Kebakaran Hutan dan Perburuan Satwa Liar Ancam Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Khao Yai

Foto: Freepik.
Perburuan satwa liar merupakan isu besar di seluruh dunia, yang bukan hanya sekadar pembunuhan hewan. Dalam banyak kasus, perburuan satwa liar juga melibatkan pembakaran hutan. Masalah ini semakin diperparah oleh kekeringan akibat perubahan iklim, sehingga meningkatkan potensi dan intensitas kebakaran hutan. Di Thailand, kebakaran hutan dan perburuan satwa liar menimbulkan ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati Taman Nasional Khao Yai.
Taman Nasional Khao Yai
Taman Nasional Khao Yai, bagian dari Kompleks Hutan Dong Phayayen-Khao Yai, merupakan situs Warisan Dunia UNESCO. Taman ini dikenal karena keanekaragaman hayati dan peran ekologisnya yang luar biasa. Berdiri pada tahun 1962 sebagai taman nasional pertama di Thailand, taman ini membentang seluas 2.168 kilometer persegi di empat provinsi: Nakhon Ratchasima, Saraburi, Prachinburi, dan Nakhon Nayok.
Khao Yai merupakan rumah bagi lebih dari 2.500 spesies tumbuhan dan lebih dari 800 spesies hewan, termasuk satwa liar yang terancam punah. Sayangnya, kawasan konservasi yang kaya akan sumber daya alam dan warisan budaya ini menghadapi ancaman yang semakin meningkat.
Kebakaran Hutan dan Perburuan Satwa Liar
Ancaman utama berupa kebakaran hutan di kawasan tersebut. Pada 3 Januari 2025, kebakaran hebat terjadi di belakang Wat Udomsuk di Phaya Yen, dekat Taman Nasional Khao Yai. Kebakaran tersebut membakar sekitar 200 rai (32 hektare) hutan.
Kebakaran lainnya terjadi pada 5 Januari di Ban Hua Krok, menyebar ke area Cagar Alam Khao Siad Ah dan mengancam area sekitarnya. Pada 7 Januari, angin kencang dan medan yang sulit dijangkau memperparah kobaran api, menghanguskan lebih dari 1.000 rai (160 hektare) hutan.
Pihak berwenang setempat menduga bahwa perburuan satwa liar ilegal berperan besar dalam peristiwa ini. Adanya bukti seperti selongsong peluru dan perangkap satwa liar menunjukkan bahwa pemburu sengaja membakar hutan untuk mengusir hewan dari hutan. Kondisi hutan yang kering dan angin kencang membuat api semakin sulit dikendalikan, sehingga dapat menyebar dengan cepat.
Meningkatkan Manajemen dan Mitigasi
Kebakaran hutan membahayakan banyak spesies yang bernaung di Taman Nasional Khao Yai. Perburuan dan kebakaran yang menggusur dan membunuh hewan-hewan juga merusak habitat mereka. Tidak hanya itu, hilangnya vegetasi juga mengganggu keseimbangan ekologi taman dengan mengurangi sumber makanan dan melemahkan kemampuannya untuk menyerap karbon.
Oleh karena itu, dibutuhkan serangkaian strategi komprehensif untuk melindungi Khao Yai, keanekaragaman hayati yang hidup di dalam dan di sekitarnya, serta orang-orang yang tinggal di dekat kawasan hutan tersebut. Salah satu kuncinya adalah membentuk tim tanggap kebakaran hutan dan merumuskan strategi yang secara efisien dapat mengirimkan petugas jika terjadi kebakaran hutan. Hal ini harus mencakup strategi evakuasi, jaminan pasokan air, dan dukungan tambahan seperti helikopter.
Selain itu, Khao Yai membutuhkan rencana pencegahan dan manajemen kebakaran hutan. Berinvestasi dalam sistem deteksi dini kebakaran hutan, melibatkan komunitas lokal, dan menerapkan hukuman yang lebih ketat terhadap perburuan liar adalah beberapa langkah ke arah yang benar. Tanpa tindakan proaktif, perburuan liar dan kebakaran hutan akan semakin merusak keanekaragaman hayati dan ekosistem Khao Yai yang menjadi tempat bernaung satwa liar dan sumber penghidupan masyarakat setempat.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia

Konten Publik GNA berupaya menginspirasi perubahan sosial skala besar dengan menyediakan pendidikan dan advokasi keberlanjutan yang dapat diakses oleh semua orang tanpa biaya. Jika Anda melihat Konten Publik kami bermanfaat, harap pertimbangkan untuk berlangganan GNA Indonesia. Langganan Anda akan menguntungkan Anda secara pribadi dan profesional sekaligus mendukung keberlanjutan finansial GNA untuk terus memproduksi konten-konten yang tersedia untuk umum ini.