Memahami Dampak Perubahan Iklim terhadap Malaria di Afrika
Foto: Jimmy Chan di Pexels.
Pada 1880, dokter asal Prancis Alphonse Laveran menemukan parasit penyebab malaria dalam darah seorang pasien. Delapan belas tahun kemudian, enam ahli malaria asal Italia membuktikan bahwa penyakit tersebut ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Lebih dari satu abad kemudian, malaria masih menjadi ancaman kesehatan global yang serius, terutama di wilayah tropis. Kini, perubahan iklim memperburuk keadaan. Terlepas bahwa kenaikan suhu terjadi di seluruh belahan dunia, dampaknya terhadap malaria lebih banyak dirasakan di wilayah yang sejak awal sudah bergulat dengan penyakit ini. Dalam hal ini, mengkaji dampak perubahan iklim terhadap malaria di Afrika menjadi sangat penting.
Malaria dan Perubahan Iklim
Suhu memainkan peran penting dalam penularan malaria karena memengaruhi siklus hidup nyamuk Anopheles yang bersifat ektotermik sekaligus sensitivitas termal parasit Plasmodium. Studi laboratorium menunjukkan bahwa penularan Plasmodium falciparum oleh Anopheles gambiae berada pada tingkat tertinggi sekitar 25°C, sementara penularannya menurun tajam pada suhu di bawah 16°C dan di atas 34°C.
Kondisi hidrologis juga memengaruhi penularan malaria karena menentukan habitat perkembangbiakan nyamuk. Kekeringan biasanya diikuti penurunan prevalensi malaria dalam satu hingga dua bulan karena larva dan telur gagal bertahan hidup. Sebaliknya, banjir berkaitan dengan prevalensi malaria yang lebih tinggi. Air banjir biasanya menciptakan tempat berkembang biak baru yang mendukung pertumbuhan populasi nyamuk dalam waktu dua hingga tiga bulan.
Selama satu abad terakhir, prevalensi malaria menunjukkan hubungan yang erat dengan kondisi iklim. Para ilmuwan memperkirakan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah berkontribusi terhadap sedikit peningkatan rata-rata prevalensi malaria di Afrika sub-Sahara sejak 1901.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Malaria yang Berbeda-beda di Afrika
Perubahan iklim mungkin bukan pendorong utama malaria di Afrika, baik secara historis maupun dalam proyeksi masa depan. Namun, dampaknya tetap tak bisa ditampik. Dampak tersebut terlihat jelas terutama di Afrika sub-Sahara, meskipun tidak tersebar secara merata. Penelitian memprediksi bahwa wilayah dengan ketinggian dan garis lintang lebih tinggi akan mengalami peningkatan beban malaria dalam beberapa dekade mendatang. Sementara itu, kenaikan suhu di wilayah dengan garis lintang dan ketinggian lebih rendah diperkirakan dapat mendukung upaya eliminasi Plasmodium falciparum.
Secara keseluruhan, para ahli memproyeksikan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia akan menambah rata-rata satu kasus malaria per 1.000 penduduk di seluruh Afrika. Afrika bagian selatan diperkirakan menyumbang sekitar 91% dari tambahan kasus tersebut, sedangkan Afrika Timur sekitar 84%. Prevalensi malaria di kedua kawasan ini diproyeksikan tetap tinggi hingga akhir abad ini. Bahkan dalam skenario emisi rendah yang membatasi pemanasan global di bawah 2°C, proyeksinya masih mengkhawatirkan. Kedua kawasan tersebut diperkirakan mengalami tambahan satu hingga tiga kasus per 1.000 penduduk pada 2100.
Sebaliknya, penelitian tersebut memprediksi penurunan bersih prevalensi malaria di Afrika Barat dan Tengah akibat perubahan iklim di masa depan. Dalam skenario emisi tinggi, prevalensi dapat turun hingga 45 kasus per 1.000 penduduk di Afrika Barat dan 16 kasus per 1.000 penduduk di Afrika Tengah. Penurunan ini dikaitkan dengan suhu udara yang semakin sering melampaui rentang yang paling mendukung penularan malaria.
Selain itu, perubahan iklim juga menimbulkan kekhawatiran akan munculnya kembali malaria melalui perubahan persebaran vektor nyamuk. Penyebaran Anopheles stephensi yang terus berlangsung di Afrika dapat memperbesar risiko tersebut karena spesies ini lebih tahan terhadap panas dibanding Anopheles gambiae. Seiring meningkatnya suhu global, wilayah persebaran dan musim penularannya diperkirakan akan meluas.
Perkembangan Intervensi Pengendalian Malaria
Sejak 1990-an, para ahli telah merekomendasikan penggunaan kelambu yang diberi insektisida piretroid untuk melindungi orang-orang dari nyamuk penular malaria. Namun, efektivitasnya menurun seiring meningkatnya resistensi nyamuk terhadap piretroid. Sebagai respons, New Nets Project mengembangkan dua generasi baru kelambu. Keduanya adalah Interceptor G2, yang mengombinasikan piretroid dengan klorfenapir, dan Royal Guard, yang mengombinasikan piretroid dengan piriproksifen.
Pengendalian malaria secara global juga mengalami kemajuan melalui berbagai inisiatif lokal dan internasional yang terkoordinasi. Global Malaria Eradication Program pada 1955–1969, yang kemudian dilanjutkan oleh Roll Back Malaria dan Global Technical Strategy for Malaria pada 2016–2030, berkontribusi terhadap penurunan prevalensi malaria secara signifikan. Pada 2014, 20 negara Afrika memperkenalkan vaksin malaria RTS,S untuk memperkuat upaya pencegahan malaria. Belakangan, Africa Epidemic Fund (Dana Epidemi Afrika) yang dibentuk pada 2025 dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas negara-negara Afrika dalam merespons keadaan darurat kesehatan masyarakat.
Meski terdapat kemajuan dalam pengobatan, pengembangan vaksin, dan pencegahan, beban malaria secara global masih tinggi. Pada 2024, WHO memperkirakan terdapat 282 juta kasus malaria dan 610.000 kematian di 80 negara. Kawasan Afrika menyumbang 95% dari kasus sekaligus kematian tersebut, dengan anak-anak di bawah lima tahun menyumbang sekitar 75% kematian akibat malaria di kawasan tersebut. Beban yang terus berlanjut ini menegaskan perlunya strategi pengendalian yang lebih kuat, terutama karena perubahan iklim diperkirakan memperluas penularan malaria di wilayah rentan. Perubahan tersebut berpotensi menghambat upaya eliminasi malaria, terutama di wilayah dengan sistem kesehatan yang lemah dan sumber daya yang terbatas.
Memperkuat Upaya Pengendalian Malaria di Tengah Perubahan Iklim
Meski demikian, mengendalikan penyebaran malaria di Afrika dan wilayah lainnya bukanlah sesuatu yang mustahil. Rancangan program pengendalian malaria perlu merespons perubahan iklim, baik di tingkat lokal maupun global.
Salah satu pendekatannya adalah menggunakan sistem peringatan dini berbasis cuaca untuk mengantisipasi perubahan jangka pendek dalam penularan malaria. Memperkuat surveilans penyakit, layanan kesehatan, pengendalian vektor, dan pembangunan ekonomi juga dapat membantu mengimbangi dampak perubahan iklim terhadap malaria di sebagian besar wilayah. Jika diterapkan secara bersama-sama, langkah-langkah tersebut dapat menjaga agar target eliminasi malaria dalam satu generasi tetap dapat dicapai meskipun iklim terus berubah.
Mitigasi perubahan iklim merupakan komponen penting lainnya untuk mencegah munculnya kembali malaria. Membatasi pemanasan global di bawah 2°C diperkirakan dapat mencegah rata-rata lima kasus malaria tambahan per 1.000 penduduk di wilayah dataran tinggi Afrika Timur dan Selatan pada 2100.
Di wilayah yang diperkirakan mengalami peningkatan penularan malaria akibat perubahan iklim, menggabungkan intervensi konvensional dengan berbagai inovasi baru dapat menghasilkan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, diperlukan peningkatan investasi, kepemimpinan yang kuat dan tepercaya, serta keterlibatan aktif tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan terkait iklim. Pada akhirnya, sektor kesehatan harus memperkuat kapasitasnya untuk merespons perubahan iklim dan berbagai krisis lainnya demi melindungi kesehatan masyarakat sekaligus meningkatkan ketahanan jangka panjang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Ketika Sosiologi Menginterogasi ESG
Menyibak Kabut Pesimisme Iklim dengan Data
Menantang Interdependensi dan Ketimpangan dalam Membayangkan Masa Depan
Menyusutnya Jaring Pengaman di Tengah Krisis Bantuan Pengungsi Global
Pembiayaan Hijau yang Jauh dari Jangkauan Pelaku UMKM di Sarimukti, Garut
Meningkatkan Kesiapsiagaan dalam Menghadapi El Niño Kuat di Tengah Krisis Global