Mengintegrasikan Kesehatan Mental ke dalam Kebijakan Lingkungan
Foto: freepic.diller di Magnific.
Kebakaran hutan, gelombang panas ekstrem, dan banjir semakin membentuk cara manusia mengalami perubahan iklim. Di luar dampak langsung terhadap kondisi fisik dan lingkungan, berbagai peristiwa tersebut dapat mengganggu rasa aman, stabilitas, dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Namun, kesehatan mental masih menjadi salah satu aspek dari dampak perubahan iklim yang kerap terabaikan. Untuk memahami dan menangani dampak perubahan lingkungan secara menyeluruh, upaya internasional untuk melindungi planet ini juga harus mengakui kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesehatan masyarakat.
Kaitan antara Lingkungan dan Kesehatan Mental
Pandangan umum mengenai kesehatan mental sedikit berubah dalam beberapa tahun terakhir. Hal-hal yang dahulu dianggap sebagai kegagalan pribadi kini mulai dipahami secara lebih sistemik sebagai persoalan kesehatan masyarakat. Ketika krisis iklim semakin mengancam, kecemasan terhadap perubahan iklim juga meningkat, terutama di kalangan orang-orang muda. Fenomena ini menunjukkan kaitan antara kesehatan mental dan lingkungan tempat kita hidup, tetapi ini bukan satu-satunya bentuk keterkaitan tersebut.
Stabilitas iklim, ekosistem yang sehat, dan lingkungan yang aman berkontribusi terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat. Namun, meskipun dunia semakin mengakui perubahan lingkungan sebagai faktor risiko bagi kesehatan mental, kaitan antara keduanya masih kurang diteliti. Akibatnya, kedua isu ini masih sering ditangani secara terpisah. Kebijakan lingkungan juga masih jarang dievaluasi berdasarkan potensi dampaknya terhadap kesehatan mental.
Dampak tersebut—seperti halnya perubahan iklim—tidak dirasakan secara merata. Kelompok rentan menanggung dampak yang paling berat. Orang dewasa dapat terdampak oleh polusi dan kondisi lingkungan yang buruk. Namun, anak-anak dan remaja bahkan lebih rentan; mereka berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif serta peningkatan risiko gangguan jiwa akibat paparan dini terhadap suhu panas dan zat-zat berbahaya yang terkandung dalam polutan.
Sementara itu, masyarakat yang hidup berdekatan dengan alam serta mereka yang bergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan hidup lebih mungkin mengalami tekanan psikologis akibat degradasi ekosistem dan hilangnya sumber penghidupan. Masyarakat yang terpaksa mengungsi juga dapat mengalami masalah kesehatan mental setelah meninggalkan rumah akibat bencana. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal lebih dekat dengan sumber polusi serta memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan mental, risikonya bisa lebih tinggi.
Perlindungan Lingkungan sebagai Fondasi Kesehatan Mental
Penting bagi konvensi internasional mengenai bahan kimia dan limbah berbahaya untuk memasukkan faktor risiko terhadap kesehatan mental. Konvensi-konvensi seperti Konvensi Stockholm tentang Polutan Organik Persisten, Konvensi Minamata tentang Merkuri, Konvensi Rotterdam, dan Konvensi Basel tentang Pengawasan Perpindahan Lintas Batas Limbah Berbahaya dan Pembuangannya bertujuan mengurangi paparan terhadap zat berbahaya seperti merkuri, timbal, pestisida, dan polutan lainnya. Paparan terhadap zat-zat tersebut dapat memengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif, serta dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Karena itu, pengaturan bahan kimia dan limbah sangat penting bukan hanya bagi kesehatan lingkungan, tetapi juga untuk melindungi kesehatan mental dalam jangka panjang.
Kaitan ini juga terlihat dalam berbagai perjanjian internasional yang membahas perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan pengurangan risiko bencana. Meskipun dampaknya terhadap kesehatan mental tidak selalu langsung terlihat, perjanjian seperti Konvensi Rio berpotensi mengurangi sebagian risiko tersebut. Namun, implementasinya masih belum merata. Saat ini, data kesehatan mental belum secara rutin diintegrasikan ke dalam kebijakan dan tata kelola lingkungan.
Mewujudkan Kebijakan Lingkungan dan Kesehatan Mental yang Terintegrasi
Kita membutuhkan lebih dari sekadar perjanjian lingkungan. Yang diperlukan adalah mekanisme praktis yang menghubungkan kebijakan lingkungan dengan kesehatan mental. Hal ini dapat mencakup indikator bersama, pedoman implementasi, dan sistem akuntabilitas yang memasukkan kesehatan mental ke dalam pengelolaan lingkungan. Penelitian lebih lanjut sangat penting untuk menentukan apakah dan bagaimana kebijakan lingkungan menghasilkan perbaikan kesehatan mental yang dapat diukur. Di sini, pendanaan khusus menjadi sangat penting.
Langkah ke depan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat, partisipasi masyarakat, dan penelitian yang berkesinambungan. Pemerintah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lembaga lingkungan, organisasi masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan terkait lainnya perlu mengembangkan dan menerapkan pedoman serta indikator yang selaras. Sementara itu, kelompok rentan, khususnya, membutuhkan pendekatan yang cepat dan tepat sasaran; dan karena itu mereka harus dilibatkan secara bermakna dalam proses pengambilan keputusan.
Pada akhirnya, pendekatan yang diperlukan bukan sekadar mengakui kaitan antara lingkungan dan kesehatan mental, melainkan mengintegrasikannya secara nyata berdasarkan bukti, berkeadilan, dan akuntabel. Bagaimanapun, dengan mempertimbangkan kesehatan mental dalam perencanaan, pendanaan, dan evaluasi lingkungan, kebijakan dapat memberikan perlindungan yang lebih menyeluruh bagi seluruh masyarakat dan planet ini.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Kenaikan Suhu Melampaui 1,5°C di Depan Mata, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Dari Gelombang Panas Eropa hingga Banjir Himalaya: Bagaimana Risiko Iklim Bersifat Lintas Batas
Bagaimana Perubahan Iklim Memperparah Polusi Suara
Menilik Dampak Lingkungan Penggunaan Kulit Hewan dalam Industri Fesyen
Jejak Peringatan Bahaya Eksistensial AI: Dari Layar Bioskop ke Rak Buku
Mengatasi Risiko Tersembunyi Mikroplastik dari Infrastruktur Lepas Pantai