Mengakui Peran Komunitas Lokal dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Dua Rafflesia arnoldii mekar di habitatnya di Hutan Lindung Bukit Daun Register 5, Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. | Foto: Sofian Rafflesia di Wikimedia Commons.
Kelestarian keanekaragaman hayati sama pentingnya dengan kesehatan ekosistem dan habitat tempat mereka hidup. Keanekaragaman hayati memainkan peran besar dalam menjaga fungsi-fungsi ekologis yang menopang kehidupan, mulai dari penyerbukan, penyebaran biji, kesuburan tanah, ketersediaan air bersih, hingga pengendalian hama alami dan keseimbangan rantai makanan. Namun, upaya pelestarian keanekaragaman hayati tidak dapat berjalan jika hanya dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Peran komunitas lokal, yang lebih dekat dengan keberadaan keanekaragaman hayati, adalah vital. Oleh sebab itu, mengakui peran mereka sangatlah penting dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati.
Peran Komunitas Lokal dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Di samping masyarakat adat, peran komunitas lokal dan akar rumput di berbagai daerah dalam konservasi keanekaragaman hayati sangat krusial dan seringkali menentukan. Keberadaan mereka yang dekat dengan ekosistem alam dan habitat spesies liar membuat mereka berada di garis terdepan dalam upaya perlindungan, pelestarian, maupun pemulihan.
Misalnya, di Majene, Sulawesi Barat, orang-orang muda yang tergabung dalam Komunitas Sammuane Pannu berperan dalam upaya penyelamatan penyu yang terancam oleh perburuan liar untuk dikonsumsi telurnya. Mereka mengorganisir patroli malam, menjaga sarang telur penyu dari predator dan manusia, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian penyu. Setelah tahun-tahun yang penuh tantangan dan pertentangan, komunitas ini akhirnya berhasil meluluhkan masyarakat setempat dan meyakinkan mereka bahwa penyu bukan santapan, melainkan makhluk yang harus dilindungi demi kesehatan ekosistem pesisir dan laut.
Di Jayapura, Papua, gerakan akar rumput yang dipimpin oleh Alex Waisimon berupaya melindungi burung-burung endemik seperti cendrawasih, mambruk, dan kasuari dari perburuan liar. Mereka mendirikan sekolah alam untuk memutus mata rantai perburuan liar dan membuka ekowisata pemantauan burung liar yang menyediakan sumber penghasilan bagi masyarakat setempat. Sementara di Lampung, komunitas lokal di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batu Tegi berperan besar dalam menjaga populasi kukang sumatera (Nycticebus coucang) yang diklasifikasikan Endangered (Terancam) dalam IUCN Red List. Mereka terlibat dalam upaya rehabilitasi dan pelepasliaran kukang yang diselamatkan dari perdagangan ilegal.
Dan yang teranyar, komunitas lokal berperan besar dalam penemuan kembali Rafflesia hasseltii di kawasan hutan Sumatera, tepatnya di Hiring Batang Sumi, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat, pada 18 November 2025. Mereka membantu memberikan informasi yang diperlukan bagi para peneliti dari BRIN, Universitas Bengkulu, dan Oxford University.
Kurangnya Pengakuan
Namun sayangnya, peran besar komunitas lokal dalam pelestarian keanekaragaman hayati seringkali kurang diakui atau bahkan diabaikan. Misalnya, dalam penemuan kembali Rafflesia hasseltii di kawasan hutan Sijunjung, nama-nama pemandu dan peneliti lokal yang ikut berkontribusi dalam menemukan bunga parasit tersebut bahkan tidak disebut dalam publikasi yang disampaikan oleh Oxford University. Padahal, di samping perannya dalam upaya pelestarian, komunitas lokal juga berperan besar dalam memastikan hasil penelitian atau informasi yang disampaikan ke publik benar-benar sesuai kenyataan.
Dalam kasus penemuan kembali Rafflesia hasseltii di Sijunjung, belakangan terungkap bahwa informasi yang menyebut “penemuan kembali Rafflesia hasseltii setelah 13 tahun tidak ditemukan” adalah keliru. Menurut data Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu yang namanya dicatut dalam pemberitaan, Rafflesia hasseltii telah mekar sebanyak tiga kali di Rejang Lebong dalam kurun waktu 2023-2024.
Selain itu, peran dan kapasitas komunitas lokal juga sering dipandang sebelah mata, terutama karena pengaruh paradigma pembangunan modern. Hal ini dapat terlihat dari penggunaan istilah seperti “pemberdayaan”, yang sering memuat asumsi hierarkis bahwa komunitas lokal tidak/kurang berdaya, tertinggal, atau kurang berpengetahuan. Padahal, komunitas lokal memiliki pengetahuan ekologis tradisional yang di banyak daerah telah terbukti efektif dalam pelestarian lingkungan serta sejalan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi-sosial. Namun, meski demikian, asumsi tersebut tidak sepenuhnya salah. Ada kalanya, komunitas lokal membutuhkan edukasi dan pengembangan kapasitas–di samping pemberdayaan ekonomi–untuk mencegah risiko-risiko yang merusak atau membahayakan, seperti perburuan liar, pembalakan hutan, dan konflik manusia-satwa liar.
Mengatasi Tantangan
Mengakui komunitas lokal sebagai aktor kunci dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati adalah langkah awal yang fundamental. Selanjutnya adalah meningkatkan peran dan potensi mereka. Mengatasi bias dalam praktik pembangunan yang memandang komunitas lokal “kurang kapasitas”, serta mengatasi ketimpangan relasi kuasa yang diakibatkannya, adalah salah satu langkah yang diperlukan.
Lebih lanjut, meskipun komunitas lokal di banyak daerah punya pengetahuan ekologis yang berharga dan penting, potensi mereka seringkali terhalang oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya kebijakan yang mendukung serta ketimpangan struktural seperti keterbatasan hak yang diatur oleh hukum, keterbatasan akses terhadap pendidikan dan peluang ekonomi, dan tekanan yang kuat dari korporasi dan/atau negara. Oleh karena itu, masalah ini harus diatasi.
Pada akhirnya, pelestarian keanekaragaman hayati tetap membutuhkan keterlibatan semua pihak—pemerintah, bisnis, dan masyarakat sipil–dalam berbagai hal, termasuk dalam riset, penyusunan kebijakan, pengelolaan kawasan lindung, dan pemantauan populasi spesies. Namun, keterlibatan tersebut hanya akan bermakna jika dilakukan secara setara dan mengakui kapasitas yang dimiliki komunitas lokal. Kolaborasi yang berpijak pada pengetahuan lokal, dengan transparansi dan akuntabilitas serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat akan menciptakan fondasi konservasi yang lebih efektif, adil, dan berkelanjutan.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja
Mengungkap Potensi Risiko Teknologi di Tengah Krisis Global
Memperkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Menilik Solusi Potensial Pengelolaan Sampah menjadi Metanol (Waste-to-Methanol)
Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru