Mengakui Alam sebagai Seniman untuk Dukung Konservasi Keanekaragaman Hayati
Foto: Lino di Unsplash.
Perubahan iklim, yang diakibatkan oleh ulah manusia, mengancam keberadaan setiap makhluk di Bumi. Lantas, berbagai proyek konservasi muncul untuk melindungi ekosistem planet Bumi dan segala isinya. Salah satu upaya yang unik adalah inisiatif Sounds Right, mengakui alam sebagai seniman musik dan menyalurkan royalti streaming untuk perlindungan keanekaragaman hayati.
Menurunnya Populasi Satwa Liar
Laporan WWF pada tahun 2024 menyebut bahwa populasi satwa liar telah menurun rata-rata 73% hanya dalam kurun waktu 50 tahun (1970-2020). Aktivitas manusia menjadi pendorong utama penurunan ini, menyebabkan hilangnya habitat dan degradasi ekosistem akibat pemanenan berlebihan. Di samping itu, spesies invasif, penyakit, dan perubahan iklim juga turut berkontribusi.
Penurunan populasi satwa liar yang signifikan dapat mendorong alam ke titik kritis yang membawa bencana. Untuk menghentikan krisis ini, upaya konservasi yang efektif diperlukan untuk menstabilkan atau meningkatkan beberapa populasi satwa liar. Namun, upaya tersebut tidaklah murah. Melindungi keanekaragaman hayati dan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh manusia membutuhkan sekitar $700 miliar per tahun hingga tahun 2030. Sayangnya, pendanaan untuk upaya konservasi di seluruh dunia masih belum memadai.
Sounds Right: Alam sebagai Seniman
Di antara sekian banyak mekanisme pendanaan, inisiatif Sounds Right muncul dengan cara yang unik. Inisiatif musik dari UN LIVE ini bertujuan untuk mengakui nilai alam dengan menjadikannya seniman musik dan menyalurkan royalti streaming untuk perlindungan keanekaragaman hayati.
Sounds Right terinspirasi oleh gerakan sebelumnya pada tahun 2019, ketika UN LIVE menyatukan beragam seniman, guru, pembela lingkungan, pendeta, dan aktivis di Bogotá, Kolombia, untuk mengeksplorasi cara-cara kreatif dalam melibatkan masyarakat dalam konservasi alam. Mereka menciptakan kolektif musik bernama ‘VozTerra’ untuk mengekspresikan urgensi perlindungan lingkungan. VozTerra kemudian mencetuskan ide tentang kerja sama dengan Alam sebagai seniman yang berhak mendapatkan royalti, dan dari situ lahirlah Sounds Right.
Dengan Sounds Right, “NATURE” (Alam) terdaftar sebagai artis di berbagai platform streaming musik. Musik ini menampilkan suara-suara alami murni atau musik karya seniman manusia yang mencantumkan NATURE sebagai kontributor dalam lagu-lagu mereka. Inisiatif ini telah menghasilkan lebih dari 187 juta streaming dan 14 juta pendengar. NATURE menerima 50% dari royalti pascadistribusi, yang akan digunakan untuk konservasi dan pemulihan keanekaragaman hayati.
Pada tahun 2024, NATURE berhasil mengumpulkan dana sebesar 225.000 dolar AS. Dana tersebut kemudian dialokasikan untuk empat program konservasi di Andes Tropis, yakni Reserva Natural La Planada, Fundación Proyecto Tití, FundaExpresion, dan Jacana Jacana. Pada tahun 2025, pendapatan dari NATURE akan dialokasikan untuk area-area penting yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk yang berada di Cekungan Amazon dan Kongo.
Mengakui Alam sebagai Entitas
Berbagai upaya serupa juga berlangsung di berbagai belahan dunia. Inisiatif “Future Sound of Nature” oleh dua seniman elektronik, Eli Goldstein dan Lola Villa, mengalokasikan 20% pendapatan dari setiap rilisan untuk proyek konservasi habitat yang ditampilkan dalam rekaman mereka. Rilisan pertama label ini adalah EP berjudul Amazonía, dengan sebagian royalti diberikan langsung kepada komunitas Bora di Peru dan Kolombia.
Pada tahun 2024, sebuah petisi hukum diajukan ke kantor hak cipta Ekuador oleh proyek More Than Human Life (Moth) untuk mengakui hutan Los Cedros sebagai salah satu pencipta lagu ‘The Song of the Cedars’. Lagu tersebut digubah oleh musisi Cosmo Sheldrake, penulis Robert Macfarlane, ahli mikologi lapangan Giuliana Furci, dan pakar hukum César Rodríguez-Garavito dalam sebuah kunjungan lapangan ke Ekuador.
Konsep mengakui alam sebagai entitas bukan hanya sebatas soal seni. Ada Hak Alam, sebuah kerangka hukum yang mengakui hak-hak intrinsik alam, termasuk ekosistem dan spesies, serta memberikan standar perlindungan yang sama seperti yang diberikan kepada manusia dan korporasi. Selain itu, ada pula ekosipasi, konsep emansipasi ekologis yang mengakui alam sebagai subjek yang setara dengan manusia, termasuk sebagai subjek hukum dan politik.
Mengatasi Kesenjangan
Kehidupan kita di Bumi saling berkelindan satu sama lain—melintasi batas, jarak, dan bahkan spesies. Oleh karena itu, melindungi keanekaragaman hayati sangatlah penting karena merupakan komponen kunci kesehatan planet Bumi. Sounds Rights dan inisiatif serupa lainnya berperan sebagai sumber alternatif untuk membantu menutup kesenjangan pendanaan bagi perlindungan keanekaragaman hayati. Dana yang dihasilkan dari inisiatif-inisiatif ini dapat mendukung berbagai proyek dan program konservasi, terutama yang dipimpin oleh komunitas dan akar rumput.
Namun pada akhirnya, mengatasi kesenjangan ini membutuhkan upaya yang lebih besar dari pemerintah di seluruh dunia. Ini termasuk memberlakukan peraturan serta memperkuat penegakan hukum yang mengatasi akar penyebab penurunan keanekaragaman hayati, seperti pembangunan yang tidak bertanggung jawab dan perburuan liar. Pemerintah juga harus mengembangkan kebijakan yang mendukung proyek konservasi, termasuk dengan mendorong kerja sama antara negara, sektor swasta, dan masyarakat lokal, serta memperluas pendanaan dan sumber daya melalui investasi hijau.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Jika Anda menilai konten ini bermanfaat, dukung gerakan Green Network Asia untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan melalui pendidikan publik dan advokasi multi-stakeholder tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia dan dunia. Dapatkan manfaat khusus untuk pengembangan pribadi dan profesional Anda.
Jadi Member Sekarang
Perkembangan dan Tantangan Produksi Hidrogen Hijau di Indonesia
Membangun Ketahanan terhadap Panas di Tengah Meningkatnya Risiko di Asia-Pasifik
Komunitas Tuli dan Keberlanjutan: Mengubah Hambatan menjadi Modal Sosial untuk Pembangunan Inklusif
Melibatkan Masyarakat Pesisir dalam Menangani Polusi Jaring Hantu di Laut
Negara Bagian Victoria Sahkan RUU Perjanjian Pertama Australia dengan Masyarakat Adat
Mengatasi Pengangguran Disabilitas: Eksklusi Sistemik dan Diskriminasi yang Terus Berlanjut