Kesenjangan Gender yang Berlarut-larut di Balik Toilet Umum
Foto: Shovan Datta di Pexels.
Banyak dari kita mungkin memandang toilet umum sebagai fasilitas umum biasa. Namun, bagi banyak orang, kenyataannya tidak sesederhana itu. Akses terhadap toilet umum yang bersih dan dapat digunakan tepat waktu ternyata jauh dari setara, terutama bagi perempuan. Ada kesenjangan yang menunjukkan bagaimana infrastruktur publik dapat secara tidak sengaja meninggalkan kelompok tertentu, dan inilah alasan mengapa desain toilet umum perlu dipikirkan ulang.
Kesenjangan Gender yang Tersembunyi
Antrean panjang di depan toilet perempuan merupakan pemandangan yang lazim dijumpai di banyak tempat, seperti pusat perbelanjaan, stadion, maupun stasiun kereta. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan rata-rata menghabiskan sekitar 90 detik setiap kali menggunakan toilet, dan bisa mencapai 5–10 menit ketika mendampingi anak. Sebagai perbandingan, laki-laki menghabiskan sekitar 35 detik saat menggunakan urinoir dan sekitar 60 detik secara keseluruhan.
Perbedaan waktu ini menjadi sangat signifikan di ruang publik yang ramai. Bahkan ketika toilet dirancang dengan rasio yang dianggap setara, yakni 1:1 antara fasilitas laki-laki dan perempuan, penelitian menemukan bahwa perempuan tetap harus menunggu hingga enam kali lebih lama dibandingkan laki-laki. Dengan kata lain, kesenjangan gender dalam akses toilet umum tidak otomatis hilang hanya karena jumlah fasilitas di atas kertas terlihat sama.
Setara Belum Tentu Adil
Akar persoalan ini terletak pada cara toilet umum dirancang sejak awal. Banyak standar bangunan dibuat beberapa dekade lalu berdasarkan asumsi bahwa laki-laki dan perempuan menggunakan toilet dengan frekuensi dan durasi yang sama. Padahal, dalam praktiknya, faktor biologis dan sosial membuat perempuan cenderung membutuhkan waktu lebih lama dan lebih sering menggunakan toilet.
Di banyak bangunan publik, luas area yang dialokasikan untuk toilet laki-laki dan perempuan relatif sama. Sekilas hal ini tampak adil. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kesamaan luas ruang tidak selalu menghasilkan kesetaraan akses. Toilet laki-laki biasanya menggabungkan bilik toilet dengan urinoir yang membutuhkan ruang lebih sedikit dan dapat digunakan lebih cepat. Akibatnya, jumlah pengguna yang dapat dilayani dalam area yang sama menjadi lebih banyak. Sebaliknya, toilet perempuan sepenuhnya bergantung pada bilik tertutup, sehingga kapasitas pengguna dalam satu waktu lebih terbatas.
Perbedaan tersebut semakin mencolok ketika mempertimbangkan kebutuhan spesifik perempuan. Menstruasi, kehamilan, menyusui, hingga jenis pakaian tertentu sering kali meningkatkan frekuensi maupun durasi kunjungan ke toilet. Selain itu, perempuan juga lebih sering mendampingi anak kecil atau membantu anggota keluarga yang membutuhkan bantuan. Karena itu, desain toilet yang hanya berpatok pada pembagian ruang yang sama akan menghasilkan waktu tunggu yang jauh lebih panjang bagi perempuan.
Lebih dari Sekadar Ketidaknyamanan
Dampak kesenjangan ini tidak hanya soal rasa tidak nyaman. Antrean panjang membuat sebagian perempuan harus menahan buang air dalam waktu lama, yang dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Bagi perempuan hamil, risiko tersebut bahkan bisa menjadi lebih serius.
Persoalan ini juga mempengaruhi kelompok lain yang kerap terpinggirkan dalam sistem sanitasi publik. Penyandang disabilitas, misalnya, masih sering menemui fasilitas toilet yang tidak dirancang sesuai kebutuhan mereka. Studi juga menunjukkan bahwa individu transgender dan beragam identitas gender kerap mengalami hambatan maupun diskriminasi ketika berusaha mengakses fasilitas yang sesuai dengan identitas gender mereka.
Beragam tantangan yang saling beririsan ini menunjukkan bahwa ketidakadilan dalam akses toilet bukan semata-mata persoalan perempuan. Bagi perempuan yang juga berada dalam kelompok rentan lainnya, seperti perempuan penyandang disabilitas, hambatan yang dihadapi menjadi berlipat ganda.
Mewujudkan Toilet Umum yang Lebih Berkeadilan
Di berbagai belahan dunia, sejumlah negara mulai menyadari bahwa penyediaan fasilitas yang setara belum tentu menghasilkan akses yang setara. Kebijakan seperti undang-undang “Potty Parity” (kesetaraan toilet) di beberapa wilayah Amerika Serikat maupun penyediaan produk menstruasi gratis di Taiwan mencerminkan meningkatnya kesadaran terhadap kebutuhan spesifik perempuan. Meski demikian, penerapannya masih belum merata. Banyak bangunan dan fasilitas publik, baik lama maupun baru, masih beroperasi dengan standar usang yang gagal menjawab kesenjangan yang terus berlarut.
Mewujudkan toilet umum yang lebih berkeadilan membutuhkan pendekatan yang lebih dari sekadar penambahan jumlah bilik. Fasilitas untuk perempuan perlu dirancang berdasarkan cara penggunaannya yang nyata. Hal ini dapat mencakup penyediaan jumlah bilik yang memadai, tempat pembuangan produk menstruasi, rak penyimpanan, gantungan barang, hingga fasilitas ganti yang mudah diakses. Pilihan desain yang tampak sederhana tersebut dapat memberikan perbedaan besar dalam aspek kenyamanan, keamanan, dan kebersihan, terutama bagi perempuan, pengasuh, penyandang disabilitas, serta kelompok lain yang selama ini kerap terabaikan dalam perencanaan fasilitas publik.
Pada akhirnya, menutup kesenjangan gender dalam toilet umum harus dimulai dengan mengakui pengalaman para penggunanya. Pelibatan perempuan dan kelompok-kelompok marjinal secara bermakna dalam proses perencanaan kota dan desain fasilitas publik dapat membantu memastikan bahwa ruang yang dibangun benar-benar mencerminkan kebutuhan nyata, bukan asumsi yang usang. Di tengah pertumbuhan kota yang terus berlangsung, toilet umum yang dirancang dengan baik dapat menjadi langkah penting dalam mewujudkan kehidupan perkotaan yang lebih inklusif, aksesibel, dan bermartabat bagi semua orang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menilik Masalah Sampah Antariksa: Urgensi Tata Kelola dan Akuntabilitas Ruang Angkasa
Memahami Kerugian dan Kerusakan Non-ekonomi di Tengah Perubahan Iklim
Apakah Aturan Mutu Udara Terbaru Menjawab Putusan Pengadilan yang Dimenangkan Warga?
Standar Net-Zero SBTi 2.0: Mengayuh di Antara Sains dan Realitas Bisnis
Kesepian Petani dan Krisis Kesehatan Mental yang Terabaikan dalam Sistem Pangan
Memahami Dampak Keanekaragaman Hayati dari Apa yang Kita Makan