Pembiayaan Hijau yang Jauh dari Jangkauan Pelaku UMKM di Sarimukti, Garut
Warga yang terlibat dalam aktivitas Bank Sampah Bakti Lembur sedang memilah sampah. | Foto: Fahran Wahyudi.
Di sebuah bangunan sederhana di Desa Sarimukti, Kecamatan Pasirwangi, Garut, ibu-ibu datang membawa karung berisi botol plastik, kardus, dan kemasan bekas. Tempat itu bukan kantor bank, melainkan Bank Sampah Bakti Lembur, sebuah gerakan warga yang lahir dari kegelisahan terhadap sampah yang selama bertahun-tahun kerap menumpuk atau dibuang sembarangan.
“Dulu di sekitar RW 4 sering ada tempat yang dijadikan lokasi pembuangan sampah tanpa diolah,” kata Hamid, pembina Bank Sampah Bakti Lembur.
Bank Sampah Bakti Lembur berdiri pada 2023 atas inisiatif warga, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), pemerintah desa, dan kelompok perempuan setempat. Tujuannya sederhana: membersihkan lingkungan sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan bagi ibu-ibu yang terlibat.
Dari UMKM iitu, berbagai praktik baik yang selaras dengan keberlanjutan mulai tumbuh. Sampah-sampah organik dimanfaatkan warga untuk pakan ternak, sementara sampah-sampah plastik dikumpulkan untuk dijual. Titik-titik pembuangan liar dipulihkan lalu ditanami pohon agar tidak kembali menjadi tempat membuang sampah. Sosialisasi pengelolaan sampah bahkan telah menjangkau RW lain, desa lain, hingga tingkat kecamatan.
Namun di balik aktivitas tersebut, ada satu hal yang belum ikut tumbuh: akses terhadap pembiayaan hijau.
Pembiayaan Hijau yang Masih Asing
Dalam beberapa tahun terakhir, bank-bank besar di Indonesia aktif mengumumkan pertumbuhan portofolio pembiayaan hijau mereka. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus mendorong penguatan keuangan berkelanjutan. Di atas kertas dan dalam banyak siaran pers mereka, ekosistem pembiayaan hijau seolah semakin berkembang.
Tetapi narasi besar itu belum sepenuhnya sampai ke tingkat masyarakat akar rumput. Masalah inilah yang juga muncul dalam cerita Bank Sampah Bakti Lembur, yang saya sambangi pada 31 Juli 2026. Hamid dan banyak warga lainnya bahkan mengaku baru pertama kali mendengar istilah kredit hijau.
“Bahkan saya baru mendengar istilah itu dari Anda,” ujarnya.
Pengakuan itu menyoroti jurang antara perkembangan kebijakan keuangan berkelanjutan di tingkat pengambil kebijakan dan pengetahuan pelaku usaha berbasis lingkungan di desa. Menurut Hamid, persoalannya bukan karena komunitas seperti mereka tidak tertarik pada pembiayaan hijau. “Tapi memang informasi yang diberikan oleh bank sangat kurang,” katanya.
Selama ini, Hamid mengaku cukup sering mengikuti perkembangan program perbankan, tetapi belum pernah memperoleh informasi yang jelas mengenai pembiayaan hijau melalui brosur, media promosi, maupun sosialisasi yang menjangkau komunitas mereka.

Punya Rencana, Tapi Tak Ada Modal
Bank Sampah Bakti Lembur sebenarnya tidak kekurangan ide tentang pengembangan bisnis yang sejalan dengan ekonomi sirkular. Mereka memiliki rencana untuk mengisi kandang ayam yang masih kosong, memproduksi pakan dari sampah organik, mengembangkan budidaya maggot, menyelenggarakan pelatihan keterampilan bagi warga, hingga membeli alat pencacah plastik agar nilai jual sampah meningkat.
“Kami punya data analisa usaha dan rencana usaha, tetapi karena terkendala modal belum bisa direalisasikan,” kata Hamid.
Selama ini, seluruh pengelola bekerja secara sukarela. Tidak ada gaji tetap bagi para pekerja bank sampah. Karena itu, mereka melihat usaha pendukung seperti peternakan ayam dan maggot sebagai cara untuk menopang keberlangsungan operasional bank sampah mereka.
Mengapa tidak meminjam ke bank? Jawaban yang saya peroleh mencerminkan kegelisahan banyak UMKM di Indonesia. Hamid mengatakan bahwa mereka belum pernah mengajukan pinjaman konvensional maupun program pembiayaan apa pun dari bank. Alasannya adalah kekhawatiran terhadap bunga pinjaman dan risiko membebani usaha yang masih dalam tahap berkembang.
“Kalau ada pinjaman dengan bunga yang lebih rendah mungkin kami tertarik,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah mereka akan tertarik jika bank menyediakan pembiayaan hijau dengan bunga rendah, jawabannya tegas: sangat tertarik. Bagi mereka, pembiayaan hijau bukan tentang ESG atau taksonomi hijau. Pembiayaan hijau berarti alat pencacah plastik, maggot yang bisa dikembangkan, kandang ayam yang bisa diisi, dan pelatihan pengembangan kapasitas masyarakat yang bisa berjalan lebih berkesinambungan.
Pekerjaan Rumah Perbankan
Apa yang saya temukan di Sarimukti hanyalah satu cerita, yang menunjukkan bahwa komunitas di tingkat akar rumput telah berupaya melakukan praktik yang sejalan dengan “ekonomi hijau” bahkan sebelum mengenal istilah tersebut. Mereka berupaya mengurangi sampah, memulihkan lahan, dan menciptakan manfaat ekonomi lokal. Namun, mereka tak otomatis terhubung dengan sistem pembiayaan yang dirancang dan digembar-gemborkan sebagai pendukung transisi hijau.
Hal ini sekaligus menyibak persoalan yang lebih luas: narasi pembiayaan hijau sering masih berputar di ruang kebijakan, seminar, dan laporan keberlanjutan; sementara pelaku usaha kecil membutuhkan penjelasan yang jauh lebih konkret dan mudah dipahami serta akses yang terjangkau.
Jika perbankan ingin memperluas dampak pembiayaan hijau, pendekatannya saya kira tidak boleh menunggu proposal datang ke kantor cabang. Informasi perlu hadir di sentra UMKM, koperasi, komunitas lingkungan, dan desa-desa tempat gerakan akar rumput benar-benar berlangsung. Di Sarimukti, yang saya temukan bukan kekurangan semangat untuk menjaga lingkungan, melainkan jurang antara kerja sukarela warga dan dukungan finansial yang membuat gerakan itu tak dapat tumbuh lebih besar.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Fahran Wahyudi adalah alumnus Hubungan Internasional dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta. Ia memiliki pengalaman di berbagai organisasi non-pemerintah, inisiatif berbasis komunitas, dan industri konstruksi. Ia aktif terlibat dalam berbagai inisiatif sosial sebagai fasilitator, peneliti, dan pendidik, dengan fokus pada isu keadilan sosial, lingkungan, dan pemberdayaan pemuda.

Meningkatkan Kesiapsiagaan dalam Menghadapi El Niño Kuat di Tengah Krisis Global
Ketika Perusahaan Asuransi Menarik Diri dari Risiko Iklim
Pengurangan Deforestasi dan Pemberantasan Kemiskinan yang Jauh dari Target Kehutanan Global
Sadiman: Lelaki yang Bisa Memanggil Air
Utang kepada Anak-Cucu yang Terus Membesar: Earth Overshoot Day 2026 dan Panggilan bagi Dunia Usaha
Benang Kusut Blue Carbon di Afrika