Memahami Hubungan antara Perubahan Iklim dan Kemiskinan
Foto: Freepik.
Penanggulangan kemiskinan telah menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan global selama beberapa dekade. Kini, upaya pemberantasan kemiskinan tidak dapat lagi mengabaikan perubahan iklim, terutama karena krisis semakin cepat. Hubungan antara perubahan iklim dan kemiskinan harus menjadi fondasi bagi upaya penanggulangan kemiskinan yang lebih kuat.
Isu yang Tumpang Tindih
Sekilas, kemiskinan mungkin tampak sebagai isu deprivasi ekonomi yang berdiri sendiri. Padahal, kemiskinan harus dipahami sebagai isu multidimensi, yang mencakup deprivasi di berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, pendidikan, dan standar hidup.
Indeks Kemiskinan Multidimensi Global 2025 yang diterbitkan oleh UNDP menemukan bahwa 1,1 miliar orang hidup dalam kemiskinan multidimensi akut, dengan separuhnya adalah anak-anak. Sekitar 83,2% dari mereka yang terdampak tinggal di Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan.
Selain itu, saat ini, kemiskinan bukan sekadar isu sosial-ekonomi; melainkan terkait erat dengan tekanan global. Laporan tersebut membahas perubahan iklim dan kemiskinan sebagai isu yang saling tumpang tindih, menciptakan beban ganda bagi orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan membuat orang-orang semakin rentan terpapar bahaya iklim, yang pada gilirannya, memperparah dan memperpanjang kemiskinan.
Kerentanan yang Berlipat
Secara global, masyarakat yang hidup dalam kemiskinan multidimensi terpapar langsung terhadap bahaya iklim. Kerentanan yang tinggi ini bermula dari kenyataan bahwa banyak rumah tangga miskin bergantung pada sektor-sektor berisiko tinggi, seperti pertanian dan pekerja informal. Pada saat yang sama, aset, kapasitas penanggulangan, dan perlindungan sosial yang mereka miliki seringkali sangat terbatas.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 887 juta orang di 108 negara tinggal di wilayah yang terdampak setidaknya satu dari bahaya iklim: suhu panas tinggi, polusi udara, banjir, dan kekeringan. Sementara itu, 651 juta orang menghadapi dua atau lebih bahaya, dan 309 juta orang menghadapi tiga atau empat bahaya. Paparan ini dapat menggagalkan upaya penanggulangan kemiskinan. Mulai dari banjir perkotaan di daerah berpenghasilan rendah hingga kurangnya sistem pendingin selama gelombang panas, paparan ini menempatkan masyarakat pada risiko penyakit, kelaparan, dan kemiskinan yang lebih tinggi.
Di Asia Selatan, misalnya, meski terdapat kemajuan signifikan dalam pengurangan kemiskinan, berbagai bahaya iklim yang terjadi secara bersamaan terus memengaruhi masyarakat yang masih berada dalam kemiskinan. Hampir semua orang miskin di wilayah tersebut terpapar pada satu atau lebih guncangan iklim, suatu angka yang jauh lebih tinggi daripada di wilayah lain.
Memahami Perubahan Iklim dan Kemiskinan
Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap hubungan antara perubahan iklim dan kemiskinan. Isu-isu yang tumpang tindih, yang secara tidak proporsional mempengaruhi masyarakat di seluruh dunia, menekankan urgensi untuk membangun ketahanan. Langkah pertama adalah mengintegrasikan data proyeksi iklim ke dalam perancangan strategi penanggulangan kemiskinan yang efektif. Hal ini memerlukan pemahaman tentang hubungan antara perubahan iklim dan kemiskinan, siapa yang menanggung beban terberat, dan bagaimana merumuskan solusi untuk keduanya.
Selain mengakui permasalahan ini, negara-negara juga perlu melangkah maju dan menerjemahkan pemahaman ini menjadi tindakan cepat yang memprioritaskan manusia dan Bumi. Hal ini membutuhkan kerja sama dan pendanaan internasional yang lebih kuat, terutama untuk membangun kapasitas negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah yang memiliki sumber daya terbatas. Solusi berbasis alam, sistem perlindungan sosial adaptif, dan sistem peringatan dini adalah beberapa langkah penting untuk mewujudkan masyarakat yang tangguh.
Pada akhirnya, pencapaian tujuan pemberantasan kemiskinan global harus sejalan dengan mitigasi iklim dan restorasi ekosistem. Komitmen yang kuat, tindakan nyata, dan kolaborasi multi-pemangku kepentingan yang efektif dapat membantu kita mencapai masyarakat yang tangguh tanpa meninggalkan seorang pun di belakang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Krisis Iklim dan Menyempitnya Ruang Aman bagi Warga di Jakarta
Jerman Tingkatkan Langkah Perlindungan untuk Infrastruktur Kritis
Bagaimana Perilaku Manusia Menjadi Mesin Utama Aksi Keberlanjutan
Meningkatkan Peran Komunitas Lokal dalam Mengatasi Masalah Sampah Laut
Menilik Dampak Masifnya Pembangunan Pusat Data
Menyoal Biaya Visum Korban Kekerasan Seksual yang Tidak Ditanggung Negara