Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Foto: Shyamli Kashyap di Unsplash.
Seiring meningkatnya tekanan terhadap pasokan air tawar dunia, muncul seruan yang semakin kuat untuk melindungi sumber daya kunci yang kerap luput dari perhatian: air tanah. Cadangan air tanah menjadi penopang utama ketersediaan air tawar dalam jumlah besar untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor-sektor vital seperti pertanian dan manufaktur. Sayangnya, air tanah terus menyusut dengan laju yang mengkhawatirkan. Di tengah ketiadaan tata kelola yang memadai, komunitas lokal di berbagai belahan dunia mulai bergerak secara mandiri untuk membendung percepatan penyusutan air tanah.
Penyusutan Air Tanah
Air tanah adalah air yang secara alami tersimpan di zona akuifer di bawah permukaan bumi, mengisi ruang di antara tanah dan batuan. Sekitar 50% penduduk perkotaan dunia dan lebih dari 90% penduduk pedesaan bergantung pada cadangan air tanah. Secara alami, air tanah diperbarui melalui hujan atau lelehan salju. Belakangan, upaya buatan manusia seperti kolam resapan dan sumur injeksi juga diterapkan.
Namun, kekhawatiran terkait perubahan iklim dan maraknya pembangunan infrastruktur mendorong ancaman penyusutan air tanah dalam waktu dekat. Di berbagai belahan dunia—mulai dari Amerika Serikat, Timur Tengah, hingga Afrika Selatan—kota-kota menghadapi sumur dan akuifer yang mengering. Masyarakat di berbagai belahan dunia menghadapi krisis air dengan berbagai tingkat keparahan, dengan kelompok dan kawasan rentan menanggung dampak yang tidak proporsional terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Lebih jauh, penggunaan air tanah secara berlebihan dapat menimbulkan dampak yang bersifat katastropik bagi planet Bumi. Salah satunya adalah land subsidence, yakni penurunan permukaan tanah akibat berkurangnya kandungan air secara drastis. Ekstraksi berlebihan juga dapat memicu pencemaran akuifer, karena perubahan tekanan dan aliran air memungkinkan zat berbahaya seperti arsenik dan nikel merembes dari lingkungan sekitarnya. Selain itu, ketika pengisian ulang air tanah dilakukan dengan mengalirkan air dari sungai atau danau tanpa pengelolaan yang tepat, badan air tersebut juga akan terdampak.
Upaya Akar Rumput di Berbagai Belahan Dunia
Di berbagai belahan dunia yang mengalami tekanan air yang parah, inisiatif yang dipimpin komunitas lokal berada di garis depan perubahan. Salah satu contohnya di Yaman, di mana air tanah dipompa hampir dua kali lipat dari tingkat pengisian ulang alaminya.
Merespons krisis, banyak petani kecil mulai memimpin upaya mereka sendiri. Mereka mengurangi budidaya pisang yang dikenal membutuhkan air dalam jumlah besar. Mereka juga mulai mengendalikan pengeboran sumur bor dan menekankan pentingnya pembangunan sumur dalam. Kini, banyak sumur dimiliki secara bersama dan digunakan untuk berbagai keperluan, baik pertanian maupun domestik. Praktik ini memastikan bahwa kerja sama antar komunitas menjadi prioritas utama.
Sementara itu, di Iran, dimana tingkat ekstraksi air tanah melebihi rata-rata, komunitas-komunitas kecil kembali mempraktikkan apa yang dulu dilakukan leluhur mereka dalam pengelolaan lahan dan air sebagai solusi. Banyak dari mereka yang kembali menggunakan sistem qanat, yakni terowongan bawah tanah di kaki pegunungan yang memanfaatkan gravitasi untuk menyalurkan air ke permukiman. Sistem ini membantu menekan laju penguapan sekaligus mengurangi risiko pencemaran. Selain itu, terdapat pula inisiatif untuk menyesuaikan jenis tanaman dengan ketersediaan air guna memaksimalkan efisiensi.
Seruan untuk Perluasan Skala dan Intervensi Sistemik
Pada dasarnya, gerakan akar rumput semacam ini membentuk jenis pasar air lokal alternatif. Ketika semakin kolektif, gerakan ini berpotensi memengaruhi lembaga pemerintahan yang lebih besar. Hal ini seharusnya mendorong kolaborasi sistemik antara tradisi lokal dan institusi formal. Di samping itu, inisiatif akar rumput juga berkontribusi pada kajian dan penelitian akademik yang bertujuan membangun kerangka pengelolaan air tanah yang lebih berkelanjutan.
Seiring meningkatnya kebutuhan air yang membebani industri dan pemerintah, negara-negara di seluruh dunia mulai memberi perhatian pada sumber daya yang esensial ini. Pada 2022, PBB menyelenggarakan KTT tentang Air Tanah yang pertama, sekaligus mengangkat isu ini ke panggung global. Isu air tanah kembali ditegaskan sebagai prioritas dalam COP28 PBB pada 2023.
Pada akhirnya, dengan pemantauan air tanah yang semakin baik serta kerjasama publik–swasta, pemulihan cadangan dan sumur air tanah bukanlah hal yang mustahil. Mulai dari peningkatan kesadaran dan intervensi kebijakan, hingga menghidupkan kembali praktik kuno dan mengembangkan teknologi baru, para pemangku kepentingan di semua tingkatan dapat berkolaborasi untuk menemukan solusi.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global