Upaya Sumba Sustainable Solutions Tingkatkan Akses Listrik di Pedalaman Sumba
Baterai dari panel surya yang ditawarkan oleh Sumba Sustainable Solutions. | Foto: Nexus for Development.
Listrik telah menjadi kebutuhan dasar bagi banyak orang di seluruh dunia. Sayangnya, masih banyak penduduk Indonesia yang belum dapat menikmati listrik, termasuk di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terkait hal ini, Sumba Sustainable Solutions, sebuah perusahaan sosial (social enterprise) yang berbasis di Sumba Timur, berupaya memberikan solusi melalui panel surya yang dapat dibeli dengan sistem cicilan dan pembayaran non-tunai menggunakan hasil tani.
Aksesibilitas Listrik di Pedalaman Sumba
Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Indonesia tahun 2017, pemenuhan akses listrik di seluruh Indonesia akan dicapai pada tahun 2020. Namun, berdasarkan laporan Institute for Essential Services Reform (IESR) berjudul “Indonesian Clean Energy Outlook”, hingga 2019, hanya 62% populasi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendapatkan akses terhadap listrik. Angka ini merupakan angka aksesibilitas listrik terendah di Indonesia.
Meski tingkat aksesibilitas terhadap listrik Indonesia telah mencapai angka 98% secara nasional, namun mayoritas warga di Sumba (sekitar 60.000 rumah tangga), salah satu daerah di Nusa Tenggara Timur, belum mendapatkan akses terhadap listrik. Karena hal tersebut, mayoritas warga lokal menggantungkan kebutuhan penerangan mereka pada lampu minyak, serta masih memproses hasil pertanian (seperti jagung dan beras) secara manual.
Tanpa listrik, mayoritas warga lokal hanya dapat beraktivitas produktif hingga sekitar pukul enam petang, saat matahari terbenam. Selain itu, tanpa adanya listrik, warga lokal yang mayoritas berprofesi sebagai petani menghabiskan sangat banyak waktu mereka untuk mengolah hasil tani secara manual menggunakan penumbuk batu.
Sumba Sustainable Solutions dan Panel Surya bagi Warga Lokal

Kurangnya akses terhadap listrik telah menjadi perhatian yang serius bagi berbagai pihak, dan penggunaan panel surya model off-grid telah lama ditawarkan dan diuji coba di masyarakat. Sayangnya, banyak lembaga hanya melakukan pemberian panel surya secara cuma-cuma kepada warga lokal tanpa membekali mereka dengan pendampingan dan pengetahuan teknis yang cukup mengenai penggunaan panel surya. Selain itu, panel surya yang diberikan seringkali berkualitas rendah. Dua hal tersebut masih diperparah dengan kemampuan finansial warga yang rendah, yang menyebabkan panel surya teronggok menjadi sampah elektronik, tidak dapat digunakan dalam jangka panjang.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Dr. Sarah Hobgen, seorang peneliti asal Australia yang telah terlibat dalam penelitian di Sumba selama beberapa tahun, lantas menginisiasi pendirian Sumba Sustainable Solutions pada tahun 2019. Tujuan utama dari perusahaan sosial ini yaitu meningkatkan akses terhadap listrik bagi masyarakat Pulau Sumba, yang secara jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan mereka, melalui cara atau pekerjaan yang berkelanjutan atau ramah lingkungan.
Sumba Sustainable Solutions berupaya menyediakan panel surya berkualitas tinggi yang terbuat dari daur ulang baterai bekas bagi warga lokal Sumba. Panel surya ini, yang dikenal dengan micro solar home system, menawarkan satu paket perangkat berisi panel surya, baterai, tiga buah lampu, dan pengisi ulang baterai ponsel, dengan metode pembayaran Pay As You Go (PAYG) atau pembayaran cicilan sebesar Rp 50.000/bulan dengan kontrak selama tiga tahun. Dengan cicilan tiap bulan, teknisi akan datang ke rumah warga untuk memberikan pendampingan dan pemantauan, sekaligus melakukan maintenance (perawatan) apabila panel surya mengalami masalah.
Sistem cicilan ini ditawarkan untuk memudahkan warga yang berpenghasilan rendah. Namun, setelah melakukan evaluasi melalui agen yang tersebar di berbagai desa di Sumba, Sumba Sustainable Solutions juga menyediakan sistem pembayaran non-tunai, di mana warga boleh membayar cicilan tiap bulan dengan karya seni berupa tas rajut khas Sumba maupun dengan hasil tani mereka seperti minyak kelapa, gula aren, hingga bambu.
Selain itu, Sumba Sustainable Solutions mendorong penyediaan mesin penggiling elektrik berbasis komunitas, yang juga menggunakan energi surya yang dikenal dengan Productive Use Centres (PUCs), meliputi berbagai mesin yang disediakan di satu lokasi di desa dan diawasi penggunaannya, seperti mesin penggiling jagung, penggiling beras, pemarut kelapa, penggiling kopi, hingga pemompa air. Penggunaan alat-alat ini juga berdasarkan metode PAYG, di mana warga dapat menggunakan penggiling jagung dan beras, misalnya, dengan biaya Rp 500/kg. Dengan biaya yang relatif terjangkau, warga dapat menghemat waktu secara signifikan dalam pengolahan hasil pertaniannya, yang juga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas.

Sistem pembayaran non-tunai ini membuat banyak warga membayar cicilannya menggunakan hasil tani, terutama bambu. Hal ini kemudian memunculkan ide baru bagi Sumba Sustainable Solutions, yaitu mendorong dan memfasilitasi pembangunan konstruksi berbagai tempat wisata di Sumba dengan bambu, di mana bangunan yang menggunakan bambu menyediakan ruang terbuka dengan aliran udara alami.
Perlu Upaya Lebih
Akses terhadap listrik merupakan hak setiap warga negara yang sangat penting dalam mendukung kualitas serta kesejahteraan hidup. Karena itu, diperlukan upaya yang lebih masif dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam pemenuhan listrik bagi seluruh warga negara.
Memperkuat pendataan dapat menjadi langkah awal yang penting untuk mengetahui secara pasti rumah tangga mana saja yang belum mendapat akses listrik. Memberikan subsidi bagi warga lokal berpenghasilan rendah merupakan langkah penting berikutnya. Dan pada akhirnya, pemerintah juga mesti mendorong warga untuk menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan, dan menyediakan akses yang berkeadilan terhadapnya, untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan masa depan yang lebih baik bagi planet Bumi dan manusia.
Editor: Abul Muamar
Titis is a Reporter at Green Network Asia. She is currently studied undergraduate program of Law at Brawijaya University.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan