Mempertimbangkan Kembali Pertanian Monokultur sebagai Sumber Bahan Baku Energi Terbarukan
Foto: Achmad Rabin Taim di Wikimedia Commons.
Istilah energi terbarukan dewasa ini semakin sering terdengar, baik dalam dokumen kebijakan maupun percakapan sehari-hari. Dunia memang tengah bergegas menuju sumber-sumber energi terbarukan yang lebih bersih, meninggalkan energi fosil yang kotor dan terbatas. Berbagai inovasi bermunculan di tengah semangat transisi ini, termasuk bahan bakar nabati yang berasal dari tanaman yang mendorong maraknya pertanian monokultur seperti jagung, tebu, dan sawit.
Energi Terbarukan dan Bahan Baku Nabati
Energi terbarukan merujuk pada bentuk energi alternatif dan berkelanjutan yang dihasilkan oleh teknologi baru. Karena sifatnya yang dapat diperbaharui, energi ini sering dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan energi global tanpa merusak keseimbangan lingkungan.
Pengembangan energi terbarukan telah dianggap semakin mendesak di tengah krisis iklim, naiknya permintaan energi, dan keterbatasan sumber daya fosil. Sektor energi menyumbang tiga perempat emisi gas rumah kaca global, menjadikannya sebagai salah satu penyebab utama krisis iklim. Untuk itu, banyak negara, termasuk Indonesia, yang telah menargetkan bauran energi nasional yang lebih hijau. Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Indonesia menargetkan 23% bauran energi berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT) pada tahun 2025, meski kemudian target ini dipangkas menjadi 17-20% yang menunjukkan adanya tantangan.
Saat ini sudah banyak sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan secara masif. Tenaga surya, angin, air, dan panas bumi adalah contoh sumber yang tidak memerlukan bahan baku biologis karena dapat dipasok langsung ke pembangkit listrik. Namun, ada juga bioenergi yang dihasilkan dari biomassa, yakni bahan organik seperti tanaman dan limbah pertanian. Biomassa dapat diolah menjadi bioetanol, biodiesel, atau biogas yang bisa menggantikan bahan bakar fosil.
Kebutuhan akan bioenergi ini lantas mendorong maraknya pertanian monokultur seperti jagung, tebu, jarak pagar, dan kelapa sawit. Di antara berbagai komoditas potensial, kelapa sawit menempati posisi paling dominan. Data BPS menunjukkan luas perkebunan sawit menembus 16–17 juta hektare, menjadikannya komoditas energi nabati terbesar di Indonesia. Di luar sawit, tebu juga digarap untuk bioetanol, dengan luas areal sekitar setengah juta hektare yang terkonsentrasi di Jawa, dan direncanakan akan terus diperluas di Papua. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi etanol dari tebu, dari sekitar 40 ribu kiloliter pada 2022 menjadi 1,2 juta kiloliter pada 2030.
Dampak Pertanian Monokultur sebagai Sumber Bahan Baku Energi Terbarukan
Ekspansi monokultur energi seringkali mengorbankan hutan alam. Di Indonesia, Auriga Nusantara dan Walhi mencatat sekitar 2,9 juta hektare perkebunan sawit berasal dari konversi hutan alam. Konversi ini tidak hanya mengurangi tutupan hutan, tetapi juga memangkas keanekaragaman hayati secara drastis. Studi menunjukkan bahwa keragaman pohon di perkebunan sawit dapat berkurang lebih dari 99% dibandingkan hutan alami, sementara keragaman mamalia turun sekitar 65–90%. Spesies yang sangat bergantung pada hutan, seperti owa, orang utan, harimau, gajah, hingga badak, sulit bertahan di lanskap monokultur dan sering berakhir dalam konflik dengan manusia. Hal ini menyebabkan laju kepunahan spesies di Indonesia dalam empat dekade terakhir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global, sebagian besar dipicu oleh alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit.
Monokultur energi dalam skala besar juga membawa dampak serius terhadap kondisi lahan. Pola tanam tunggal membuat tanah cepat kehilangan kesuburan karena tidak ada rotasi tanaman yang menjaga keseimbangan unsur hara. Penelitian menunjukkan bahwa kebun sawit dengan vegetasi bawah pohon yang minim dapat mempercepat kehilangan bahan organik tanah dan meningkatkan kerentanan erosi. Kasus serupa juga ditemukan pada tebu, di mana praktik monokultur jangka panjang mempercepat degradasi tanah melalui hilangnya unsur hara, pemadatan, serta berkurangnya aktivitas mikroba. Untuk menjaga produktivitas, petani biasanya mengandalkan pupuk dan pestisida kimia sintetik dalam jumlah besar. Namun, penggunaan berulang zat kimia ini justru mempercepat degradasi tanah dan meninggalkan residu toksik yang mengganggu ekosistem sekitar.
Dominasi monokultur juga memicu persoalan sosial dan ekonomi. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) melaporkan lebih dari 1.131 konflik agraria terkait perkebunan sawit antara tahun 2015 dan 2023. Selain itu, pola monokultur cenderung memusatkan keuntungan pada perusahaan besar, sementara petani berada dalam posisi tawar yang lemah terhadap syarat kontrak. Buruh pertanian pun kerap menghadapi persoalan upah rendah, jam kerja panjang, dan minim perlindungan sosial. Situasi semacam ini memperlihatkan bahwa mengandalkan pertanian monokultur sebagai sumber bahan baku energi bukan hanya berisiko secara ekologis, tetapi juga dapat memperlebar ketidakadilan sosial di tingkat lokal.
Mengalokasikan sumber daya pertanian monokultur untuk energi juga akan berdampak pada stabilitas produksi pangan. Kompetisi antara produksi energi dan pangan dapat meningkatkan harga bahan pokok, memperparah kerentanan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Laporan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) menegaskan bahwa pemanfaatan tanaman pangan untuk biofuel merupakan salah satu faktor yang mendorong lonjakan harga komoditas pertanian pada krisis pangan antara tahun 2007 dan 2008. Jika pola kompetisi antara komoditas energi dan pangan terus berlanjut, kelompok berpenghasilan rendah akan menjadi pihak yang paling terdampak.
Alternatif Bahan Baku
Salah satu cara menghindari jebakan monokultur adalah dengan beralih dari ketergantungan pada satu komoditas utama menuju pemanfaatan bahan baku yang lebih beragam. Limbah pertanian, yang selama ini kurang dimanfaatkan, menyimpan potensi besar sebagai bahan bakar nabati generasi kedua. Sekam padi, jerami, limbah jagung, hingga residu kelapa sawit seperti cangkang dan tandan kosong (TKKS) dapat diolah menjadi bioenergi.
Di luar pemanfaatan limbah, diversifikasi bahan baku juga perlu didorong. Salah satu kandidat yang sangat menjanjikan adalah mikroalga. Kemampuannya melakukan fotosintesis dengan efisiensi tinggi membuat mikroalga mampu menghasilkan biomassa dalam jumlah besar dengan laju pertumbuhan jauh lebih cepat dibandingkan tanaman darat. Kandungan minyak (lipid) mikroalga dapat mencapai 70% dari bobot kering biomassa, dengan potensi hasil mencapai sekitar 136.900 liter per hektare per tahun. Angka ini jauh melampaui jagung, yang dengan kandungan lipid 44% hanya menghasilkan sekitar 172 liter per hektare per tahun; maupun kelapa sawit dengan kandungan lipid 36% yang menghasilkan sekitar 5.366 liter per hektare per tahun. Selain produktivitasnya yang tinggi, biodiesel dari mikroalga juga memiliki sifat fisik yang sangat mirip dengan biodiesel berbasis minyak bumi, baik dari segi densitas, viskositas, titik nyala, maupun nilai pemanasan.
Namun, transisi ini membutuhkan jalan yang masih panjang. CPO tetap lebih melimpah, mudah diproses, dan menghasilkan produk yang relatif stabil. Sedangkan limbah pertanian berbahan lignoselulosa cenderung menghasilkan biodiesel dengan kualitas lebih rendah dan memerlukan teknologi tambahan agar layak dipakai. Sementara itu, tantangan penggunaan mikroalga saat ini terletak pada biaya produksi, terutama pada tahap pemanenan dan ekstraksi, sehingga riset dan inovasi teknologi masih sangat dibutuhkan agar mikroalga benar-benar bisa menjadi alternatif energi nabati yang berkelanjutan. Jika tantangan ini bisa diatasi, pemanfaatan limbah dan mikroalga akan memberi jalan keluar yang lebih berkelanjutan karena tidak bersaing dengan pangan maupun memicu ekspansi monokultur.
Menuju Sistem Bioenergi yang Berkelanjutan
Namun, pada akhirnya, alternatif teknis saja tidak cukup jika tidak disertai perubahan tata kelola. Pola monokultur bisa diatasi dengan mengembangkan sistem agroforestri atau tumpangsari, di mana tanaman energi ditanam berdampingan dengan tanaman pangan. Praktik ini tidak hanya dapat membantu menjaga keragaman hayati, tetapi juga memberi peluang bagi petani kecil untuk tetap memperoleh hasil pangan dan energi dari lahan yang sama.
Selain itu, dukungan kebijakan dan inovasi teknologi sangat krusial. Dengan kombinasi kebijakan yang berpihak, riset yang progresif, dan keterlibatan masyarakat, transisi energi berbasis nabati dapat berjalan lebih adil dan berkelanjutan.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengatasi Banjir Jakarta dengan Solusi yang Mengakar
Memahami Keterkaitan antara Krisis Iklim dan Kerja Perawatan
Menilik Potensi Digitalisasi Rantai Nilai Pangan untuk Mendukung Kesejahteraan Petani
Bagaimana Bank Dapat Berperan dalam Mendorong Terciptanya Pekerjaan Layak
Menilik Tantangan dalam Pengembangan SAF berbasis Minyak Jelantah di Indonesia
Mengintegrasikan Panas Perkotaan dalam Sistem Penanggulangan Bencana