Menjaga Komunikasi Publik di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental
Foto: Emily Underworld di Unsplash.
Peringatan: Artikel ini memuat pembahasan mengenai isu kesehatan mental, termasuk bunuh diri, yang mungkin sensitif atau memicu ketidaknyamanan. Jika Anda merasa terdampak atau sedang mengalami kesulitan, jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang terdekat atau tenaga profesional. Anda tidak harus menghadapinya sendirian.
***
Seringkali, cara orang mengenal, memahami, dan memutuskan sesuatu, sangat dipengaruhi oleh adanya saluran komunikasi seperti iklan, promosi, atau kampanye di ruang publik. Namun, tanpa pertimbangan yang matang dan mengedepankan prinsip kehati-hatian, komunikasi publik dapat memicu hal-hal yang tidak diinginkan dan berbahaya, termasuk dalam kaitannya dengan isu kesehatan mental. Hal ini menjadi relevan dalam kasus baliho promosi film “Aku Harus Mati” yang terpampang di beberapa kota besar di Indonesia pada awal April 2026.
Meningkatnya Isu Kesehatan Mental
Di tengah dunia yang semakin pelik—yang ditandai oleh berbagai krisis yang terjadi bersamaan, termasuk biaya hidup yang terus merangkak naik dan ketimpangan yang semakin melebar dalam banyak hal—kesehatan mental menjadi isu yang semakin mengemuka. Di Indonesia, isu kesehatan mental juga meningkat dari tahun ke tahun seiring bertambahnya tekanan sosial-ekonomi dan paparan informasi yang semakin masif. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan bahwa 28 juta (10 persen) penduduk Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, merujuk pada rasio gangguan kejiwaan global dari WHO.
Kelompok usia remaja dan anak-anak termasuk di antara yang paling rentan. Survei Nasional Kesehatan Mental Remaja pada 2022 menunjukkan bahwa sekitar 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dengan sekitar 2,45 juta di antaranya masuk dalam kategori gangguan mental yang membutuhkan intervensi profesional. Selain itu, data juga menunjukkan bahwa gangguan mental mulai terdeteksi sejak usia anak-anak.
Meningkatnya angka bunuh diri menjadi indikator paling ekstrem dari krisis kesehatan mental di Indonesia. Data Pusiknas Bareskrim Polri mencatat setidaknya 1.270 kasus bunuh diri terjadi sejak Januari 2025 hingga 7 November 2025, atau rata-rata lebih dari 100 kasus setiap bulan. Data layanan kesehatan jiwa juga menunjukkan lonjakan permintaan signifikan ke nomor layanan darurat medis 119, dari sekitar 400 panggilan pada Agustus 2025 menjadi 550 panggilan per hari pada 2026.
Baliho Promosi “Aku Harus Mati”
Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental, baliho promosi film “Aku Harus Mati” menuai polemik, terutama menjelang penayangan film tersebut pada 2 April 2026. Materi promosi film tersebut menampilkan kalimat bernuansa keputusasaan dalam ukuran besar dan mencolok di ruang-ruang publik seperti jalan utama dan persimpangan perkotaan.
Di media sosial, reaksi publik berkembang cepat, dan banyak yang mempertanyakan sensitivitas pesan tersebut ketika dipasang di ruang terbuka yang dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk anak-anak dan individu rentan. Sejumlah pihak menilai penggunaan diksi yang mengandung unsur kematian tanpa konteks yang memadai berpotensi memicu dampak psikologis tertentu. Kritik tidak hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga dari kalangan profesional dan pemerhati isu kesehatan mental yang menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan pesan di ruang publik.
Baliho tersebut lantas mulai diturunkan di beberapa kota sejak 5 April 2026 menyusul kecaman luas, termasuk dari Kementerian Kesehatan. Penurunan menjadi respons atas kekhawatiran bahwa pesan yang disampaikan tidak selaras dengan prinsip komunikasi publik yang aman dan bertanggung jawab.
Menjaga Komunikasi Publik dan Meningkatkan Tanggung Jawab Bersama
Kasus baliho “Aku Harus Mati” lantas berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas tentang sejauh mana pelaku industri harus mempertimbangkan dampak sosial dari pesan yang mereka tampilkan di ruang publik. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan bahwa judul, gambar, atau narasi yang menyederhanakan bunuh diri sebagai solusi atas penderitaan dapat menurunkan ambang resistensi bagi mereka yang sedang rapuh.
Sebuah penelitian tentang suicide exposure memperkirakan bahwa satu kematian akibat bunuh diri dapat memengaruhi hingga sekitar 135 orang dalam berbagai derajat, mulai dari duka intens hingga paparan sekunder yang menimbulkan stres atau risiko kesehatan mental lainnya.
“Konsultasi dengan ahli kesehatan jiwa saat merancang kampanye, penghapusan atau revisi materi promosi yang berisiko, serta penyertaan pesan dukungan dan rujukan layanan pada setiap materi yang menyentuh tema bunuh diri adalah langkah-langkah yang dapat mengubah nada komunikasi dari provokatif menjadi protektif,” kata Imran.
Isu kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah perlu memastikan integrasi layanan kesehatan mental ke dalam sistem layanan dasar, memperluas akses yang terjangkau hingga ke tingkat komunitas, serta memperkuat regulasi dan program yang berpihak pada pencegahan dan promosi kesehatan mental. Sementara itu, pelaku industri harus mengedepankan praktik yang beretika, baik dalam komunikasi publik, lingkungan kerja, maupun produk yang dihasilkan, dengan tidak mengeksploitasi kerentanan psikologis demi kepentingan komersial. Sementara itu, kita semua dapat mengambil peran dalam membangun budaya dan kehidupan yang lebih suportif, mengurangi stigma, serta mendorong ruang-ruang aman untuk saling memahami dan peduli.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Bagaimana Deforestasi di Indonesia Semakin Parah
Ketimpangan Gender dalam Sektor Air di Tengah Krisis Air Dunia
Ketidakseimbangan Energi Bumi dan Pengaruhnya pada Iklim
Pencemaran Laut dan Banyaknya Hiu Paus Terdampar
Konflik dan Penutupan Selat Hormuz: Bagaimana Gangguan Pasokan Global Menjangkau Afrika
Upaya Masyarakat Pesisir Banggai dalam Mengelola Sampah Plastik