Paparan Merkuri pada Burung: Sinyal Bahaya bagi Manusia dan Lingkungan
Foto: Ron Binette di Unsplash.
Keberadaan dan kondisi satwa liar di alam merupakan penanda kualitas lingkungan hidup. Lingkungan yang sehat biasanya menaungi berbagai spesies, mulai dari berbagai jenis burung, reptil, hingga serangga. Sayangnya, aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab telah menimbulkan berbagai ancaman terhadap satwa liar, termasuk berupa kebocoran bahan kimia dan zat berbahaya seperti merkuri ke lingkungan. Terkait hal ini, sebuah penelitian menunjukkan bagaimana dampak paparan merkuri terhadap burung mempengaruhi kondisi kesehatan lingkungan yang lebih luas.
Bahaya Merkuri
Merkuri adalah unsur kimia berupa logam berat bersifat toksik. Secara alami, merkuri dilepaskan melalui aktivitas vulkanik dan pelapukan batuan. Selain itu, sumber utama pelepasan merkuri di lingkungan berasal dari aktivitas manusia, seperti pembakaran batu bara dan penambangan emas yang menggunakan merkuri untuk memisahkan emas dari material lainnya. Di lingkungan, merkuri dapat bertahan lama dan berubah menjadi zat yang lebih berbahaya, seperti metilmerkuri, yang mudah diserap oleh organisme hidup dan terakumulasi dalam rantai makanan.
Paparan merkuri berdampak serius bagi manusia dan satwa liar, terutama karena sifatnya yang neurotoksik dan kemampuannya mengganggu sistem saraf, fungsi fisiologis, serta kesehatan reproduksi. Di Indonesia, risiko paparan merkuri relatif tinggi, seiring masih maraknya pertambangan emas skala kecil serta pengendalian yang belum optimal. Pada tahun 2019, aktivitas pertambangan emas skala kecil tersebar di lebih dari 1.200 lokasi di Indonesia, termasuk di sejumlah kawasan taman nasional, cagar alam, dan area konservasi.
Paparan Merkuri pada Burung
Dampak pencemaran merkuri dapat tercermin pada kualitas tanah dan perairan, serta pada organisme hidup seperti satwa liar yang berada di dalam ekosistem tersebut. Sebuah studi dari Nexus3 Foundation menganalisis paparan merkuri pada burung di sekitar area pertambangan emas skala kecil di wilayah Sumatera Utara dan Jawa Barat. Studi tersebut mengidentifikasi 114 individu burung dari 30 spesies di Sumatera Utara, serta 37 individu burung dari 17 spesies di Jawa Barat, dengan pengambilan sampel biologis dari bulu dan darah burung di lokasi yang berdekatan dengan area pertambangan emas skala kecil untuk melihat indikasi paparan merkuri.
Analisis dalam studi tersebut menunjukkan bahwa paparan merkuri pada burung lebih tinggi di area yang berdekatan dengan pertambangan emas skala kecil dibandingkan dengan wilayah yang aktivitas tambang emasnya lebih rendah. Lebih lanjut, ditemukan adanya penurunan tingkat keberhasilan reproduksi pada burung yang terpapar merkuri. Hal tersebut menunjukkan bahwa paparan merkuri dapat berdampak lebih jauh pada risiko menurunnya populasi burung. Selain itu, kelompok burung karnivor teridentifikasi memiliki potensi lebih tinggi untuk terpapar karena penumpukan kadar merkuri dalam rantai makanan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa merkuri yang digunakan dalam proses pertambangan telah lepas atau bocor ke lingkungan dan meningkatkan paparan pada satwa liar di sekitarnya. Keberadaan merkuri dalam tubuh burung menekankan bahwa pencemaran tidak hanya terjadi pada media lingkungan, tetapi juga telah masuk ke dalam jaringan biologis makhluk hidup. Temuan ini menjadi sinyal bahwa risiko pencemaran dapat menyebar lebih cepat dan berpotensi memengaruhi ekosistem yang lebih luas.
Memperkuat Pengawasan
Paparan merkuri pada burung menggarisbawahi perlunya penguatan pengendalian penggunaan zat berbahaya di lingkungan. Temuan studi tersebut menggarisbawahi perlunya memperkuat pengawasan lapangan, pemantauan lingkungan, serta pemulihan wilayah terdampak, terutama di daerah dengan paparan tinggi. Data biomonitoring satwa liar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendukung kebijakan, termasuk dalam memperluas kawasan lindung sebagai upaya peningkatan konservasi ekosistem. Selain itu, upaya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai risiko paparan zat berbahaya seperti merkuri, bersama dorongan terhadap praktik dan alternatif yang lebih aman, merupakan hal yang perlu terus didorong untuk mengurangi risiko paparan serta dampaknya terhadap kesehatan lingkungan dan masyarakat.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Bagaimana Perilaku Manusia Menjadi Mesin Utama Aksi Keberlanjutan
Meningkatkan Peran Komunitas Lokal dalam Mengatasi Masalah Sampah Laut
Menilik Dampak Masifnya Pembangunan Pusat Data
Menyoal Biaya Visum Korban Kekerasan Seksual yang Tidak Ditanggung Negara
Memprioritaskan Pembiayaan untuk Alam demi Ekosistem yang Sehat dan Tangguh
Menilik Arah Baru Kebijakan Pariwisata Indonesia