Pemanfaatan AI Munculkan Potensi Budaya Baru dalam Dunia Kerja
Foto: Emiliano Vittoriosi di Unsplash.
Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka banyak peluang dan tantangan baru di berbagai sektor, termasuk di dunia kerja. Pemanfaatan AI ini dipandang mampu mempermudah dan menambah efisiensi serta efektivitas pekerjaan yang semula dilakukan secara manual. Namun pada saat yang sama, teknologi ini memunculkan berbagai kekhawatiran, termasuk ancaman terhadap pekerjaan manusia di masa depan.
Laporan yang dirilis oleh Microsoft dan LinkedIn pada Juni 2024 mengungkap bahwa pemanfaatan AI akan semakin mempengaruhi pasar kerja, dan berpotensi memunculkan budaya baru dalam sektor ketenagakerjaan Indonesia.
AI dan Masa Depan Dunia Kerja
Menurut temuan IMF, AI memiliki dampak yang cukup signifikan bagi pasar kerja global. Di negara-negara maju, sekitar 60% pekerja yang berorientasi pada tugas kognitif telah terpapar oleh AI. Sementara di negara berkembang dan negara berpendapatan rendah, masing-masing angkanya berada di sekitar 40% dan 26%. Dampak AI terhadap pekerjaan akan bermacam-macam. Beberapa pekerjaan akan lebih “aman”; teknologi AI akan menjadi alat bantu dalam mempermudah pekerjaan alih-alih menggantikan tenaga manusia sepenuhnya, seperti ahli bedah, pengacara, dan hakim. Namun, akan banyak pekerjaan lain yang berpotensi tergantikan oleh AI, seperti pekerjaan-pekerjaan administratif dan telemarketing.
AI dalam Dunia Kerja di Indonesia
Tidak dipungkiri, penggunaan AI dalam dunia kerja semakin tidak terhindarkan. Laporan Microsoft dan LinkedIn mengungkap bahwa di Indonesia, ada minat yang kuat dalam pemanfaatan teknologi AI untuk menghasilkan dampak bisnis yang lebih signifikan serta menandakan potensi munculnya budaya baru dalam sektor ketenagakerjaan Indonesia.
Laporan tersebut didasarkan pada survei terhadap 31.000 pekerja di 31 negara, termasuk Indonesia, dan memuat tiga poin utama mengenai dampak AI terhadap pekerjaan dan pasar tenaga kerja di tahun-tahun mendatang, yaitu:
- Karyawan semakin tertarik untuk mengadopsi AI di tempat kerja. Sebanyak 92% knowledge workers (pekerja intelektual) di Indonesia sudah menggunakan AI generatif di tempat kerjanya. Selain itu, para pemimpin di Indonesia juga percaya bahwa adopsi AI diperlukan untuk menjaga keunggulan kompetitif perusahaan, meskipun 47% masih merasa khawatir karena belum ada visi dan rencana yang jelas untuk menerapkan AI dalam perusahaan.
- Karyawan memandang bahwa AI meningkatkan standar dan dapat membuka peluang karier. Sekitar 69% pemimpin di Indonesia menyatakan bahwa mereka tidak akan merekrut seseorang tanpa keterampilan pemanfaatan AI. Sementara dari sisi pekerja, ada tren global yang menunjukkan semakin banyak tenaga profesional yang menambahkan keterampilan AI, seperti Copilot dan ChatGPT, ke dalam profil LinkedIn mereka. Mereka di antaranya berprofesi sebagai penulis, desainer, dan tenaga pemasaran. Dari hasil survei, penyebutan AI dalam unggahan peluang kerja di LinkedIn mendorong peningkatan lamaran kerja hingga 17%.
- Munculnya fenomena AI Power Users. Power users adalah satu dari empat tipe pengguna AI yang dipetakan dalam laporan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan AI secara ekstensif. Bagi para power user, AI dinilai dapat meningkatkan kreativitas, membantu mereka lebih fokus, dan membuat mereka menjadi lebih termotivasi dalam bekerja.
Transformasi AI Berkelanjutan
Laporan Microsoft memandang optimis bahwa transformasi AI dalam dunia kerja dapat mendorong efisiensi dan produktivitas yang lebih besar. Akan tetapi, pertimbangan untuk penggunaan AI secara lebih masif tidak bisa hanya didasarkan pada hal tersebut, melainkan juga perlu dilihat dari potensi dampak negatifnya. Sejauh ini, pemanfaatan AI kerap dikaitkan dengan, antara lain, masalah keamanan data, kredibilitas dan akuntabilitas, hingga kekayaan intelektual. Selain itu, ada pula perbincangan mengenai jejak karbon yang dihasilkan oleh AI yang memunculkan urgensi untuk membuat AI menjadi lebih hijau.
Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang kuat untuk mengatur penggunaan AI yang semakin masif, tidak hanya di dunia kerja tetapi juga di semua sektor yang memungkinkan adanya pemanfaatan AI. Regulasi berguna untuk memetakan risiko dan dampak negatif yang mungkin muncul sekaligus mendorong penggunaan AI secara etis dan bertanggung jawab. Selain itu, pembangunan infrastruktur teknologi serta pendidikan atau pelatihan digital yang inklusif juga menjadi hal yang penting agar keberadaan AI tidak semakin memperlebar jurang kesenjangan.
“Saat ini, kita sedang berada di era transformasi AI yang memungkinkan kita untuk berkreasi dan berinovasi jauh lebih cepat. Kecepatan Indonesia dalam beradaptasi dan bertumbuh di era ini pun menunjukkan bahwa kita berada di jalur yang tepat untuk merealisasikan peluang ekonomi digital Indonesia dan menciptakan dampak positif yang lebih besar bagi masyarakat luas,” ujar Dharma Simorangkir, Presiden Direktur Microsoft Indonesia.
Editor: Abul Muamar

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut