Kepul: Dukung Ekonomi Sirkular dengan Jual Beli Sampah
Foto: Carl Campbell di Unsplash.
Sampah menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi dunia saat ini, terutama di wilayah perkotaan. Pola konsumsi dan produksi yang tidak bertanggung jawab, ditambah tingkat populasi yang tinggi, menyebabkan peningkatan volume sampah secara signifikan. Di Kota Medan, tumpukan sampah bahkan dapat ditemui di beberapa titik di pinggir jalan. Sebagai respons atas persoalan tersebut, Kepul menghadirkan layanan jual beli sampah melalui aplikasi untuk menerapkan prinsip ekonomi sirkular.
Persoalan Sampah di Kota Medan
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa volume sampah di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020, total volume sampah yang dihasilkan mencapai sekitar 64 juta ton, dengan laju pertumbuhan sekitar 7% per tahun. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan peningkatan laju urbanisasi, terutama jika pola produksi dan konsumsi tidak diperbaiki.
Di Kota Medan sendiri, sampah yang dihasilkan setiap harinya sebanyak 2.000 ton. Hanya 800 ton sampah yang berakhir di pembuangan akhir. Diperkirakan sekitar 1.000 sampai 1.200 ton sampah rawan tidak tertangani.
Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan. Beberapa dampak yang paling umum termasuk pencemaran air tanah, kerusakan ekosistem, degradasi lahan, dan emisi gas rumah kaca. Selain itu, pembuangan sampah yang tidak terkendali juga dapat menyebabkan banjir karena penyumbatan saluran air.
Yang Dilakukan Kepul
Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi masalah penumpukan sampah, salah satunya melalui ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular bekerja dengan mengoptimalkan siklus hidup (life-cycle) dari suatu benda dengan daur ulang. Selain membantu mengurangi volume sampah, ekonomi sirkular disebut-sebut dapat menciptakan peluang ekonomi baru.
Melalui Kepul, masyarakat dapat menjual 30 lebih jenis sampah, baik organik maupun anorganik. Tiap-tiap sampah memiliki harga yang berbeda tergantung jenisnya. Sampah akan dijemput tanpa biaya oleh driver yang merupakan pengepul sampah yang kemudian akan didistribusikan ke pengepul besar dan tempat pengolahan sampah lainnya.
“Kepul juga ingin memberikan intervensi terhadap pandangan masyarakat tentang sampah, bahwa memiliki sampah itu bukan beban, namun menguntungkan,” kata Abdul Latif Wahid Nasution, Founder Kepul.
Di samping bisnis yang dijalankan, Kepul memiliki enam program untuk masyarakat, yakni Sedekah Pakai Sampah, Bayar Uang Sekolah Pakai Sampah, Dari Sampah ke Baitullah, Bayar Listrik Pakai Sampah, Bayar BPJS Pakai Sampah, dan Beli Sembako Pakai Sampah.
Optimalisasi Potensi Ekonomi Sirkular
Penerapan ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi penumpukan sampah sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru. Agar dapat mencapai dampak yang lebih besar, ekonomi sirkular perlu didukung oleh sistem yang kuat dan komprehensif, termasuk peningkatan infrastruktur daur ulang serta regulasi yang kuat di tingkat nasional dan lokal. Kampanye konsep zero waste dengan mengarusutamakan prinsip reduce (mengurangi) dan reuse (menggunakan kembali) juga diperlukan agar tercipta sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan di Indonesia. Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat mesti menyatukan visi dan bekerjasama untuk mencapai tujuan ini.
Editor: Abul Muamar

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan