Sejauh Mana Potensi Pengomposan untuk Menyelamatkan Bumi?
Foto: Philip Cohen di Flickr.
Sebagian besar dari kita sejak kecil diajari untuk tidak menyia-nyiakan makanan. Namun, tidak banyak dari kita yang diajari apa yang sebenarnya terjadi ketika kita membuang makanan. Ketika sisa makanan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), mereka tidak begitu saja menghilang. Terkubur di bawah lapisan sampah lain dan tidak mendapat pasokan oksigen, sisa makanan tersebut terurai. Prosesnya berlangsung secara anaerobik dan menghasilkan metana, gas rumah kaca yang dalam periode 20 tahun memiliki potensi pemanasan sekitar 80 kali lebih kuat daripada karbon dioksida. Terkait hal ini, pengomposan menawarkan jalur alternatif sederhana untuk mengubah siklus tersebut.
Apa Sebenarnya Pengomposan dan Apa Manfaatnya?
Pengomposan adalah proses penguraian bahan organik, seperti sisa makanan, sampah kebun, dan kertas, secara aerobik hingga menjadi material yang kaya nutrisi. Perbedaan utamanya dengan penguraian di TPA adalah keberadaan udara. Karena tumpukan kompos dibalik dan diberi udara, bakteri yang bekerja di dalamnya menghasilkan jauh lebih sedikit metana. Menurut penelitian, pengomposan sisa makanan menghasilkan emisi gas rumah kaca 38% hingga 84% lebih rendah dibanding jika material yang sama dibuang ke TPA.
Hasil akhirnya, yakni kompos, bukan sekadar “tanah”. Kompos merupakan pembenah tanah dengan berbagai manfaat. Kompos memperbaiki struktur tanah, meningkatkan keanekaragaman mikroba, mempertahankan kelembapan, mengurangi erosi, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk sintetis. Bagi pekebun rumahan, kompos membuat tanah menjadi lebih subur untuk menanam tanaman pangan dan bunga. Bagi petani, kompos juga dapat mengurangi biaya input. Sementara bagi kota, pengomposan membantu mengurangi sampah yang dibuang di TPA.
Pada dasarnya, pengomposan memungkinkan limbah kembali masuk ke dalam sistem pangan. Kompos dari sisa makanan dan limbah pertanian membantu menciptakan tanah yang sehat untuk menumbuhkan pangan yang lebih bergizi. Pangan tersebut kemudian menghasilkan sisa-sisa yang kaya nutrisi, yang dapat diolah kembali menjadi kompos. Jika berjalan dengan baik, pengomposan benar-benar merupakan proses yang sirkular.
Perubahan Perilaku yang Layak Dilakukan
Sisa makanan menyumbang sekitar 8% emisi gas rumah kaca global. Di Amerika Serikat saja, misalnya, sisa makanan bertanggung jawab atas 58% seluruh metana dari TPA. Secara global, 61% sampah makanan pada 2019 berasal dari rumah tangga menurut Food Waste Index Report UNEP. Karena itu, pengomposan merupakan praktik rumah tangga yang direkomendasikan dan berpotensi memberikan dampak signifikan.
Untuk mengompos di rumah, Anda mungkin membutuhkan wadah kompos di halaman, sistem pengomposan di dalam tanah, atau komposter yang diletakkan di atas meja dapur. Semuanya dapat digunakan. Namun, metode-metode tersebut membutuhkan ruang terbuka, yang tentunya tidak dimiliki banyak warga perkotaan. Pengomposan juga membutuhkan tingkat pengetahuan tertentu. Misalnya, bahan yang tidak tepat—daging dan produk susu dapat mengundang hama—atau kurangnya perawatan dapat menimbulkan bau tidak sedap atau bahkan membuat bahan tidak terurai sama sekali. Tidak ada satu pun dari persoalan tersebut yang tidak dapat diatasi, tetapi semuanya merupakan hambatan nyata.
Karena itu, bagi mereka yang tidak memiliki ruang terbuka, ada baiknya mengetahui alternatif lain. Pengomposan Bokashi, misalnya, yakni sistem fermentasi yang menggunakan dedak yang telah diberi mikroorganisme. Keuntungannya, metode ini dapat dilakukan sepenuhnya di dalam ruangan menggunakan wadah tertutup dan dapat mengolah daging serta produk susu.
Perlu Lebih dari Praktik Individual
Pada tingkat yang lebih sistemik, tempat pengomposan komunitas semakin berkembang di berbagai kawasan perkotaan. Melalui fasilitas tersebut, warga dapat membawa sisa makanan mereka ke tempat pengolahan bersama. Selain itu, banyak kota kini menyediakan pengumpulan sampah organik dari rumah. Sistem ini mengumpulkan dan mengomposkan sisa makanan dalam skala besar, sehingga seluruh proses tidak lagi menjadi beban individu.
Namun, situasinya lebih kompleks di Global South. Sisa makanan merupakan bagian terbesar dari aliran sampah di Asia Tenggara. Kabar baiknya, lebih dari 50% sampah padat di negara-negara berkembang sebenarnya dapat dengan mudah dikomposkan.
Namun, memperluas pengomposan di negara atau wilayah berpendapatan rendah dan menengah membutuhkan infrastruktur, dukungan kebijakan, serta pengembangan pasar untuk produk kompos. Seperti dicatat Bank Dunia, potensi teknis pengomposan sangat besar, tetapi pembiayaan dan lingkungan kebijakan seringkali belum berkembang beriringan. Bagaimanapun, tindakan individual semata tidak akan menyelesaikan persoalan pengelolaan sampah yang bersifat struktural.
Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?
Jika Anda memiliki ruang terbuka, wadah atau tumpukan kompos sederhana merupakan pilihan yang murah dan tidak membutuhkan banyak usaha setelah tahap awal penyiapan. Masukkan sisa buah dan sayuran, ampas kopi, kulit telur, daun kering, dan kardus. Hindari daging, produk susu, dan makanan berminyak jika menggunakan sistem terbuka. Balik tumpukan sesekali. Dalam beberapa bulan, Anda akan memiliki kompos yang dapat ditambahkan ke tanah, baik untuk kebun, tanaman di rumah, maupun disumbangkan ke kebun komunitas.
Jika Anda tidak memiliki ruang terbuka, cari tahu apa yang tersedia di komunitas Anda. Periksa apakah pemerintah kota atau kecamatan menyediakan layanan pengumpulan sampah organik dari rumah untuk kemudian dikomposkan. Anda juga dapat mencari titik pengumpulan kompos yang dikelola komunitas. Jika semua pilihan tersebut belum tersedia, dorong agar layanan itu diadakan. Anda bahkan dapat memulainya sendiri. Kesehatan tanah yang berkelanjutan dan pengelolaan sampah yang baik bergantung pada perubahan di tingkat sistem, bukan sekadar pilihan wadah sampah individual.
Pada akhirnya, pengomposan sendiri tidak akan bisa membalikkan perubahan iklim. Namun, sebagai kebiasaan yang nyaris tidak membutuhkan biaya, menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, dan terbukti mengurangi sampah yang berakhir di TPA serta metana yang seharusnya dihasilkan oleh sisa makanan, pengomposan termasuk dalam kategori tindakan individual yang sains dan kepraktisannya benar-benar sejalan.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengintegrasikan Kesehatan Mental ke dalam Kebijakan Lingkungan
Kenaikan Suhu Melampaui 1,5°C di Depan Mata, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Dari Gelombang Panas Eropa hingga Banjir Himalaya: Bagaimana Risiko Iklim Bersifat Lintas Batas
Bagaimana Perubahan Iklim Memperparah Polusi Suara
Menilik Dampak Lingkungan Penggunaan Kulit Hewan dalam Industri Fesyen
Jejak Peringatan Bahaya Eksistensial AI: Dari Layar Bioskop ke Rak Buku