Meningkatkan Pemanfaatan Teknologi sebagai Upaya Pelestarian Badak Jawa dan Badak Sumatera
Foto: International Rhino Foundation di Wikimedia Commons.
Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman fauna yang tinggi. Namun, banyak spesies unik dan langka yang keberadaannya semakin terancam, termasuk badak Jawa dan badak Sumatera. Terkait hal ini, Institut Pertanian Bogor (IPB) menjalin kerja sama dengan Kementerian Kehutanan dalam upaya konservasi dengan pengembangan Laboratorium Pusat Assisted of Reproductive Technology (ART) dan Biobank.
Mengapa Badak Jawa dan Badak Sumatera Terancam Punah?
Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan dua spesies badak yang paling terancam punah di dunia. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), kedua jenis badak ini dikategorikan sebagai Critically Endangered dalam IUCN Red List, yang berarti risiko kepunahan yang dihadapi di alam liar sangat tinggi.
Saat ini, badak Jawa hanya terdapat di satu kawasan konservasi yaitu Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Aktivitas perburuan liar dikaitkan sebagai akar utama ancaman kepunahan spesies ini. Sejak tahun 1967, pihak TNUK telah melakukan pengawasan terhadap badak Jawa, yang mana saat itu jumlah yang tersisa hanya 25 individu saja.
Kabar menggembirakan datang pada tahun 2022 ketika populasi badak Jawa mengalami peningkatan menjadi 76 individu. Namun sayangnya, perburuan liar yang berlangsung antara tahun 2019 hingga 2023 telah mengakibatkan kematian 26 individu. Selain perburuan, badak Jawa juga mengalami masalah biologis berupa ketidakseimbangan rasio jenis kelamin serta rendahnya keragaman genetik yang berdampak pada keterbatasan potensi reproduksi alami dan meningkatkan risiko inbreeding.
Badak Sumatera mengalami kondisi yang lebih unik. Menurut sebuah laporan, hanya terdapat 4 populasi badak Sumatera dengan 10 sub-populasi kecil di Indonesia dan hanya ada satu populasi liar di Gunung Leuser yang masih cukup besar untuk dapat bertahan hidup secara alami. Asian Rhino Specialist Group (AsRSG) meyakini saat ini jumlah badak Sumatera hanya mencapai 34 sampai 47 individu. Berbeda dengan badak Jawa, tidak ada bukti terjadinya perburuan liar terhadap badak Sumatera selama 10 tahun terakhir. Namun tidak ditemukan pula bangkai badak Sumatera yang mati akibat sebab alami, sehingga hilangnya spesies ini di alam liar masih menjadi misteri.
Teknologi sebagai Harapan
Menyikapi semakin sedikitnya jumlah badak Jawa dan badak Sumatera, IPB dan Kementerian Kehutanan mengambil langkah dengan mengembangkan laboratorium Pusat Assisted of Reproductive Technology (ART) dan Biobank yang akan menjadi pusat penyimpanan informasi satwa liar, termasuk badak Jawa dan badak Sumatera. Biobank sendiri telah menjadi bagian dari implementasi Rencana Aksi Darurat (RAD) Penyelamatan Badak Sumatera sejak tahun 2019.
Penggunaan bioteknologi sebagai bagian dari upaya konservasi sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, teknologi seperti transfer embrio dan kloning telah sukses menyelamatkan badak putih utara di Kenya dan musang kaki hitam di Amerika Serikat. Dengan tujuan yang sama, IPB saat ini tengah mengumpulkan sperma, sel telur, dan sel kulit badak Sumatera untuk dikembangkan menjadi sel punca yang memungkinkan reproduksi meskipun tanpa pasangan badak yang hidup atau subur. Selain itu, IPB juga bekerja sama dengan Osaka University dan beberapa museum di Eropa guna mengakses frozen zoo, yaitu bank genetik yang menyimpan DNA atau sel badak dari masa lalu.
Strategi Konservasi di Masa Depan
Pengembangan ART dan biobank memberikan harapan baru bagi upaya konservasi badak Jawa dan badak Sumatera. Namun teknologi ini tidak akan berhasil tanpa peran aktif semua pihak. Selain menindak tegas perburuan liar, perlindungan terhadap habitat alami dan perluasan kawasan konservasi merupakan langkah krusial yang harus dilakukan. Pada akhirnya, pelestarian satwa liar bukan hanya tanggung jawab ilmuwan atau lembaga konservasi, tapi merupakan tugas bersama semua pihak untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Editor: Abul Muamar

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest