Food Rescue Warrior: Mendorong Tanggung Jawab Perusahaan atas Limbah Pangan
Foto: Freepik.
Limbah pangan merupakan masalah global yang cukup mengkhawatirkan, termasuk di Indonesia. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, jumlah limbah pangan yang dihasilkan juga meningkat. Perusahaan hotel, restoran, dan kafe (HOREKA) termasuk salah satu kontributor utamanya. Terkait hal ini, Bank DBS Indonesia dan DBS Foundation meluncurkan program Food Rescue Warrior yang bertujuan untuk mengajak perusahaan HOREKA bertanggung jawab atas limbah pangan yang mereka hasilkan.
Susut dan Limbah Pangan di Indonesia
Susut pangan atau food loss dapat diartikan sebagai bahan pangan yang terbuang sebelum diolah menjadi makanan, biasanya disebabkan karena pembusukan atau kualitas yang rendah. Susut pangan dihasilkan pada tahap produksi bahan pangan (pertanian), pasca-panen dan penyimpanan, hingga tahap pemrosesan dan pengemasan. Sementara itu, limbah pangan atau food waste dapat diartikan sebagai sisa makanan yang tidak dikonsumsi. Limbah pangan dihasilkan pada tahap distribusi, pemasaran, dan konsumsi.
Berdasarkan data Bappenas, sejak tahun 2000 hingga 2019, Indonesia menghasilkan rata-rata 115-184 kg/kapita/tahun susut dan limbah pangan (food waste and loss/FLW). Berdasarkan angka ini, jumlah FLW yang dihasilkan Indonesia mencapai 23-48 ton per tahun. Meskipun komposisi susut dan limbah pangan cenderung setara pada total FLW, namun tren menunjukkan bahwa jumlah limbah pangan yang dihasilkan meningkat dari tahun 2000 hingga 2019. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa dari total FLW, sebagian besar dihasilkan pada tahap konsumsi.
Data ini sesuai dengan komposisi sampah nasional yang tercatat oleh Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), di mana sampah terbanyak yang dihasilkan merupakan limbah pangan. Pada tahun 2022, misalnya, limbah pangan Indonesia mencapai 15 juta ton (40,32% dari total sampah nasional). Jumlah makanan sebanyak itu mestinya dapat membantu untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan di Indonesia. Dan pada saat yang sama, mencegah susut dan limbah pangan berarti mendukung ketahanan pangan.
Dampak Lingkungan, Ekonomi, dan Sosial
Secara global, FLW merupakan salah satu kontributor signifikan emisi gas rumah kaca (GRK). Adapun FLW di Indonesia berkontribusi sekitar 7,29% dari total emisi GRK yang dihasilkan setiap tahun. Dari aspek ekonomi, FLW diperkirakan menimbulkan kerugian sebesar Rp 213-551 triliun per tahun.
Sedangkan pada aspek sosial, banyaknya sampah makanan yang dihasilkan setiap hari turut memperparah kondisi kelaparan dan menghambat upaya perbaikan gizi dan pengentasan stunting. FLW sekitar 618-989 kkal/kapita/hari yang terbuang setara dengan kebutuhan energi sekitar 61-125 juta orang Indonesia (29-47% populasi). Ironisnya, di tengah peningkatan jumlah FLW, sekitar 16,2 juta orang (5,9% populasi) Indonesia masih mengalami kelaparan.
Program Food Rescue Warrior
Selain mendorong industri HOREKA untuk secara aktif bertanggung jawab atas limbah makanan yang dihasilkan, program Food Rescue Warrior juga melakukan kampanye kepada masyarakat untuk lebih bijak dalam konsumsi sehingga dapat mengurangi limbah pangan. Program Food Rescue Warrior dilakukan melalui dua jenis layanan, yaitu:
- Redistribusi kelebihan makanan yang belum dikonsumsi. Bekerja sama dengan FoodCycle Indonesia, program ini mengumpulkan makanan berlebih yang masih layak makan dari industri HOREKA, kemudian mendistribusikannya kepada masyarakat yang membutuhkan, yang masuk dalam kategori penerima benefit (beneficiaries) yang terdaftar dalam data FoodCycle Indonesia.
- Daur ulang limbah pangan. Bekerja sama dengan Jangjo Indonesia, program ini mendaur ulang limbah pangan yang dikumpulkan dari industri HOREKA dengan teknologi biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) yang menghasilkan pupuk pertanian. Pupuk yang dihasilkan kemudian didistribusikan kepada penerima benefit yang terdaftar dalam data FoodCycle Indonesia.
Hingga Maret 2024, program Food Rescue Warrior telah menggandeng 24 perusahaan di Jakarta, di antaranya FX Sudirman, Kopitagram, dan SCBD Park.
“Banyak orang masih mengalami kelaparan yang juga diperparah oleh krisis iklim. Hal ini dapat dipahami sebagai dua sisi krisis yang harus kita atasi bersama demi generasi mendatang. Limbah pangan dan ketahanan pangan tidak dapat diselesaikan hanya oleh individu masyarakat, namun membutuhkan kolaborasi semua pihak sebagai upaya kolektif. Melalui program Food Rescue Warrior, kami mengundang perusahaan dan masyarakat secara luas untuk dapat bekerja sama memerangi susut dan limbah pangan serta mendukung ketahanan pangan di Indonesia,” ujar Mona Monika, Kepala Divisi Marketing Strategis dan Komunikasi Bank DBS Indonesia.
Editor: Abul Muamar
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Titis is a Reporter at Green Network Asia. She is currently studied undergraduate program of Law at Brawijaya University.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan