perlahan membentuk kebiasaan baru: semakin sedikit gerak, semakin lama waktu duduk, dan semakin jarang aktivitas fisik dilakukan dalam keseharian.
Gaya hidup sedenter menyebabkan sirkulasi darah yang buruk dan terganggunya proses metabolisme tubuh manusia sehingga meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas. Tidak hanya itu, minimnya aktivitas fisik akibat gaya hidup sedenter juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti stres, depresi, kecemasan, dan berbagai masalah gangguan mental lainnya.
Rendahnya Tingkat Kebugaran Jasmani Masyarakat
Gaya hidup minim gerak pada gilirannya berkorelasi langsung dengan tingkat kebugaran jasmani masyarakat. Pola hidup sedenter membuat kapasitas fisik menurun perlahan dan berdampak pada rendahnya daya tahan tubuh, kelenturan, serta kekuatan otot, yang tercermin oleh rendahnya tingkat kebugaran jasmani masyarakat secara keseluruhan. Laporan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2024 menunjukkan bahwa 55,5 persen penduduk Indonesia usia 10–60 tahun sangat buruk kesehatan jasmaninya.
Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan akses fasilitas olahraga yang layak di berbagai daerah. Di Jawa Tengah, misalnya, banyak warga menghadapi berbagai kendala untuk berolahraga, mulai dari minimnya fasilitas, hambatan sosial-ekonomi, hingga kurangnya informasi mengenai program olahraga. Selain itu, secara umum ruang terbuka yang aman dan nyaman untuk berjalan kaki atau beraktivitas fisik ringan masih terbatas. Pada saat yang sama, akses terhadap transportasi publik yang terintegrasi dan inklusif juga belum merata. Situasi ini membuat masyarakat semakin kurang terdorong untuk lebih banyak bergerak.
Meningkatkan Ketersediaan Fasilitas Olahraga Publik
Akses terhadap fasilitas olahraga yang inklusif dan mudah diakses dapat memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan aktivitas fisik masyarakat. Misalnya, di Korea Selatan, kemudahan akses ke fasilitas olahraga membuat warga di negara tersebut lebih terbiasa untuk berolahraga secara rutin. Di Singapura, fasilitas olahraga publik diperluas agar dapat dijangkau oleh lebih banyak warga. Melalui Program Rencana Induk Fasilitas Olahraga, pemerintah Singapura menargetkan pembangunan ruang olahraga yang lebih merata dan inklusif, yang dirancang agar dapat digunakan oleh berbagai kelompok, termasuk anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Meningkatkan ketersediaan fasilitas olahraga publik merupakan langkah penting untuk mendorong gaya hidup yang lebih aktif dan sehat di masyarakat, dan mendukung pembangunan olahraga masyarakat. Pemerintah harus meningkatkan akses ke fasilitas olahraga yang memperhatikan aspek kualitas, keterjangkauan, dan inklusivitas, sekaligus memastikan ketersediaannya secara merata hingga ke desa-desa. Fasilitas yang dibangun juga perlu dirancang agar mudah diakses oleh semua orang, termasuk perempuan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya agar setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berolahraga.
Editor: Abul Muamar.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memperkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Menilik Solusi Potensial Pengelolaan Sampah menjadi Metanol (Waste-to-Methanol)
Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi