Hamdan bin Zayed Initiative: Upaya Abu Dhabi Mewujudkan Laut Terkaya di Dunia
Ikan Painted Sweetlips, salah satu spesies ikan yang dieksploitasi secara berlebihan di Abu Dhabi. | Foto: EAD.
Laut dan samudra kita penuh dengan harta karun—bukan harta karun dongeng, melainkan kekayaan nyata berupa keanekaragaman hayati dan ekosistem. Kekayaan tersebut menopang kelangsungan hidup manusia, baik sebagai sumber pangan dan bahan baku maupun sebagai penopang kesehatan planet. Namun, kondisi laut kita terus memburuk, sehingga mendorong perlunya upaya konservasi dan pelestarian yang lebih intensif di seluruh dunia. Di Uni Emirat Arab (UEA), Environment Agency – Abu Dhabi (EAD) memimpin konservasi laut dan meluncurkan Hamdan bin Zayed initiative dengan visi menjadikan laut Abu Dhabi sebagai yang terkaya di dunia.
Ekosistem Laut Abu Dhabi
Ekosistem laut Abu Dhabi terletak di batas selatan Teluk Arab di Uni Emirat Arab. Perairan ibu kota UEA ini memiliki terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, rawa asin, dan berbagai habitat unik lainnya. Habitat-habitat tersebut menjadi rumah bagi beragam spesies laut, seperti ikan, penyu laut, lumba-lumba, dan dugong.
Sayangnya, kekayaan keanekaragaman hayati dan ekosistem tersebut berada dalam ancaman. Kombinasi pemanasan global dan aktivitas manusia yang merusak, seperti pencemaran dan penangkapan ikan berlebihan, membahayakan kehidupan laut Abu Dhabi. Selain kerusakan lingkungan, kondisi ini juga mengancam ketahanan pangan kawasan tersebut.
Dalam konteks ini, EAD memimpin berbagai upaya konservasi kolaboratif di kota tersebut, mulai dari penerapan larangan penangkapan ikan hingga pemulihan wilayah pesisir darat dan laut. Inisiatif restorasi laut Abu Dhabi bahkan menjadi salah satu dari 10 World Restoration Flagships pertama yang ditetapkan PBB pada Desember 2022.
Peluncuran Hamdan bin Zayed Initiative
EAD meluncurkan Hamdan bin Zayed Initiative pada 4 Februari 2026. Pengumuman ini disampaikan dalam pertemuan Global Councils for SDGs pada World Government Summit 2026.
Inisiatif ini, yang juga disebut sebagai World’s Richest Seas, bertujuan untuk meningkatkan stok ikan berkelanjutan secara signifikan di emirat tersebut. Target untuk mencapai salah satu kepadatan stok ikan tertinggi di dunia pada 2030 mengikuti pencapaian besar Abu Dhabi, yang meraih Indeks Perikanan Berkelanjutan 100% pada akhir 2025, sebuah lonjakan drastis dari hanya 8% pada 2018. EAD mengaitkan transformasi ini dengan keberhasilan pendekatan terpadu yang menggabungkan regulasi dan sains.
Presiden UEA, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, menyatakan, “Peluncuran inisiatif ini merupakan kelanjutan dari pendekatan yang berbasis sains, inovasi, dan pengaturan praktik kelautan—yang meningkatkan produktivitas laut sekaligus menjaga keseimbangan alaminya demi generasi mendatang, serta memperkuat ketahanan pangan kami.”
Mewujudkan Laut Terkaya di Dunia
Sekretaris Jenderal EAD, Shaikha Salem Al Dhaheri, menjelaskan bahwa perluasan jaringan kawasan lindung hingga mencakup 20% dari total wilayah emirat merupakan salah satu pilar utama inisiatif ini, untuk melindungi habitat sensitif dan memperkuat kapasitas regenerasi alaminya.
Ia menambahkan bahwa lembaganya terus menjalankan program berdampak tinggi berbasis sains dan inovasi, termasuk pendirian Abu Dhabi Coral Gardens, pemasangan modul terumbu karang buatan, pengaturan praktik penangkapan ikan, dan peningkatan stok ikan. Program-program ini memastikan tercapainya tujuan inisiatif pada 2030.
Abu Dhabi Coral Gardens bertujuan membangun lokasi laut baru yang sehat melalui pemasangan 40.000 modul terumbu karang buatan, yang akan meningkat menjadi 80.000 modul pada 2030 melalui kemitraan lintas sektor. Tujuannya adalah menciptakan infrastruktur laut yang tangguh untuk menarik ikan, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan memperkuat produktivitas alami perairan emirat.
Selain itu, Hamdan bin Zayed Initiative mencakup serangkaian program pelengkap yang didukung sains, kebijakan, dan teknologi maju. Salah satunya adalah Proyek Rehabilitasi Terumbu Karang, dengan target meningkatkan jumlah koloni karang budidaya hingga empat juta. Program penting lainnya adalah Abu Dhabi Mangrove Initiative, yang menargetkan penanaman 50 juta pohon mangrove pada 2030.
Ketahanan Pangan dan Keberlanjutan Laut
Pada akhirnya, EAD menargetkan dampak lingkungan sebesar mungkin. Lembaga ini menyatakan bahwa dengan memperkuat program pemantauan dan penilaian ilmiah, membangun kemitraan lokal dan internasional untuk melindungi ekosistem laut dan memastikan ketahanannya dalam jangka panjang, serta mendukung sistem ketahanan pangan nasional melalui pertumbuhan dan pembaruan sumber daya alam yang berkelanjutan, laut akan tetap menjadi penopang kehidupan vital bagi masyarakat lintas generasi.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Ilusi Besar dalam Laporan Kinerja Iklim Perusahaan
Krisis Iklim dan Menyempitnya Ruang Aman bagi Warga di Jakarta
Jerman Tingkatkan Langkah Perlindungan untuk Infrastruktur Kritis
Bagaimana Perilaku Manusia Menjadi Mesin Utama Aksi Keberlanjutan
Meningkatkan Peran Komunitas Lokal dalam Mengatasi Masalah Sampah Laut
Menilik Dampak Masifnya Pembangunan Pusat Data