Menilik Dampak Masifnya Pembangunan Pusat Data
Foto: Lightsaber Collection di Unsplash.
Seiring kemajuan teknologi, perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) pun semakin pesat. Penggunaan AI, khususnya AI generatif, kian meluas dalam kehidupan masyarakat saat ini. Lantas, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia berduyun-duyun membangun lebih banyak pusat data, termasuk di negara-negara berkembang. Lalu, apa dampak masifnya pembangunan pusat data ini bagi manusia dan planet Bumi?
Ledakan Pusat Data di India
Pusat data menyediakan fondasi dan penyimpanan bagi infrastruktur digital yang kita gunakan sehari-hari. Secara global, jumlah pusat data terus meningkat dan kemungkinan akan terkonsentrasi di negara-negara berkembang. Investasi pada pusat data dianggap dapat menarik investasi lanjutan di industri pendukung, seperti layanan komputasi awan (cloud), teknologi finansial (fintech), dan e-commerce. Ledakan pusat data ini digadang-gadang tidak hanya mendatangkan modal, tetapi juga teknologi dan lapangan kerja yang berpotensi membantu perekonomian lokal.
Sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia, India tengah mengejar posisi sebagai pusat data utama di kawasan ini. India memiliki jumlah pengguna internet yang besar, dengan konsumsi data seluler sekitar 62 GB per pengguna per bulan—melampaui penggunaan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, China, dan Korea Selatan.
Pada Oktober 2025, Google mengumumkan investasi sebesar 15 miliar dolar AS untuk membangun AI Hub di negara bagian Andhra Pradesh di India selatan. Dua bulan kemudian, Microsoft mengumumkan investasi sebesar 17,5 miliar dolar AS selama empat tahun untuk mengembangkan infrastruktur cloud dan AI India. Amazon juga berencana menginvestasikan lebih dari 35 miliar dolar AS untuk digitalisasi berbasis AI, pertumbuhan ekspor, dan penciptaan lapangan kerja.
Berbagai kebijakan dan insentif telah muncul untuk mendukung perluasan pusat data di India. Pada 2018, misalnya, Reserve Bank of India mewajibkan penyedia sistem pembayaran menyimpan data keuangan di dalam negeri. India juga berencana membangun empat Data Center Economic Zones (DCEZ) yang bertujuan menciptakan ekosistem bagi pusat data berskala besar dan penyedia layanan cloud.
Kritik dan Dampak Negatif
Namun, pusat data dikenal sebagai fasilitas yang menyedot energi dan air dalam jumlah besar untuk pendinginan dan pemeliharaan. India sendiri sudah mengalami tekanan air, dengan hanya 4% sumber daya air dunia untuk menopang populasi 1,4 miliar jiwa. Pusat data di India bahkan diperkirakan akan mengonsumsi 358 miliar liter air pada 2030—lebih dari dua kali lipat pada 2025.
Selain itu, Human Rights Forum mencatat bahwa kota Visakhapatnam, lokasi dimana Google berencana membangun AI-hub—sudah menghadapi penurunan air tanah, curah hujan yang tidak menentu, dan variabilitas iklim yang memicu tekanan air akut. Pembangunan pusat data di kota ini berpotensi memperburuk krisis, dengan mengalihkan sumber daya air dari warga lokal ke industri yang distribusi nilai dan risikonya belum diatur secara memadai.
Situasi ini menggambarkan bagaimana ketimpangan sosial ekonomi global berlangsung. Komunitas lokal harus menanggung biaya sosial dan lingkungan dari ledakan pusat data, yang bisa jadi melampaui manfaat potensialnya. Padahal, banyak dari komunitas ini secara tidak proporsional rentan terhadap krisis iklim.
Yang Harus Diwaspadai
Transformasi digital yang cepat telah membuka jalan bagi ledakan pusat data secara global. Negara-negara seperti Brasil, Kenya, Uni Emirat Arab, dan Singapura juga meningkatkan investasi untuk mengembangkan infrastruktur ini. Sebuah laporan mencatat bahwa pembangunan pusat data di Asia Tenggara umumnya lebih murah, yang dapat memicu ledakan pusat data di kawasan ini.
Kehati-hatian menjadi hal yang sangat penting. Perlu dicermati bagaimana tren ini dapat memengaruhi tenaga kerja dan sumber daya alam di negara sasaran. Sebagai contoh, pusat data sangat bergantung pada mineral kritis seperti litium, kobalt, dan unsur tanah jarang untuk baterai dan perangkat komputasi—yang banyak di antaranya ditambang di negara-negara Global South oleh pekerja lokal yang berisiko menciptakan praktik perbudakan modern.
Karena itu, negara-negara di dunia harus memahami seluruh dampak pembangunan pusat data saat mempertimbangkan investasi. Pemerintah perlu menetapkan regulasi dan kebijakan yang jelas terkait pengembangan pusat data, serta langkah-langkah perlindungan bagi pekerja, masyarakat, keanekaragaman hayati, dan sumber daya alam yang terdampak. Partisipasi publik, khususnya dari komunitas lokal, sangat penting dalam hal ini.
Pada saat yang sama, perusahaan teknologi harus berkomitmen untuk mengurangi biaya lingkungan dan sosial dari pusat data, termasuk dengan memprioritaskan penggunaan energi terbarukan serta mengoptimalkan sistem pendinginan dan operasional. Perusahaan-perusahaan juga harus transparan mengenai sumber daya dan energi yang mereka gunakan di fasilitas pusat data, serta memastikan dampak positif bagi lingkungan alam dan sosial di sekitarnya.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Meningkatkan Peran Komunitas Lokal dalam Mengatasi Masalah Sampah Laut
Menyoal Biaya Visum Korban Kekerasan Seksual yang Tidak Ditanggung Negara
Memprioritaskan Pembiayaan untuk Alam demi Ekosistem yang Sehat dan Tangguh
Menilik Arah Baru Kebijakan Pariwisata Indonesia
Pergeseran Sistemik untuk Mewujudkan Lingkungan Gizi Sekolah yang Sehat
Inflasi Harga Pangan: Hampir Separuh Warga Indonesia Tak Mampu Menjangkau Pola Makan Sehat