Unmul Luncurkan Pusat Kolaborasi One Health untuk Antisipasi Dampak Deforestasi
Foto: Wirestock di Freepik.
Maraknya pembangunan seiring peningkatan populasi manusia telah mendorong kerusakan ekosistem dan penyusutan habitat di berbagai tempat. Sebagai akibatnya, interaksi manusia dan satwa liar pun semakin meningkat dan memperparah risiko penyebaran zoonosis dan penyakit infeksi emerging (emerging infectious disease). Oleh karena itu, pendekatan One Health merupakan hal krusial untuk memastikan kesehatan bagi seluruh makhluk hidup dan lingkungan. Terkait hal ini, Universitas Mulawarman (Unmul) meluncurkan Pusat Kolaborasi One Health untuk meminimalisir berbagai potensi penyakit zoonosis, terutama akibat deforestasi yang marak terjadi di Kalimantan Timur.
Deforestasi dan Meningkatnya Ancaman Penyakit Zoonosis
Deforestasi di Indonesia terus terjadi dari tahun ke tahun. Menurut data Auriga Nusantara, Indonesia mengalami deforestasi seluas 257.384 hektare pada tahun 2023, meningkat dibandingkan pada 2022 yakni 230.760 hektare. Dari seluruh deforestasi yang terjadi, Pulau Kalimantan adalah penyumbang terbesar dengan 124.611 hektare. Di Kalimantan Timur sendiri, hutan menyusut seluas 28.633 hektare.
Laporan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau National Aeronautics and Space Administration (NASA), yang diambil pada 26 April 2022 dan 19 Februari 2024 juga menunjukkan perbedaan perubahan wajah wilayah Kalimantan Timur, khususnya di wilayah Ibu Kota Negara (IKN) sejak musim panas 2022.
Selain menyebabkan berbagai masalah lingkungan dan membuat keanekaragaman hayati menderita, deforestasi juga mendorong penyebaran berbagai penyakit zoonosis seperti malaria, demam berdarah, virus marburg, pes, dan lain sebagainya. Secara umum, deforestasi pada abad ini meningkatkan risiko penyebaran zoonosis pada tingkat yang relatif lebih tinggi dibandingkan abad-abad sebelumnya.
Penyebaran penyakit zoonosis telah menghadirkan ancaman signifikan bagi kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dan menjadi beban kesehatan nasional yang cukup besar dari waktu ke waktu. Di Kalimantan Timur, salah satu ancaman penyakit zoonosis yang cukup serius adalah malaria. Hal ini dikarenakan persebaran nyamuk anopheles yang masih tinggi, sehingga membuat sejumlah daerah di provinsi ini menghadapi endemi malaria.
Unmul Luncurkan Pusat Kolaborasi One Health
Pendekatan One Health mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berhubungan dan menekankan upaya kolaboratif di antara para profesional kesehatan manusia, hewan, dan, lingkungan, serta para pembuat kebijakan untuk mengatasi tantangan kesehatan yang kompleks secara efektif. Dengan mengintegrasikan pengetahuan dan keahlian dari berbagai disiplin ilmu, pendekatan One Health dapat menjadi langkah untuk mencegah dan mengendalikan penyakit zoonosis pada sumbernya, sehingga mengurangi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, keanekaragaman hayati, dan lingkungan.
Pusat Kolaborasi One Health atau One Health Collaborating Center (OHCC) Universitas Mulawarman (Unmul) diluncurkan pada 29 Agustus 2024. OHCC ini bertujuan sebagai wadah kolaboratif untuk merangkul seluruh pemangku kepentingan di wilayah Kalimantan Timur dalam memperkuat kesehatan masyarakat, khususnya terkait ancaman penyebaran zoonosis di masa mendatang.
Peluncuran OHCC Unmul ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Indonesia One Health University Network (INDOHUN). OHCC ini didirikan di bawah Fakultas Kedokteran berkolaborasi dengan INDOHUN dalam proyek One Health Workforce-Next Generation (OHW-NG), dan didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). Unmul menjadi perguruan tinggi kedelapan di Indonesia yang meluncurkan OHCC setelah Universitas Airlangga, Universitas Syiah Kuala Aceh, Universitas Udayana Bali, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Hasanuddin Makassar, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Cendrawasih Papua.
“Kalimantan Timur dikenal dengan hutan hujan tropis dan keanekaragaman hayati yang penting bagi keseimbangan ekosistem. Namun, pemindahan ibu kota negara ke wilayah ini menimbulkan perhatian terhadap tata air, perubahan iklim, flora dan fauna, serta pencemaran lingkungan. Deforestasi dan fragmentasi habitat meningkatkan risiko penularan penyakit seperti malaria dengan mengubah habitat vektor nyamuk,” kata Rektor Unmul, Profesor Abdunnur. “Oleh karena itu, keberadaan OHCC UNMUL diharapkan menjadi wadah kolaboratif yang merangkul seluruh cakupan Kalimantan Timur, termasuk daerah prioritas seperti Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara. Wadah ini juga diharapkan menjadi think tank pemerintah lokal dalam mitigasi kemunculan zoonosis, perubahan iklim, deforestasi, dan lainnya yang akan berdampak signifikan terhadap ekosistem.”
Kolaborasi Atasi Dampak Deforestasi
Pendekatan One Health menjadi semakin penting di tengah meningkatnya risiko penyebaran zoonosis akibat kerusakan lingkungan, yang mendorong peningkatan interaksi antara manusia dan spesies liar, termasuk di Kalimantan Timur yang sedang menghadapi pembangunan masif dari pemerintah yang banyak mengalihfungsikan hutan. Namun, mengingat implementasinya yang relatif masih terbatas, One Health perlu ditingkatkan dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor, antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan lainnya.
Dan pada akhirnya, mengatasi penyebaran zoonosis tidak cukup dengan membangun OHCC saja, melainkan membutuhkan upaya pencegahan yang lebih masif, terutama dengan menghentikan deforestasi dan melakukan restorasi kawasan hutan dan habitat yang telah rusak. Dalam hal ini, mengantisipasi dan mengatasi deforestasi membutuhkan upaya komprehensif, koheren, dan berkelanjutan dalam pengelolaan hutan, perlindungan satwa, pemanfaatan keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan komunitas.
Editor: Abul Muamar

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan