Kemajuan Kecil Pendanaan Iklim dalam COP29
Foto: Freepik.
Pada tahun 2009, negara-negara maju sepakat untuk memobilisasi pendanaan sebesar USD 100 miliar untuk mendukung negara-negara berkembang dalam aksi iklim mereka. Menjelang tenggat waktu pada tahun 2025, tujuan pendanaan iklim saat ini dianggap tidak memadai. Lantas, apakah KTT Iklim COP29 menetapkan komitmen keuangan yang lebih ambisius untuk masa depan?
Urgensi Pendanaan Iklim di Tengah Krisis
Pada awal 2024, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan bahwa tahun 2023 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu rata-rata global mencapai 1,45°C. Rekor ini berlanjut hingga tahun 2024, dengan suhu rata-rata yang lebih tinggi, yaitu 1,62°C antara November 2023 hingga Oktober 2024. Kondisi ekstrem ini menekankan urgensi untuk meningkatkan pendanaan iklim guna membantu negara-negara berkembang mengatasi penyebab dan dampak perubahan iklim.
Sementara itu, KTT Iklim COP menjadi wadah bagi negara-negara untuk menegosiasikan langkah-langkah baru dan menilai perkembangan mereka dalam mengatasi perubahan iklim. COP29 secara khusus menarik perhatian signifikan karena melibatkan diskusi tentang target pendanaan iklim baru, yang menggantikan tujuan saat ini yang berakhir pada tahun 2025. Fokus target-target baru ini adalah memastikan setiap negara memiliki sumber daya untuk melakukan aksi iklim yang konklusif, terutama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan membangun masyarakat yang tangguh.
Pendanaan Iklim Baru dalam COP29
COP29, yang semula dijadwalkan berakhir pada 22 November 2024, harus diperpanjang karena negosiasi yang alot mengenai jumlah pendanaan iklim global.
Salah satu poin penting yang diperdebatkan adalah usulan dari negara maju untuk mengalokasikan USD 250 miliar per tahun pada tahun 2035. Banyak negara berkembang menolak usulan tersebut. Salome Lehtman, Penasihat Proyek dan Advokasi di Mercy Corps, mengatakan bahwa USD 250 miliar akan sama saja dengan nilai pendanaan sebelumnya sebesar USD 100 miliar jika merujuk pada inflasi, yang mana itu tidak akan cukup untuk mengatasi masalah iklim global.
Negara-negara berkembang menuntut pendanaan setidaknya USD 1,3 triliun guna mengatasi perubahan iklim dan transisi menuju energi bersih, sejalan dengan rekomendasi yang diberikan oleh Kelompok Pakar Tingkat Tinggi Independen tentang Perubahan Iklim (IHLEG).
Setelah negosiasi yang panjang, COP29 akhirnya berakhir pada 24 November 2024. Hasil utamanya adalah keputusan untuk meningkatkan dukungan finansial bagi negara-negara berkembang dari USD 100 miliar per tahun menjadi USD 300 miliar per tahun pada tahun 2035.
Meningkatkan Komitmen Finansial untuk Ketahanan Iklim
Sebagai penyumbang utama emisi gas rumah kaca global, negara-negara maju memiliki tanggung jawab besar untuk mendukung negara-negara berkembang, yang sering kali mengalami kerusakan yang lebih parah meski kontribusinya lebih sedikit dalam menyebabkan krisis. Meskipun jumlah yang disepakati masih jauh dari yang diharapkan oleh negara-negara berkembang, hasil COP29 menunjukkan sedikit kemajuan.
Namun, jalan masih panjang dan terjal. Para pemimpin negara, organisasi internasional, dan pemangku kepentingan terkait harus memantau dengan cermat implementasi tujuan tersebut untuk memastikan akuntabilitas dari negara-negara maju. Selain itu, mengambil tindakan tegas untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sangat penting untuk menghentikan krisis iklim dan mencegah kerusakan lebih lanjut, dan harus diprioritaskan.
Editor: Kresentia Madina & Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan